
sorot mata yang tajam dan juga dingin seakan siap menerkam mangsanya secepat kilat, Lidia sangat ketakutan dengan tatapan Niko. Dengan cepat dia mengenakan pakaiannya, keluar dari kamar hotel dengan terburu-buru.
Niki berjalan ke arah cermin besar di hadapannya, menatap dirinya dengan seksama. "Kenapa bayangan masa lalu masih saja menghantui ku!" pekiknya seraya memukul cermin hingga pecah. Darah yang terus menetes tak dapat dirasakan saat hatinya terluka, 6 tahun berlalu dan bayangan pengkhianatan Nurika masih saja menari-nari di pikirannya.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel, Niko mengambil ponsel yang berada di atas nakas dan melihat si penelpon yang tak lain adalah Niki, kembarannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik."
"Jangan berbohong, perasaanku mengatakan sebaliknya."
"Itu hanya perasaanmu saja!"
"Apa kau lupa jika kita kembar dan dapat merasakan satu sama lain? Apa kau masih membayangkan kejadian enam tahun lalu?"
"Ya, itulah yang terjadi sekarang."
"Kau dimana?"
"Ada di hotel."
__ADS_1
"Ya sudah, aku tutup teleponnya. Ingat! Kau berhutang penjelasan padaku.
"Hem, kau dimana?"
"Kau masih bertanya aku dimana? Kau sendirilah yang Menjebakku dengan wanita aneh itu."
"Itu setimpal dengan beberapa persen sahamku."
Karena kesal, Niki menutup telepon dengan sepihak. Apalagi nasibnya yang sangat sial, wanita yang bicara tanpa henti. Untung saja dia punya alasan untuk pergi ke toilet atau Amora terus mengikutinya.
Niki melangkahkan kakinya untuk keluar dari toilet, tapi terkejut dengan kedatangan Amora. "Aku pikir akan terjadi masalah padamu, itu sebabnya aku menunggu disini!" ujar wanita itu yang memelas.
"Astaga…kau hampir membuat jantungku copot, apa kau ingin membunuhku?" kesal Niko.
"Aku memaafkanmu, tapi jangan di ulangi lagi."
"Aku janji!"
"Niko!" panggil Amora yang menatap kekasihnya.
"Siapa?" ujar Niki yang hampir lupa jika sekarang dia menggantikan saudaranya. "Maksudku, kenapa kau memanggilku?"
__ADS_1
"Selagi ada di Mall, aku ingin menonton film bersama mu." Pintanya dengan manja.
"Baiklah, apapun untukmu. Tapi kau ingin genre apa?" tanya Niki.
"Genre horor, walaupun aku takut tapi kau ada di sampingku!"
"Ya, terserah kau saja."
Keduanya pergi menuju bioskop, Niko memesankan tiket dan dua popcorn. Melangkahkan kaki masuk ke dalam studio dan Amora memilih duduk di bagian pojok, menikmati kebersamaan dengan kekasihnya.
Niki terus melihat layar lebar dengan suara yang sangat jelas, terdengar teriakan ketakutan. Amora selalu memeluk lengan Niki dengan sangat erat, menutup kedua matanya karena tak berani melihat kelanjutan film. "Ck, jika dia takut, kenapa memaksakan diri menonton film?" vbatin Niko yang menggelengkan kepala.
Beberapa menit film telah selesai, Niki melihat wajah Amora yang sangat pucat, ditambah lagi dengan kaki wanita itu yang bergetar dengan hebat. "Jika kau takut, kenapa memaksakan untuk menonton genre itu? ucap Niki yang sangat bersimpati.
"Aku hanya menguji diriku, apa kau tidak takut?"
"Tidak, bahkan aku pernah melihat yang lebih seram daripada film horor itu," ungkap Niki.
"Benarkah? Pantas saja kau tidak ketakutan sama sekali." Puji Amora.
"Karena itu salah satu pekerjaanku," jawab Niki asal.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Tentu saja." Jawab Niko yang membenarkan perkataannya, karena dia terbiasa melihat darah saat bekerja sebagai mafia bersama dengan Niko dan sepupu lainnya. Tapi, Amora mengira jika kekasihnya Niko adalah pemburu hantu sejati yang terbiasa melihat hal itu.