
Mobil yang mereka kendarai berhenti di depan Rumah Sakit, terlihat beberapa orang berkumpul berdiri rapi di depan pintu Rumah Sakit yang di duga Laura menunggu kedatangan mereka.
Pengawal membukakan pintu mobil untuk mereka, Pangeran Albert turun lebih dulu baru kemudian Laura yang di bantu oleh Pangeran Albert.
Huh ! Sok perhatian sekali padaku, dia bertingkah seperti ini hanya karena ingin terlihat sangat perhatian di depan publik.
Dalam hati Laura menggerutu sambil menerima uluran tangan Pangeran Albert.
"Selamat datang Yang Mulia, kami sungguh terkejut dengan kabar kedatangannya anda pagi ini." Sapa salah satu dari mereka yang berdiri menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah.
"Maaf jika mengejutkan kalian." Balas Pangeran Albert dengan wajah ramah.
"Kalau boleh tahu kedatangan anda ke sini untuk apa Yang Mulia ? Sekretaris istana saat menelepon tadi pagi tidak memberi tahu maksud ke datangan anda ke sini."
"Aku ingin memeriksakan wajah tunanganku." Jawab Pangeran Albert sambil menoleh pada Laura yang berdiri di sampingnya. Dengan posesif mengulurkan tangan di belakang punggung Laura.
Semua orang yang berada di sana mengikuti arah pandangan Pangeran Albert, mereka semua refleks menatap wajah Laura yang terdapat memar.
"Lebih baik kita langsung masuk dan segera memeriksa tunangan anda."
"Baiklah."
Mereka menepi memberi jalan pada Pangeran Albert dan Laura untuk masuk ke dalam dengan mereka menyusul di belakang.
Tanpa di beri arahan untuk berjalan ke arah mana, Pangeran Albert dengan langkah pasti berjalan menuju pintu lift khusus.
Pangeran Albert melangkah masuk di ikuti Laura begitu pintu lift terbuka, sedangkan yang lainnya hanya berdiri di luar dan tidak lama pintu lift kembali tertutup.
"Mereka tidak ikut dengan kita ?" tanya Laura penasaran sedikit bingung dengan situasi nya.
"Mereka akan naik setelah kita." Jawab Pangeran Albert singkat.
"Lalu kita akan ke mana ?"
"Ke ruang naratama khusus keluarga kerajaan."
Laura mengerutkan kening mendengarnya. "Bukankah kita harus menemui Dokter kulit ?"
__ADS_1
"Mereka akan mendatangi kita." Jawab Pangeran Albert kembali dengan singkat.
Laura terdiam begitu mendengar jawaban Pangeran Albert, tidak lagi bertanya.
Begitulah kalau anggota keluarga kerajaan, selalu diperlakukan secara khusus, komentar Laura yang hanya bisa dia ungkapkan dalam hati.
Pintu lift kembali terbuka, Pangeran Albert keluar lebih dulu baru kemudian Laura yang mengikuti langkah kaki Pangeran Albert menuju pintu kamar yang berada di tepat di hadapan mereka.
Ruang kamar itu menurut pendapat Laura saat masuk tidak tampak seperti ruang perawatan pada umumnya di sebuah sebuah Rumah Sakit, ruangan yang mereka masuki lebih tepatnya seperti sebuah kamar hotel mewah.
Pangeran Albert langsung melangkah menuju sofa yang berada di dalam ruangan itu dan duduk sambil melipat kaki sedangkan Laura ikut duduk di sofa yang berada di depan Pangeran Albert.
Tidak lama terdengar ketukan pintu dari luar. "Masuk !" Sahut Pangeran Albert dan pintu pun terbuka.
Beberapa Dokter masuk dengan jas putih mereka di susul dengan beberapa perawat yang mendorong trol alat medis masing-masing di tangan mereka.
"Silakan Nona Laura berbaring di tempat tidur, kami akan segera memeriksa wajah anda." Salah satu dari Dokter itu berkata.
"Baiklah." Ucap Laura bangkit dari duduk nya, berjalan menuju tempat tidur yang berada dalam ruangan itu.
Setelah itu, dokter mulai memeriksa keadaan kulit wajah Laura yang memar. Pangeran Albert sendiri hanya berdiam di tempatnya duduk sambil mengamati proses pengobatan yang Laura jalani.
Setengah jam kemudian Dokter telah selesai memeriksa dan mengobati wajah Laura.
"Jadi bagaimana memar di wajahnya ? Bisa hilang sebelum kami berangkat besok ?" tanya Pangeran Albert penasaran.
Laura bangun dari tidurnya dan duduk menatap Pangeran Albert. "Aku tidak masalah kalau tidak jadi pergi bersama dengan Yang Mulia ke Spanyol." Laura berkata dalam hati penuh harap sebelum Dokter menjawab pertanyaan Pangeran Albert.
Pangeran Albert menatap tajam ke arah Laura. "Kamu harus ikut bersamaku ke Spanyol." Kata Pangeran Albert, melipat kedua tangannya di dada dengan nada tegas tidak ingin bantah.
"Tentu saja bisa sembuh Yang Mulia, kami sudah memeriksa dan mengobatinya." Jawab Dokter yang tadi memeriksa Laura.
"Aku akan memberikan obat yang harus Nona Laura oleskan di kulit memar nya ketika nanti dia di rumah." Tambah nya.
"Baguslah, kerja kalian sangat memuaskan." Puji Pangeran Albert dengan senyum lebar.
"Terimakasih Yang Mulia." Balas mereka senang.
__ADS_1
"Kalau tidak ada lagi yang anda perlukan kami permisi dulu, yang mulia." Pamit mereka yang di balas anggukan kepala dari Pangeran Albert.
Berurutan mereka keluar dari ruangan meninggalkan Laura dan Pangeran Albert berdua dalam ruangan.
Hening sesaat sebelum Pangeran Albert bersuara.
"Kamu ada rencana keluar setelah dari sini ?" tanya Pangeran Albert dengan dana penasaran.
Laura menggeleng kepala. "Tidak ada Yang Mulia, tidak mungkin aku keluar dengan wajah memar seperti ini." Jawab Laura.
Pangeran Albert mengangguk mengerti. "Iya, lebih baik kamu beristirahat saja dulu di rumah."
Pangeran Albert bangkit berdiri dari duduk nya, Laura yang melihat refleks ikut berdiri.
"Kita pulang sekarang." Kata Pangeran Albert sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
"Aku masih ada urusan setelah dari sini." Tambahnya sambil menatap Laura.
"Aku bisa pulang sendiri kalau Yang Mulia sedang sibuk, ada Edward bersamaku." Laura menawarkan diri.
"Tidak, aku tetap akan pengantar mu pulang terlebih dahulu." Tolak Pangeran Albert tegas.
"Baiklah." Laura mengalah.
Pangeran Albert melangkah menuju pintu di susul Laura dari belakang kemudian membuka pintu dan membiarkan Laura keluar lebih dulu baru kemudian dirinya dan menutup pintu dari luar.
Melihat mereka keluar para pengawal dengan siaga bergerak ke posisi masing-masing, mengawal mereka berdua keluar dari Rumah Sakit menuju mobil yang telah terparkir tepat di depan pintu Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan menuju mobil banyak pasang mata yang sangat penasaran menatap ke arah mereka sambil berisik pelan,membuat Laura sedikit canggung dengan situasi yang sedang terjadi.
Tidak mengherankan situasi seperti ini selalu dia rasakan jika berada bersama Pangeran Albert. Masyarakat yang penuh dengan rasa penasaran akan kehidupan pribadi Pangeran Albert, putra mahkota kerajaan negara mereka.
Laura melirik singkat ke arah Pangeran Albert yang nampak biasa dengan perhatian orang-orang di sekitar mereka.
Dirinya pasti sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Entah aku bisa terbiasa atau tidak dengan situasi seperti ini, keluh Laura dalam hati sambil menghembuskan napas pelan tidak ingin menarik perhatian Pangeran Albert yang berjalan di sampingnya.
Laura masuk ke mobil terlebih dahulu, di susul kemudian Pangeran Albert dan tidak lama kemudian mobil bergerak menjauh.
__ADS_1