Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran

Terbelenggu Cinta Seorang Pangeran
Bab 31.Putri Elenna


__ADS_3

Pangeran Albert menoleh pada Laura. "Kamu pasti penasaran dengan wanita yang ada di hadapan mu." Kata Pangeran Albert.


"Kalian kedepannya pasti akan sering bertemu." Sambung Pangeran Albert sebelum Laura menanggapi.


"Kami pasti akan sering bertemu." Wanita itu menyetujui perkataan Pangeran Albert.


"Ara perkenalkan dia putri Elenna, sepupu dari Putra Mahkota Spanyol." Pangeran Albert memperkenalkan mereka berdua.


Laura berdiri dari duduk nya, mengulurkan tangan untuk memperkenalkan dirinya."Laura Clarissa George." Ucap Laura seraya tersenyum ramah.


Putri Elenna menyambut uluran tangan Laura."Panggil saja Elenna." Balas Putri Elenna menjabat tangan Laura.


"Kenapa Albert memanggil mu dengan sebutan Ara ?" Sambung Putri Elenna penasaran.


"Itu panggilan nama kesayangan." Pangeran Albert bersuara lebih dulu.


"Kalian sudah sedekat itu ?" Nada suara Putri Elenna terdengar tidak senang di pendengaran Laura.


Pangeran Albert mengangkat keningnya sebelah dengan raut wajah heran. "Bukankah sudah sewajar nya seperti itu ?" Pangeran Albert balas bertanya.


Putri Elenna mengatur posisi duduk nya dengan canggung. "Kamu benar, memang sudah sewajar nya seperti itu." Ucap Putri Elenna dengan raut wajah di paksaan untuk tersenyum.


Perbincangan mereka terhenti karena pelayan yang datang membawa makanan menghampiri meja makan. Para pelayan dengan cekatan mengatur makanan pembuka di atas meja makan, meletakkan masing-masing di hadapan mereka.


Mereka pun mulai menikmati makan malam mereka, perbincangan ringan terjadi di sela-sela makan malam mereka.


"Laura akan ikut menemani mu ke perjamuan makan malam besok ?" Tanya Putri Elenna pada Pangeran Albert.


"Tentu saja, itu sebabnya aku membawanya bersamaku ke Spanyol."


Putri Elenna mengangguk mengerti. "Kita pasti akan berjumpa kembali di sana." Ucap Putri Elenna menatap ke aran Laura.


Laura tersenyum. "Aku pasti senang kita bertemu kembali di sana, setidaknya ada orang yang ku kenal di saat di perjamuan itu."


"Kamu sudah menyiapkan gaun untuk perjamuan besok malam ?" tanya Putri Elenna.


"Aku sudah menghubungi Desainer untuk datang ke sini, dia akan membawa beberapa gaun rancangan nya untuk di pilih Ara yangakan dia kenakan besok malam." Kata Pangeran Albert bersuara lebih dulu sebelum Laura membuka mulut.


"Begitu....., sayang sekali padahal kita bisa sama-sama pergi untuk membeli gaun bersama."


"Mungkin lain kali." Ucap Laura tersenyum dengan wajah menyesal di balas anggukan oleh Putri Elenna.

__ADS_1


Putri Elenna melirik jam tangan kecil di pergelangan tangannya. "Sekarang sudah hampir larut malam, lebih baik aku permisi pamit dulu."


Pangeran Albert berdiri dari kursinya di susul Laura dan Putri Elenna. "Biar Edward yang mengantar mu pulang."


"Terimakasih tapi tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."


"Baiklah, aku tidak memaksa mu."


Putri Elenna menoleh pada Laura. "Sampai jumpa besok Laura."


"Sampai jumpa besok Elenna." Balas Laura tersenyum ramah.


"Antar Putri Elenna sampai ke pintu depan." Perintah Pangeran Albert pada Edward.


"Baik Yang Mulia." Edward berkata patuh.


Di temani Edward, Putri Elenna keluar menuju pintu depan.


"Setelah ini ada yang ingin kamu lakukan ?" Tanya Pangeran Albert pada Laura.


"Tidak ada Yang Mulia, aku ingin istirahat lebih awal."


"Selamat malam Yang Mulia."


"Selamat malam Ara."


Laura berbalik melangkah menjauh menuju kamar tidur nya. Kali ini Laura sudah mengingat ke arah mana letak kamar tidurnya tanpa bantuan pelayan.


Usai membersihkan diri, Laura langsung merebahkan diri nya di atas tempat tidur tanpa menunggu lama kantuk pun menghapiri membuatnya tertidur.


Tidur nyenyak Laura terganggu karena merasakan sesuatu menekan dadanya memaksa untuk membuka mata nya yang masih terasa berat karena kantuk yang sangat.


Betapa terkejutnya dirinya dan dengan refleks menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Melihat ada orang lain yang tidur bersama dirinya dan dengan leluasa memeluk tubuhnya.


Kenapa dia bisa tidur di kamar ku ? dan kenapa aku tidak menyadari saat dia naik ke atas tempat tidur ? Gumam Laura dalam hati dan dengan perlahan melepaskan pelukan Pangeran Albert dari tubuhnya.


"Sekarang pukul berapa ?" Laura berbisik agar tidak membangunkan Pangeran Albert, bergerak perlahan menatap jam kecil yang berada di nakas samping tempat tidur. Jam kecil menunjukkan waktu pukul enam pagi.


"Ternyata sudah pagi lebih baik aku bangun saja lagipula rasa ngantuk ku sudah hilang."


Dengan sangat pelan Laura bergerak turun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Kamu ingin kemana ?" Suara serak khas pria baru bangun mengajukan Laura membuat dirinya refleks menoleh ke arah datangnya suara.


"Kamu ingin ke mana pagi-pagi sekali ?" Pangeran Albert kembali bertanya setelah melihat jam masih menunjukkan pukul enam pagi.


"Rasa kantuk ku sudah hilang jadi aku ingin ke kamar mandi dan membersihkan diri." Jawab Laura.


Pangeran Albert mengerutkan kening mendengar perkataan Laura.


"Kenapa rasa kantuk mu sudah hilang ?" Tanya Pangeran Albert.


"Keberadaan Pangeran Albert di dalam kamar ini dan tidur tepat di samping ku membuatku terkejut sehingga rasa kantuk ku hilang." Jawab Laura jujur.


"Maaf jika aku lancang tapi Yang Mulia Kenapa anda tidur di dalam kamar ini dan bukan tidur di kamar anda sendiri ?" Sambung Laura penasaran.


"Memangnya tidak boleh ?" Pangeran Albert balas bertanya bukannya menjawab pertanyaan Laura.


"Tentu saja tidak boleh, kita belum menikah Yang Mulia." Jawab Laura polos dengan nada penuh penekanan.


Mendengar perkataan polos Laura membuat Pangeran Albert terkekeh geli. "He..he.. kamu sangat lucu dan polos ternyata."


"Kenapa anda tertawa Yang Mulia ? Apakah perkataan ku ada yang lucu ?"


"Kenapa tidak boleh ? bukankah kita juga akan menikah ? lagian juga kita hanya tidur saja tidak melakukan apa-apa."


"Tapi belum menikah baru akan menikah jadi belum pantas untuk tidur bersama walaupun kita tidak melakukan apa-apa." Laura menjelaskan penuh semangat.


"Lagian apa nanti kata para pelayan saat melihat kita nanti ?" tambah Laura.


Pangeran Albert memasang wajah serius. "Tidak ada yang akan berani bercerita tentan kita, mereka tahu kamu adalah calon istriku. Laura Clarissa George, pemikiran wanita seperti mu untuk sekarang ini sangat lah jarang.


"Zaman sekarang pergaulan telah bebas, kita berdua akan menikah jadi sudah hal yang wajar jika kita tidur di kamar yang sama." Kata Pangeran Albert.


"Tapi Yang Mulia -."


"Tidak ada tapi tapian Ara." Pangeran Albert memotong protes yang keluar dari mulut Laura.


"Kamu milik ku baik itu tubuh dan pikiran mu jadi apa pun yang terjadi kelak yang berhubungan dengan dirimu, aku tidak ingin di bantah. Apakah kamu mengerti maksudku Ara ?" Pangeran Albert menambahkan dengan nada tegas.


"Iya Yang Mulia, aku mengerti." Ucap Laura dengan terpaksa.


"Aku masih ingin tidur, kamu temani aku dulu. masih terlalu pagi untuk bangun." Ucap Pangeran Albert dengan nada perintah membuat Laura yang tadinya hendak turun dari tempat tidur terpaksa kembali berbaring.

__ADS_1


__ADS_2