
Bunyi alarm jam weker yang berada di samping nakas tempat tidur membangunkan Laura dari tidurnya.
Rasa ngantuk yang masih ada membuat Laura dengan susah payah membuka kedua matanya.
"Hari ini aku tidak ada rencana kemana-mana, lebih baik aku kembali tidur. Ya Tuhan.... sungguh aku mengantuk sekali." Gumam Laura bergerak dengan malas untuk mematikan bunyi alarm dari jam wekernya.
Setelah mematikan alarm, Laura kembali menarik selimut membungkus tubuhnya dan kembali tidur.
Di lantai bawah semua anggota keluarga lainnya sudah berkumpul untuk sarapan pagi.
"Mana Laura ? Kenapa dia belum turun untuk sarapan ?" tanya Papa.
"Dia masih tidur, katanya ngantuk sekali karena keasikan membaca buku hingga tidur larut malam." Bella menjawab.
"Kamu menanyakan langsung padanya ?" Mama ikut bertanya.
"Iya, sebelum turun aku singgah di depan pintu kamarnya, aku mengetuk tapi tidak ada sahutan dari dalam dan kebetulan pintu kamarnya tidak terkunci jadi aku masuk." Jawab Bella mulai memakan sarapannya.
"Biarlah, dia sering seperti itu. Kalau dia bangun dan kelaparan pasti akan langsung ke dapur mencari makanan." Ucap Papa dan mulai memakan sarapannya.
Mama hanya bisa menghela nafas panjang, melihat tingkah Laura. Mereka pun sarapan pagi tanpa Laura.
Usai sarapan Mama mengantar Papa ke pintu depan rumah untuk pergi kerja. Papa membuka pintu mobil hendak masuk tapi terhenti karena pintu gerbang yang terbuka. Masuk sebuah mobil sedan warna hitam dengan plat khusus keluarga kerajaan, berhenti tepat di belakang mobil Papa yang terparkir di depan tangga pintu masuk.
Dari kursi depan keluar pengawal dengan setelan jas hitam, membuka pintu penumpang.
Pintu mobil terbuka, Pangeran Albert turun dari dalam mobil dengan gaya yang elegan.
Mama dan Papa terpaku terkejut dengan kehadiran Pangeran Albert di rumah mereka pagi-pagi sekali.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya George, maaf kedatangan ku pagi ini membuat sepertinya membuat kalian terkejut." Pangeran Albert tersenyum melihat raut wajah kedua orang tua Laura.
Perkataan Pangeran Albert menyadarkan mereka. Papa segera menutup kembali pintu mobil, tidak jadi untuk pergi karena kehadiran tamu yang tidak di sangka akan datang.
"Maaf atas ketidak sopanan kami menyambut kedatangan anda. Silahkan masuk Yang Mulia." Papa dengan sopan mempersilahkan Pangeran Albert untuk masuk ke dalam rumah.
"Terimakasih." Pangeran Albert berjalan lebih dulu kemudian di susul Mama dan Papa dari belakang.
Mama membukakan pintu untuk Pangeran Albert masuk lebih dulu ke dalam rumah. Begitu masuk Papa mempersilahkan Pangeran Albert untuk duduk.
__ADS_1
"Silahkan duduk Yang Mulia." Kata Papa ramah.
Pangeran Albert duduk lebih dulu dan di susul Papa sedangkan Mama masuk ke dalam membiarkan Papa yang berbincang dengan Pangeran Albert.
"Kalian pasti terkejut dan tidak menyangka kehadiran ku di rumah kalian pagi ini."
Papa tersenyum canggung. "Jujur sebenarnya betul sekali Yang Mulia." Ucap Papa mengakuinya.
"Maaf, sebenarnya ada hal penting apa sampai Yang Mulia sendiri yang harus datang ke rumah kami." Papa menambahkan.
"Memang ada hal yang ingin aku sampaikan dan sebetulnya memang tidak harus aku yang datang langsung menyampaikan pesan ini hanya saja aku juga ingin melihat rumah tunangan ku."
"Terimakasih karena Yang Mulia mau datang berkunjung ke sini."
"Kalau boleh tahu pesan apa yang anda bawa."
"Ibunda menyampaikan pesan agar Laura mendapatkan pendidikan tata krama sebelum acara pernikahan di langsungkan. Ini agar dirinya pandai menempatkan diri sebagai anggota keluarga kerajaan."
"Aku mengerti dan tolong katakan terimakasih keluarga kami atas kebaikan Yang Mulia Ratu."
"Mana Laura ?" tanya Pangeran Albert tiba-tiba.
"Aku akan membawa Laura ke istana hari."
Papa terkejut. "Di mulai hari ini ?"
"Pendidikan tata krama nya akan di mulai besok di istana, hari ini hanya perkenalan dengan para guru yang akan mengajarnya."
Papa mengangguk mengerti. "Aku mengerti."
"Mana Laura ?" Pangeran Albert kembali bertanya.
"Laura ada di dalam kamarnya Yang Mulia, aku akan menyuruhnya untuk segera turun." Papa berdiri, sedikit gugup karena setahunya Laura masih tidur di kamarnya.
Pangeran Albert juga ikut berdiri. "Kalau Tuan George tidak keberatan bisa anda tunjukkan kamarnya ? aku akan bicara langsung padanya."
"Ba baiklah Yang Mulia, silahkan ikut denganku." Papa kelabakan, tidak yakin apa yang akan terjadi nantinya.
Papa mengantar Pangeran Albert melewati ruang tengah menaiki tangga menuju kamar Laura di lantai dua.
__ADS_1
Mereka berhenti didepan pintu kamar Laura. "Ini kamar Laura, Yang Mulia." Kata Papa.
"Terimakasih Tuan George, aku boleh masuk ?" Pangeran Albert kembali bertanya.
"Tentu saja Yang Mulia, aku akan mengetuk pintunya untuk anda." Ucap Papa menawarkan diri, bermaksud ingin mengetuk pintu kamar sedikit lebih keras agar Laura terbangun.
"Tidak perlu Tuan George, biar aku sendiri saja." Tolak Pangeran Albert dengan maksud menyuruh Papa pergi dan membiarkannya sendiri.
"Baik Yang Mulia, aku akan turun." Ucap Papa terpaksa.
Pangeran Albert mengangguk dan Papa berbalik pergi dengan berat hati.
Mama menghampiri Papa yang turun dari lantai dua. "Bagaimana Pa ?" tanya Mama cemas.
"Entahlah, Papa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kita hanya bisa berharap Pangeran Albert tidak akan tersinggung dengan situasi yang sedang terjadi." Papa berkata penuh harap.
Tok tok tok
Pangeran Albert mengetuk pintu kamar Laura.
Beberapa detik menunggu tapi tidak ada sahutan ataupun suara dari dalam kamar. Pangeran Albert mendorong kenop pintu dan pintu terbuka.
"Pintu kamarnya tidak terkunci, dia ceroboh sekali tidak memperhatikan hal kecil seperti ini." Gumam Pangeran Albert mendorong pintu semakin terbuka.
Keadaan kamar tenang dan temaram, gorden masih menutupi jendela kamar yang menghalangi sinar matahari masuk. Dari pintu Pangeran Albert bisa melihat rambut hitam di atas bantal berwarna putih.
"Dia ternyata masih tidur, itu sebab orang tuanya terlihat gelisah saat aku mengatakan ingin bertemu." Gumam Pangeran Albert tersenyum simpul menutup pintu kamar.
Dengan langkah kaki pelan, Pangeran Albert mendekati tempat tidur. Dia duduk di samping tempat tidur dengan perlahan tanpa bersuara.
Dengan wajah serius memperhatikan wajah polos Laura yang tertidur nyenyak. Tanpa sadar tangannya terulur ingin menyentuh wajah Laura. Tangannya perlahan mengusap pipi Laura kemudian ke hidung dan berlanjut ke bibirnya.
Laura bergerak sedikit merasa terganggu dengan sentuhan Pangeran Albert tapi kembali tertidur pulas begitu Pangeran Albert mengangkat tangannya dari wajah Laura.
"Dia tidur begitu nyenyak, aku jadi tidak tega untuk membangunnya." Gumam Pangeran Albert kembali tersenyum simpul.
Pangeran Albert berdiri mengedarkan pandangannya melihat keadaan kamar Laura. Di dalam kamar terdapat dua rak buku yang mendominasi dan meja rias seperti kamar wanita pada umumnya. Di samping tempat tidur terdapat sofa empuk berwarna peach dengan meja yang berisi buku-buku yang tidak tertata rapi.
Pangeran Albert melangkah mendekati meja, penasaran dengan judul buku-buku yang tergeletak di sana.
__ADS_1
Pangeran Albert mengambil satu buku yang menarik perhatiannya, duduk di sofa membuka sampul buku dan mulai membaca sambil menunggu Laura untuk bangun.