
"Lanjutkan saja sarapan mu, aku sudah selesai dengan sarapan ku. Maaf aku permisi lebih dulu, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." Pamit Pangeran Albert dengan wajah datar, langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Laura.
Laura kembali duduk di kursinya setelah punggung Pangeran Albert sudah tidak terlihat.
"Ada apa dengan dirinya ? sungguh aku di buat bingung dengan perubahan mood nya yang tiba-tiba." Gerutu Laura sambil mendorong sedikit piring makan nya.
"Selera makan ku juga sudah hilang karena dia." Tambahnya kemudian meneguk air putih nya.
Laura berdiri dari kursinya berniat untuk kembali ke kamarnya.
Pelayan masuk ke ruang makan dengan mendorong meja troli berniat membersihkan meja makan.
"Apa ada yang anda butuhkan Nona Laura ?" tanya pelayan.
"Tidak ada hanya aku minta tolong beritahu aku jika guru tata krama sudah datang, aku menunggu kedatangan nya di dalam kamar ku."
"Baik Nona."
"Terimakasih."
Setelah itu Laura keluar dari ruang makan menuju kamar tidurnya, sebenarnya dia ingin menunggu guru tata krama nya di perpustakaan hanya saja dia belum tahu di mana letak ruangan itu. Ingin bertanya pada pelayan tapi Laura sedang malas, mood nya hilang karena sikap Pangeran Albert.
Seharusnya perubahan sikap Pangeran Albert yang tiba-tiba seperti itu tidak akan memengaruhi ku tapi kenyataannya mood ku juga jadi jelek di buat nya.
Gerutu Laura dalam hati melangkah menuju kamarnya, hari pertama di tinggal di istana hanya letak kamarnya saja yang baru dia ketahui.
Masuk ke dalam kamarnya, laura langsung mengambil handphone nya di atas nakas samping tempat tidur kemudian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Berbaring santai sambil membuka aplikasi media sosial di handphone nya, melihat aktivitas orang-orang di media sosial.
Berselang beberapa lama terdengar ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu.
"Masuk !" Seru Laura membalas.
Pintu pun terbuka, pelayan muncul dari balik pintu.
"Maaf mengganggu anda Nona Laura." Ucap pelayan sopan.
"Tidak apa-apa, ada apa ? Apakah guru tata krama sudah datang ?"
__ADS_1
"Iya Nona Laura, guru anda sudah menunggu anda di ruang kerja Yang Mulia Pangeran Albert." Jawab pelayan.
"Baik, aku akan ke sana."
"Apakah Nona Laura perlu di antar ke ruang kerja Yang Mulia ?"
"Iya tolong, aku belum hafal tata letak ruangan di istana ini. Aku hanya tahu nya ruang kerja Pangeran Albert ada di lantai satu. " Jawab Laura tersenyum masam.
Pelayan membalas dengan tersenyum ramah. "Anda tidak perlu khawatir lama kelamaan anda pasti akan hafal keadaan istana ini, apalagi anda calon pemilik istana ini." Pelayan memberi semangat.
Laura turun dari tempat tidur. "Iya perkataan mu benar, lama kelamaan pasti akan di hafal."
"Silakan Nona Laura mengikutiku."
Melihat sekilas penampilannya di depan cermin sebelum melangkah mengikuti pelayan yang membawanya ke ruang kerja Pangeran Albert.
Begitu masuk ke dalam ruangan, guru tata krama telah duduk menunggu kedatangan nya.
"Maaf membuat anda menunggu." Ucap Laura dengan canggung.
"Tidak apa-apa Nona Laura, aku juga belum lama menunggu." Guru tata krama tersenyum ramah.
Laura mengangguk. "Tentu saja." Jawab Laura, langsung melangkah menuju meja yang sudah di sediakan untuk nya di dalam ruang kerja Pangeran Albert.
Selama kelas berlangsung, Laura menerima materi dengan serius. Selama waktu pelajaran Laura akan langsung bertanya jika ada yang kurang di mengerti olehnya. Waktu terus berjalan hingga tiba jam akhir pelajaran. Waktu yang di gunakan untuk pelajaran tata krama adalah dua jam dan tiga kali pertemuan dalam seminggu.
"Sampai di sini materi kita hari ini." Ucap Guru tata krama mengakhiri pertemuan mereka.
"Kita akan bertemu kembali minggu depan." Tambah Guru tata krama karena besok materi dan Pengajar yang berbeda.
"Terimakasih untuk hari ini." Kata Laura tersenyum bangkit dari kursinya.
Guru tata krama balas mengangguk sambil tersenyum simpul sebelum melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.
Laura kembali duduk di kursinya, menghela nafas panjang.
"Walaupun jenuh tapi tetap harus di kerjakan dengan baik." Gumam Laura sambil mengedarkan pandangan menatap keseluruh sudut ruangan itu.
Pandangannya terhenti pada sebuah bangkai foto kecil yang berada di atas meja kerja Pangeran Albert yang seingat Laura sebelumnya tidak ada bingkai foto di Letakkan di sana.
Dengan rasa penasaran, Laura melangkah mendekati meja kerja Pangeran Albert. Mengangkat bingkai foto itu dan melihat isi foto yang tersimpan dalamnya.
__ADS_1
"Ini foto pertunangan kami." Ucap Laura tanpa sadar begitu melihat potret dirinya bersama Pangeran Albert.
"Ternyata dia menyimpan foto pertunangan kami di sini." Kembali Laura berbicara sendiri.
"Melihat tindakan Pangeran Albert yang tak terduga seperti ini membuat ku terlihat cuek dan acuh tak acuh dengan status pertunangan kami karena diriku yang bahkan tidak menyimpan foto pertunangan kami biar selembar pun." Ucap Laura lirih dengan wajah muram sambil meletakkan kembali pada tempatnya semula bingkai foto itu.
Laura menoleh menatap jam dinding. "Waktu makan siang masih lama. Sambil menunggu, apa yang mesti aku kerjakan ? Apa lebih baik aku menunggu di dalam kamar saja ?" Gumam nya bertanya pada diri sendiri sambil berjalan menuju pintu.
"Sepertinya hanya itu yang bisa aku lakukan untuk sekarang ini." Laura menjawab sendiri pertanyaan.
Berjalan menuju kamarnya dan sesekali di sapa oleh pelayan istana yang di lewati nya, sedang mengerjakan pekerjaan mereka.
Hendak menaiki tangga menuju lantai atas, Laura melihat pria berseragam kemeja putih berjas hitam yang merupakan pengawal pribadi Pangeran Albert.
Bagaimana dengan keadaan Edward sekarang ya ? Laura bertanya dalam hati dengan raut wajah berubah muram.
Apakah dia baik-baik saja ? atau sudah meninggal ? Aku takut nya seperti itu melihat keadaannya saat kami tinggali seorang diri di tempat sunyi dan di saat malam hari.
Tidak, tidak boleh berpikir seperti itu Laura.
Dalam hatinya sambil menggelengkan kepala.
Berpikir positif lah Laura, dia pasti selamat. Mungkin saja ada seseorang yang sedang lewat dan langsung menolong begitu melihat dirinya.
Pasti seperti itu, Edward orang yang baik tidak mungkin dia akan meninggal mengenaskan seperti itu.
Laura meyakini dirinya sambil kembali melangkah menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya. Begitu masuk ke dalam kamarnya, laura memilih berbaring di sofa panjang yang berada di tengah ruang kamar tidurnya.
Sekarang belum juga siang hari bahkan kegiatan ku pagi ini hanya menerima pelajaran tata krama tapi perasaan ku saat ini sungguh amat lelah.
Laura menghela napas panjang.
Pikiran ku pagi ini sungguh kacau, banyak masalah yang terlintas di benak ku.
Laura menatap langit langit kamar tidurnya.
Hidup ku penuh dengan masalah dan segala macam peristiwa tidak terduga tidak lagi terasa sederhana seperti dulu sejak pertunangan ku dengan Pangeran Albert di tetap kan.
Sungguh melelahkan untuk ku dan entah kapan akan berakhir atau mungkin tidak akan pernah berakhir mungkin saja ini baru permulaan saja.
Pikiran Laura yang melayang jauh membuatnya tanpa sadar menutup mata, tertidur di sofa kamarnya.
__ADS_1