
Tari tersenyum dengan menadahkan tangan di hadapan pria tampan di sebelahnya, jangan tanyakan bagaimana ekspresi Niko saat ini. "Astaga…ternyata kau sama saja dengan wanita lain, dasar matre!" umpatnya kesal sembari mengeluarkan seikat uang berwarna merah. Dengan cepat Tari mengambilnya tanpa rasa malu sedikitpun. "Walaupun uang tidak bisa membeli segalanya, tapi di dunia ini butuh uang."
"Ck, kau bahkan tidak menjaga image di depan seorang pria tampan sepertiku." Puji Niko yang membusungkan dada.
"Aku akui kau pria tampan, tapi kau jangan tersinggung dengan ucapanku."
"Katakan?" desak Niko yang sangat penasaran.
"Aura ketampanan mu tertutupi akibat sifatmu itu," jujur Tari.
"Kenapa pesananku belum datang juga?" tukas Niko yang mengalihkan pembicaraan.
"Ini pesanan nya Tuan, maaf sedikit terlambat." Ucap salah satu karyawan yang mengantarkan minuman itu, melirik Tari untuk kembali bekerja.
Kedua wanita itu saling melirik, Niko mengetahui situasinya dengan baik. "Aku sudah memberimu uang tips, kau boleh pergi!"
"Baik, terima kasih." Sahut Tari dengan cepat pegi meninggalkan tempat itu.
Niko menikmati minuman yang menyegarkan tubuhnya, menikmati suasana Cafe yang menenangkannya pikiran. Terdengar suara dering ponselnya, dengan cepat melihat si penelpon yang tak lain asistennya, Septian.
"Halo, tuan."
__ADS_1
"Hem."
"Gawat Tuan, gawat!"
"Ck, katakan dengan jelas. Ada apa?"
"Tuan Niki ada di kantor."
"Lalu? Apanya yang gawat?"
"Begini, kekasih tuan yang bernama Amora datang berkunjung. Dia merayu tuan Niki!"
"Baiklah, aku akan segera kesana."
Suara dering ponsel kembali berbunyi, Niko mengangkat saat melihat nama Niki tertera di layar ponselnya.
"Ada apa?"
"Kau masih bertanya ada apa? Aku terjebak dengan kekasihmu yang bernama Amora. Dia sangat cerewet, kapan kau kembali ke kantor?"
"Aku sedang tidak mood, kau gantikan aku untuk sementara. Bagaimana?"
__ADS_1
"Tidak, itu ide yang sangat buruk."
"Ayolah, untuk hari ini saja. Bahkan kau sendiri tahu alasanku badmood."
"Hah, baiklah. Lalu bagaimana dengan kekasihmu yang bernama Amora?"
"Terserah kau saja, aku menjadikannya kekasih hanya merasa kasihan saja. Dia hanya benalu yang selalu mengejarku, sangat menyebalkan!"
"Jangan katakan jika kau memanfaatkannya, apa kau sudah mencelup wanita itu?"
"Sialan kau! Aku ini cassanova berkelas tinggi, bahkan aku tidak tertarik untuk menyentuh sehelai rambutnya."
"Apa yang aku dapatkan dengan berperan sebagai dirimu?"
"Ck, kau sangat perhitungan sekali. Kita ini saudara kembar, apa kau melupakan itu?"
"Uang tidak mengenal saudara, cepat katakan apa imbalan untukku?"
"Baiklah, dasar mata duitan. sepuluh persen sahamku menjadi milikmu, tapi kau harus berpura-pura menjadi aku di depan Amora."
"Tidak masalah, aktingku masih bagus."
__ADS_1
Niki menutup telepon dengan sepihak membuat Niko mengumpat kesal. "Niki sialan! Dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih."
Sementara di tempat lain, Niki sangat bersemangat dengan sepuluh persen saham milik kembarannya. Berpura-pura sebagai Niko cukup mudah baginya, dia menatap wanita cantik dengan pakaian yang sopan. "Kenapa aku mempunyai kembaran yang sangat bodoh, hanya tertarik dengan wanita seksi yang memiliki tubuh indah. Para wanita itu sama saja seperti ulat keket, sangat menggelikan." Batin Niki.