
Laura duduk di kursi meja rias sambil menyisir rambut panjangnya. Dirinya telah selesai berpakaian, demi kesopanan Laura terpaksa memakai riasan tipis di wajah walaupun sebenarnya dirinya malas karena berada di dalam rumah.
Tok tok tok
Ketukan pintu dari luar kamar.
"Masuk !" Seru Laura.
Pelayan muncul dari balik pintu. "Nona Laura, Pangeran Albert sudah menunggu anda di meja ruang makan."
Laura berdiri dari duduk nya, tidak sempat lagi menyanggul rambutnya. "Baiklah, aku segera turun."
"Baik Nona, akan aku sampaikan."
Pelayan dengan sigap berbalik pergi turun ke bawah.
Laura melirik sekilas ke arah cermin, melihat terakhir penampilan sebelum keluar menyusul pelayan yang telah turun lebih dulu.
Pangeran Albert telah duduk di kursi nya begitu Laura masuk ke dalam ruang makan.
Pelayan pria menarikkan kursi untuknya. "Terimakasih." Ucap Laura sambil duduk di kursinya.
"Sama-sama Nona." Balas pelayan ramah.
Laura menatap Pangeran Albert. "Maaf membuat Yang Mulia menunggu."
"Tidak apa-apa jika kamu hanya sedang makan malam bersama ku." Ucap Pangeran Albert.
"Ara, kamu harus tahu etika makan bersama di istana, kita harus berada lebih dulu di ruang makan tidak boleh membiarkan Raja dan Ratu menunggu." Tambah Pangeran Albert serius.
"Baik Yang Mulia, akan aku ingat."
"Aku maklum karena kamu belum mempelajari semua tata krama kerajaan, belajarlah pelan pelan agar tidak begitu membebani mu." Pangeran Albert tersenyum menenangkan.
"Baik Yang Mulia." Jawab Laura ramah walaupun perasaan nya menjadi muram begitu mendengar perkataan Pangeran Albert.
Ini salah satu hal yang membuat ku tidak ingin menikah dengan mu, makan bersama anggota keluarga pun harus bersikap formal. Laura menggerutu dalam hati sambil menundukkan wajah, tidak ingin Pangeran Albert melihat wajah kesalnya.
"Aku suka melihat mu seperti ini."
Laura mengangkat wajahnya, menatap bingung Pangeran Albert. "Maksud Yang Mulia ?"
Maksud nya anda menyukai wajah cemberut ku ? Sambung Laura bertanya dalam hati, bingung dengan perkataan Pangeran Albert yang tiba-tiba beralih topik pembicaraan.
"Aku suka melihat mu dengan rambut terurai seperti ini."
"Aa......" Komentar polos yang refleks keluar dari mulut Laura begitu mendengar perkataan Pangeran Albert, dirinya tidak tahu harus berkata apa.
Pangeran terkekeh geli sambil menggelengkan kepala menatap tingkah Laura. "He he he...., kenapa reaksi mu seperti itu ?"
__ADS_1
Laura menutup mulutnya yang masih terbuka, merasa kikuk dan memaki dirinya sendiri karena kepolosannya.
"Aku hanya bingung harus berkata apa dengan pergantian topik pembicaraan yang tiba-tiba anda lakukan." Bela Laura untuk dirinya.
Pangeran Albert mengangguk mengerti, walaupun binar geli masih terdapat di raut wajahnya."Baiklah, aku mengerti. Lebih baik kita makan malam sekarang."
Begitu mendengar perkataan Pangeran Albert, Kepala pelayan langsung memberi perintah kepada bawahannya untuk segera membawa makan malam ke atas meja makan.
Makan malam berlangsung dalam keheningan, tidak ada satupun dari mereka yang bersuara hanya suara dentingan piring yang terdengar. Laura mengikuti tata krama sesuai protokol istana yang telah dia pelajari agar tidak menjadi bahan kritikan dari Pangeran Albert.
"Kita menunggu tamu di ruang tengah." Pangeran Albert bersuara usai makan malam kemudian menoleh pada kepala pelayan.
"Bawakan kopi untuk ku." Tambahnya.
"Baik Yang Mulia." Patuh Kepala pelayan.
Pangeran Albert bangun dari kursinya berjalan keluar dari ruang makan tanpa menunggu komentar dari Laura yang mau atau tidak mengikutinya ke ruang tengah, Laura pun terpaksa menyusul Pangeran Albert.
Seperti biasa pendapat ku tidak penting baginya, gerutu Laura berjalan di belakang Pangeran Albert.
Begitu masuk ke ruangan, Laura memilih duduk di kursi yang berada di hadapan Pangeran Albert.
Alis Pangeran Albert terangkat sebelah melihat sikap Laura yang menjaga jarak.
Laura bersikap seolah olah tidak melihat ekspresi mengejek Pangeran Albert melihat sikapnya.
"Kamu tidak ingin kopi ?" Pangeran Albert menawarkan sambil mengangkat cangkir kopi dari atas meja.
"Terimakasih tapi maaf aku tidak minum kopi."
Pangeran Albert menyeruput kopi nya dengan perlahan. "Kalau di pikir pikir, ternyata aku belum begitu mengenal mu."
Tidak usah anda pikirkan, aku malah senang.
"Kenapa anda berkata seperti itu Yang Mulia ?" Perkataan yang bisa Laura berani katakan langsung.
"Karena memang kenyataannya seperti itu, aku bahkan tidak tahu ternyata kamu tidak menyukai kopi minuman yang semua orang di negara manapun sukai."
Suara langkah kaki mengalihkan perhatian mereka di sertai muncul nya kepala pelayan.
"Maaf mengganggu Yang Mulia." Sela Kepala pelayan.
"Ada apa ?"
"Tamu anda telah datang."
"Biarkan dia masuk." Perintah Pangeran Albert.
"Baik Yang Mulia." Balas Pelayan patuh.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Kepala pelayan muncul bersama seorang wanita cantik.
Sangat seksi.
Kesan pertama yang muncul di benak Laura begitu melihat penampilan wanita itu.
"Selamat malam Yang Mulia, senang sekali bisa bertemu dengan anda malam ini." Ucap wanita itu tersenyum lebar.
"Selamat malam Felisia, selamat datang di kediaman ku." Balas Pangeran Albert, menyambut tamu wanita itu dengan hangat.
Pangeran Albert merentangkan kedua lengan nya, menyambut wanita itu masuk ke dalam rangkulan nya.
Wow ! sepertinya bukan hanya sekedar seorang desainer, sepertinya lebih dari itu.
Kesan kedua Laura, melihat interaksi mereka berdua dalam diam dari tempat duduk nya.
"Kamu semakin cantik saja." Puji Pangeran Albert setelah melepas pelukannya.
"Terimakasih Yang Mulia." Jawab Felisia tersenyum senang mendengar pujian Pangeran Albert.
Sepertinya mereka berdua sudah melupakan keberadaan ku di sini, apa lebih baik aku keluar perlahan saja tanpa mereka bedua sadari ? seperti keberadaan ku di sini mengganggu kebersamaan mereka.
Felisia menoleh menatap Laura. "Dia...... ?" tanya nya begitu menyadari keberadaan Luara dalam ruangan.
Pangeran Albert melangkah mendekati Laura, Laura yang duduk refleks berdiri.
"Perkenalkan, dia tunanganku Laura Clarissa George." Pangeran Albert meletakkan tangannya di punggung Laura posesif.
Laura mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Panggil saja Laura."
Felisia menyambut tangan Laura. "Felisia, senang bertemu dengan mu."
"Senang juga bertemu dengan mu, Felisia."
"Jadi kapan kita bisa memulainya ?" tanya Felisia pada mereka berdua.
"Sekarang boleh juga." Jawab Pangeran Albert.
"Dimana koleksi gaun mu ?" Sambung Pangeran Albert bertanya.
"Masih ada di ruang depan." Jawab Felisia.
"Aku akan menyuruh pelayan memasukkan nya ke dalam, lebih baik kita naik ke ruang keluarga lantai dua karena dekat dengan kamar Laura untuk berganti." Kata Pangeran Albert.
"Boleh juga seperti itu." Ucap Felisia setuju mengangguk setuju
Laura tidak berkomentar, hanya diam menatap mereka berdua.
Seperti biasa nya pendapat ku tidak penting jadi percuma untuk berkomentar.
__ADS_1