
Laura terbangun mendengar suara alarm jam yang berada di nakas samping tempat tidur. Membuka mata dan bingung sesaat dengan keadaan kamar tempatnya terbangun.
"Aku baru ingat kalau sekarang tinggal di istana Pangeran Albert." Gumam Laura dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Bergerak untuk mematikan suara alarm jam yang terus berbunyi.
"Di sini aku tidak bisa bermalasan untuk bangun pagi." Keluh Laura bergerak keluar dari balik selimut hendak turun dari tempat tidur.
Pagi itu menunjukan waktu pukul enam lewat tiga puluh menit, Laura bergerak menuju meja rias dan duduk di kursi merapikan rambut nya yang berantakan sehabis mandi.
Tok tok tok
Ketukan pintu dari luar kamar.
"Masuk !." Seru Laura membalas.
Menatap dari pantulan cermin ketika pintu kamar terbuka, beberapa pelayan muncul dari balik pintu.
"Nona Laura, pagi ini kami bertugas untuk melayani anda." Salah satu pelayan memberitahu maksud kedatangan mereka.
"Iya."
"Kami akan menyiapkan air mandi dan merapikan kamar anda." Ucap salah satu pelayan memberi tahu yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Laura.
Mereka semua langsung bergerak bekerja, mengerjakan tugas mereka masing-masing. Laura menunggu pelayan yang bekerja menyiapkan air mandinya selesai mengisi bathub.
Pelayan muncul dari kamar mandi. "Air mandi anda sudah siap Nona Laura."
Laura berdiri dari kursinya. "Terimakasih."
"Sama-sama Nona, masih ada yang anda perlukan ? Anda perlu kami bantu untuk berpakaian ?"
Laura menggeleng kan kepala. "Tidak perlu, kalian boleh pergi. Aku bisa berpakaian sendiri tidak perlu bantuan kalian."
"Baik Nona, kalau begitu kami permisi dulu."
"Tunggu dulu." Laura tiba-tiba berkata, menghentikan langkah para pelayan itu.
"Ada apa Nona ?" tanya salah satu pelayan.
"Sarapan pagi dan waktu makan siang juga makan malam di istana ini jam berapa ?"
"Sarapan pagi jam tujuh lewat tiga puluh, sedangkan makan siang seperti biasa pada umumnya jam dua belas siang dan waktu makan malam jam tujuh lewat tiga puluh." Pelayan menjelaskan.
"Terimakasih atas jawabannya." Ucap Laura dengan senyum ramah.
"Sama-sama Nona Laura." Balas mereka tersenyum ramah.
Laura menunggu mereka keluar kamar terlebih dahulu sebelum bergerak menuju kamar mandi, berdiri mengambil handphone nya terlebih dahulu sebelum melangkah menuju bathub yang berisi air hangat.
Meletakkan handphonenya di samping bathub kemudian melangkah masuk ke dalam bathub.
"Masih banyak waktu, aku bisa berendam sedikit lebih lama." Gumam Laura begitu tubuhnya menyentuh air hangat yang berada di dalam bathub.
Para pelayan itu bahkan menyalakan lilin aromatherapi dan meletakkannya di tepat di samping bathub tanpa Laura perintahkan.
"Hhmmm... sungguh nyaman." Gumam Laura kembali sambil menghela napas panjang.
Waktu berlalu tanpa di sadari Laura, melirik ke handphone nya ternyata dirinya telah berendam kurang lebih lima belas menit.
__ADS_1
"Sudah saat nya untuk keluar dan keramas." Gumam Laura, berdiri dan melangkah menuju tempat shower untuk keramas.
Di dalam kamar mandi tersusun rapi botol shampo yang biasa Laura gunakan.
Ternyata Pangeran Albert sedetail itu memperhatikan kebutuhan ku, sampai hal sekecil ini pun dia perhatikan.
Laura mengambil botol shampo dan mulai membersihkan rambut panjangnya. Kegiatan Laura di kamar mandi hampir memakan waktu tiga puluh menit. Selesai membersihkan diri, Laura keluar dengan memakai jubah mandi dan handuk di kepalanya membungkus rambut basah nya.
Berhenti di depan lemari pakaian yang berjejer rapi di ruang walking closet, memilih pakaian santai namun sopan.
"Andai Charlotte melihat semua pakaian ini, dia pasti akan menjerit kegirangan." Gumam Laura tersenyum geli.
Pakaian yang berjejer rapi di dalam lemari semuanya berasal dari rancangan desainer terkenal.
Di bagian lain di dalam ruangan terdapat lemari yang berisi sepatu dan tas yang berjejer rapi tentunya juga berasal dari merek ternama.
"Sungguh pemandangan yang pasti membuat Charlotte histeris kegirangan." Laura geleng-geleng kepala membayangkan tingkah Charlotte yang ceria.
Usai berpakaian dan memilih sepatu flat shoes yang santai namun sopan, Laura melangkah menuju meja riasnya.
Memakai riasan tipis di wajahnya dan menyanggul ke atas rambut panjangnya.
Merasa sudah siap, Laura keluar dari dalam kamar. Tata letak ruangan dalam istana Pangeran Albert belum di hapal oleh Laura. Karena belum mengetahui di mana letak ruang makan membuat Laura bertanya pada pelayan yang kebetulan sedang lewat di hadapannya.
"Bisa tunjukkan jalan ke ruang makan ?" tanya Laura.
"Tentu saja bisa Nona Laura." Jawab ramah Pelayan itu.
"Silahkan anda mengikuti ku." Tambah pelayan.
Laura berjalan mengikuti langkah pelayan yang berjalan di depannya. Melewati beberapa ruangan dan turun ke lantai bawah tapi bukan lantai satu karena lantai kamar Laura berada di lantai tiga.
"Ini ruang makan pribadi di istana ini Nona Laura, ruangan ini di gunakan hanya untuk keluarga kerajaan saja sedangkan untuk menjamu tamu yang datang ruangan nya tersendiri di lantai satu istana ini." Pelayan menjelaskan sebelum Laura bertanya.
"Begitu ternyata." Laura mengerti.
"Lalu di mana Pangeran Albert ?" Laura bertanya menambahkan.
"Yang Mulia akan segera turun, silahkan anda duduk sambil menunggu Yang Mulia." Jawab Pelayan ramah.
"Terimakasih, lanjut kembali pekerjaan mu."
"Baik Nona."
Pelayan pun pergi meninggalkan Laura sendiri di dalam ruangan. Laura mendekati meja makan dan menarik salah satu kursi yang berada di tengah tengah meja makan, duduk menunggu kedatangan Pangeran Albert.
"Dari tadi kamu menunggu ?" Suara Pangeran Albert terdengar.
Laura menoleh ke arah datangnya suara dari arah pintu. Pangeran Albert tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Baru saja Yang Mulia." Jawab Laura refleks berdiri dan balas tersenyum.
Pangeran Albert menarik kursi yang berada tepat di samping kanan kepala meja.
"Duduklah di sini Laura." Pinta Pangeran Albert.
Laura pun bergerak menuju kursi yang di tarik Pangeran Albert.
__ADS_1
"Terimakasih." Ucap Laura sebelum duduk.
"Sama-sama Ara." Balas Pangeran Albert sambil mendorong sedikit ke dalam kursi Laura, kemudian menuju kursinya sendiri di bagian kepala meja.
Tidak lama kemudian para pelayan datang membawa makanan sarapan pagi mereka, mengatur nya dengan rapi di atas meja makan dan kembali keluar setelahnya.
Pangeran Albert dan Laura mulai menikmati sarapan pagi pertama bersama mereka.
"Bagaimana tidur mu di malam pertama tinggal di sini ?" tanya Pangeran Albert di sela-sela sarapan pagi mereka.
"Tidurku sangat nyenyak Yang Mulia, aku pun tidak menyangka akan tidur selelap itu di hari pertama tinggal di tempat yang baru." Jawab Laura mengakui.
"Bukankah aturan tata krama di istana tidak di perbolehkan untuk berbicara saat sedang makan ?" Laura balas bertanya.
"Tentu saja seperti itu tapi itu hanya berlaku saat sedang makan bersama Ayahanda dan Ibunda ataupun saat acara makan formal tapi tidak berlaku saat kita hanya berdua saja." Pangeran Albert menjelaskan dengan senyum di wajahnya.
"Baguslah jika seperti itu." Laura tersenyum lega.
Pangeran Albert terkekeh geli melihat ekspresi wajah lega Laura.
"Semenakutkan itukah bagi mu jika harus bertemu dengan Ayahanda dan Ibunda ?"
Laura tersenyum masam. "Kalau mau jujur sebenarnya iya."
"Tapi biar bagaimana pun cepat atau lambat, mau tidak mau kamu pasti akan bertemu dengan mereka karena kamu akan menjadi anggota keluarga kerajaan." Pangeran Albert mengingatkan.
"Aku tahu tapi jujur untuk sekarang aku belum siap dan entah kapan akan siap." Wajah Laura terlihat muram.
"Apakah pernikahan ini sangat memberatkan dirimu ?"
Laura menatap wajah Pangeran Albert yang tiba-tiba memasang wajah serius.
Laura menelan ludah membulatkan hati. "Anda ingin aku berkata jujur ?"
"Iya, aku ingin mendengar isi hati mu."
"Baiklah aku akan berkata jujur." Laura berhenti memberi jeda.
"Aku tidak menginginkan pernikahan ini, aku tidak berkeinginan untuk menjadi seorang putri dan menikahi anggota keluarga kerajaan. Keinginan ku hanya sederhana, ingin menikah dengan pria yang mencintai ku dan aku pun mencintainya walaupun dia hanya orang biasa tidak masalah yang terpenting kami saling mencintai." Laura akhirnya mengeluarkan isi hatinya.
Hening sesaat terjadi di antara mereka, Laura tidak berani menatap langsung wajah Pangeran Albert.
"Bagaimana jika seandainya anggota keluarga kerajaan itu mencintai mu, tidak kah terpikirkan oleh mu kemungkinan itu ?" Pangeran Albert tiba-tiba memberikan pertanyaan yang tidak di duga oleh Laura.
Laura yang terkejut mendengar perkataan Pangeran Albert refleks menoleh ke arah Pangeran Albert.
"Aku.... aku... aku tidak pernah terpikirkan sampai ke situ." Jawab Laura kelabakan, tidak tahu mesti menjawab apa.
Pangeran Albert tersenyum masam mendengar perkataan Laura. "Sepertinya hal itu sangat mustahil terjadi di pikirkan mu."
Laura hanya terdiam, tidak ada lagi keinginan untuk melanjutkan sarapan nya. Sungguh bingung dengan maksud dari perkataan Pangeran Albert.
Dari maksud perkataannya tidak mungkin Pangeran Albert mencintaiku bukan ? Itu hal yang sangat mustahil, jangan berpikir terlalu jauh Laura. Raut wajah Pangeran Albert terlihat muram, mungkin kah perkataan ku telah membuatnya tersinggung.
Pangeran Albert sendiri juga terlihat tidak meneruskan serapannya, dia meletakkan sendok dan garpu di atas piring makan nya.
"Maaf kan aku jika perkataan tadi menyinggung perasaan Yang Mulia, tapi aku tidak bermaksud apa-apa. Bukankah Yang Mulia sendiri menyuruh ku untuk berkata jujur ?" Laura buru buru memberi penjelasan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Ara, aku tidak menyalahkan mu. Aku senang kamu mulai terbuka dengan ku walaupun jujur aku sedikit terkejut dengan perkataan mu tadi."
Pangeran Albert berdiri dari kursinya membuat Laura pun refleks ikut berdiri.