
Mereka bertiga sedang menikmati makan siang mereka, kali ini Edward di paksa Charlotte untuk duduk bersama mereka berdua.
"Setelah ini anda berdua ingin kemana ?" tanya Edward yang lebih dulu menghabiskan makan siang nya.
"Kita langsung pulang saja Edward." Laura lebih dulu menjawab.
Edward mengangguk mengerti. "Baik Nona Laura."
Tiba-tiba muncul banyak pria berjas hitam dari pintu masuk restoran, perhatian mereka pun teralihkan.
"Ada apa ini ? siapa mereka ? kenapa mereka banyak sekali ?" Charlotte penasaran sampai menghentikan makannya.
"Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak ?" Gumam Laura.
"Mereka pengawal pribadi Pangeran Albert." Edward mengenali wajah pria pria itu yang merupakan anggota tim nya saat belum bertugas mengawal Laura.
"Maksudmu Pangeran Albert datang ke sini ?" tanya Charlotte penasaran pada Edward.
Pertanyaan Charlotte belum sempat di jawab oleh Edward, Pangeran Albert telah muncul di pintu masuk restoran melangkah dengan penuh percaya diri masuk ke dalam restoran.
Laura gugup tanpa sadar menelan ludah melihat Pangeran Albert melangkah mendekati meja tempat mereka sedang makan.
Orang-orang yang sedang makan siang di restoran itu menatap heran sekaligus penasaran pada mereka, kehadiran Pangeran Albert di restoran itu sungguh menarik perhatian semua orang.
Edward refleks berdiri memberi hormat pada Pangeran Albert yang melangkah mendekat.
"Maaf, sepertinya aku menggangu makan siang kalian." Kata Pangeran Albert ketika telah sampai di hadapan mereka.
Tersadar karena berlaku tidak sopan, Laura dan Charlotte berdiri dari kursinya menekuk lutut memberi hormat pada Pangeran Albert.
"Yang Mulia."
"Pangeran Albert."
Laura dan Charlotte menyapa bersama.
"Tidak Yang Mulia, Yang Mulia tidak menggangu makan siang kami." Ucap Charlotte tersenyum.
Laura hanya diam tidak berkomentar, menatap penasaran ke arah Pangeran Albert.
Dari mana dia tahu kalau kami bertiga makan siang di restoran ini ?
__ADS_1
"Kamu sudah selesai makan siang Ara ?" tanya Pangeran Albert.
"Sudah Yang Mulia."
"Kalau begitu kita kembali sekarang." Perintah Pangeran Albert.
Pangeran Albert kemudian menoleh pada Edward. "Edward kamu antar kembali Nona ini kemudian kembali ke istana." Perintah Pangeran Albert menyuruh pengantar Charlotte pulang.
"Baik Yang Mulia." Patuh Edward.
Pangeran Albert melangkah menuju pintu keluar di susul Laura yang sedikit menundukkan wajahnya karena perhatian orang-orang pada mereka membuatnya tidak nyaman.
Pengawal membukakan pintu mobil untuk Pangeran Albert dan Laura masuk setelah nya mobil bergerak pergi meninggalkan gedung restoran.
Di dalam mobil Pangeran Albert hanya diam menatap ke depan tidak menghiraukan keberadaan Laura di sampingnya.
Laura pun memilih untuk diam sambil menatap keluar melalui kaca jendela mobil.
Mobil memasuki gerbang komplek istana kerajaan, istana kediaman Pangeran Albert berada di arah barat. Mobil pun berhenti di depan pintu masuk istana tempat Pangeran Albert.
Belum juga bersuara Pangeran Albert keluar dari dalam mobil langsung masuk ke dalam istana dan kembali Laura menyusul dari belakang. Pangeran Albert langsung menuju ruang kerjanya.
"Duduklah Ara, ada yang ingin ku tanyakan padamu." Pangeran Albert akhirnya bersuara, berjalan menuju sofa yang berada di tengah ruangan itu.
"Kalau boleh tahu apa yang ingin Yang Mulia tanya kan padaku ?" Laura memberanikan bertanya walaupun dia sudah mengira ngira apa yang ingin di tangankan Pangeran Albert.
"Tadi pagi Edward datang menemuiku, memberitahu kalau kamu tidak bisa datang ke istana untuk belajar tata krama karena sedang kurang enak badan." Pangeran Albert mulai berkata.
"Betul Yang Mulia."
"Lalu kenapa kamu bisa berada di luar sejak pukul sepuluh pagi hingga siang hari dan masih menyempatkan diri untuk makan siang di luar ?"
Rahang Pangeran Albert menegang menandakan dirinya sedang menahan emosinya. Laura berusaha terlihat santai walaupun sebenarnya dirinya mulai ketakutan.
"Aku kurang enak badan sejak bagun tidur tadi pagi tapi sudah agak mendingan setelah tidur kembali beberapa jam. Sahabat ku Charlotte datang ke rumah dan mengajak aku untuk keluar dan kebetulan aku juga ingin membeli beberapa buku jadi aku menyetujui keinginannya untuk keluar.
"Karena aku yang terlalu lama memilih buku jadi kami memutuskan untuk sekalian makan siang di luar." Laura menjelaskan.
"Betulkah seperti itu ?" Pangeran Albert belum percaya.
"Iya Yang Mulia, aku tidak berbohong."
__ADS_1
"Kalau memang perasaanmu sudah agak mendingan kenapa wajah mu terlihat seperti pucat dan tampak kelelahan ?"
Mendengar perkataan Pangeran Albert, refleks Laura memegang wajahnya.
"Kamu memaksa kan dirimu keluar dengan alasan menemani sahabat mu. Ara, aku tidak bisa mengontrol dan mengawasi diri mu karena kita berjauhan walaupun ada Edward bersama mu yang selalu melaporkan kegiatan mu.
"Bahkan cincin pertunangan yang kamu pakai itu pun tidak bisa membantu ku."
"Kenapa dengan cincin ini Yang Mulia ?" Karena penasaran Laura refleks memotong pembicaraan Pangeran Albert.
"Di dalam cincin mu itu ku beri alat pelacak jadi di mana pun kamu berada aku akan mengetahui keberadaan mu."
Laura memasang ekspresi wajah tidak percaya begitu mendengar perkataan Pangeran Albert.
"Harus sampai seperti itu kah ?"
"Tentu harus seperti itu karena kamu berada jauh dari ku, bahaya juga bisa saja mengancam dirimu dengan memakai itu setidaknya sedikit memberi keamanan untuk dirimu dan membuat ku sedikit tenang."
"Sepertinya hal itu terlalu berlebih Yang Mulia, bukankah sudah ada Edward yang selalu bersamaku ? tentang bahaya yang anda katakan seperti nya hal itu juga tidak mungkin terjadi. Bahaya apa yang bisa mengancamku ?"
"Kamu sekarang sudah menjadi salah satu anggota keluarga kerajaan, menjadi sasaran target kejahatan tentu saja bisa terjadi. Jangan kamu pandang enteng akan hal itu Ara." Kata Pangeran Albert penuh ketegasan.
Laura terdiam menunduk mendengar perkataan Pangeran Albert, dirinya tidak pernah berpikir sampai ke situ.
"Sepertinya lebih mudah mangawasi mu jika kamu tinggal bersamaku di istana ini." Ucap Pangeran Albert tiba-tiba.
Laura refleks terkejut mengangkat wajahnya, kembali memasang wajah tak percaya. Sungguh dirinya ngeri mendengar perkataan Pangeran Albert.
Laura menggeleng kepala. "Sepertinya itu bukan ide bagus Yang Mulia, lagian kita belum menikah kenapa aku harus tinggal di sini bersama anda ?"
"Jangan takut Ara, kita tidak akan tidur sekamar dalam istanan ini masih banyak kamar yang kosong. Kamu bisa pilih kamar yang mana yang ingin kamu tempati. Kita sudah bertungan dan pasti akan menikah jadi wajar jika kita bersama. Aku akan memberi tahu Ayahanda dan Ibunda tentang hal ini, mereka pasti menyetujui keputusan ku ini."
"Yang mulia, aku rasa ini terlalu berlebih." Protes Laura.
"Hal ini sudah aku putuskan."
Laura mulai panik, terbayang kan di benaknya bagaimana hidup nya nanti.
"Kenapa Yang Mulia harus mengekang hidup ku, wanita yang hanya berstatus tunangan tapi tidak penting di mata Yang Mulai. Kita bahkan belum menikah tapi kenapa Yang Mulia sudah mengatur hidup ku ?" Laura berkata dengan panik menaikkan sedikit nada suaranya.
Laura tersadar perkataannya terdengar kasar begitu melihat rahang Pangeran Albert mengeras, ekspresi wajahnya terlihat kaku.
__ADS_1
"Aku menganggap tidak mendengar perkataan mu tadi. Kamu pulang lah beritahu orang tua mu tentang keputusan ku, aku akan menyuruh pengawal lain mengantar mu pulang karena sepertinya Edward belum kembali dari mengantar sahabat mu."