
Niko memikirkan perkataan dari asistennya, mengingat cukup sulit untuk mencari sekretaris baru dengan kualitas terbaik. Sedangkan Ara juga berpikir mengenai ucapan Septian, ditambah lagi cukup sulit untuk mencari pekerjaan baru.
"Apa yang dikatakan pria tampan itu memang benar, sebaiknya aku menerima tawaran pekerjaan ini." Batin Ara.
"Yang dikatakan Asep memang benar, paling tidak aku bisa mengerjai perempuan siluman itu, ini pasti sangat menyenangkan!" gumam Niko di dalam hati, melirik Ara dan tersenyum tipis. "Baiklah, kau diterima di perusahaan ku. Jika terjadi masalah sedikit saja, kau aku pecat!"
"Tidak masalah, kau boleh menguji kemampuanku."
"Syukurlah jika mereka setuju, aku tidak perlu repot-repot mencari sekretaris baru." Batin Septian menghela nafas lega.
"Bawa sekretaris baru ini ke ruangannya, dan jelaskan peraturan yang ada!" titah Niko.
"Baik, Tuan." Septian membawa Ara untuk keluar dari ruangan itu, sedangkan Niki memijat pangkal hidungnya.
"Ternyata wanita itu bekerja di tempatku, setidaknya aku bisa membalas dendam untuk kejadian tadi pagi," gumamnya yang tersenyum smirk.
Septian menunjukkan semua peraturan yang ada, membuat Ara menautkan kedua alisnya dengan tatapan melongo. "Kenapa peraturannya sangat aneh sekali?" protesnya.
"Aneh bagaimana?" tanya Septian yang mengerutkan kening.
__ADS_1
"Jika bos tidak pernah salah, apa dia itu semacam tuhan atau dewa yang tidak pernah berbuat kesalahan?"
"Hah, bukan kau saja yang melakukan protes seperti itu. Tapi, itulah peraturan yang tercantumkan pada isi kontrak."
"Sial, kenapa aku tidak membacanya bagian penting itu?" sesal Ara yang menandatangani surat kontrak tanpa melihat isi keseluruhan dari perjanjiannya.
"Jika tidak ada pertanyaan lagi, aku akan kembali ke ruanganku." Ucap Septian.
"Hem, terima kasih sudah menuntunku."
"Sama-sama."
Di siang hari, Ara menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik. Hal itu dibuktikan saat Niko puas dengan hasil pekerjaan dari sekretaris barunya. "Ternyata dia cukup pintar juga, lumayan!" gumamnya disertai anggukan kepala.
"Asep!" panggilnya yang berteriak. Dengan cepat Septian masuk ke ruangan atasannya sebelum terkena semprot. "Ada apa, Tuan?" tanyanya yang membungkukkan tubuhnya.
"Minta sekretaris baru itu untuk membuatkanku kopi, kopi yang harus diseduh dengan takaran yang pas, jangan terlalu banyak gula yang bisa membuat diabetes. Ingat! Harus diaduk sebanyak tujuh kali, aku tak ingin gulanya terlalu cepat larut." Pinta Niko yang membuat asistennya melongo dengan mulut yang terbuka. "Kenapa kau masih ada di sini? Cepat pergilah!" tegas Niko kesal.
"Ba-baik Tuan."
__ADS_1
Dengan cepat Septian pergi dari ruangan itu menuju tempat kerja Ara, ingin menyampaikan pesan dari bosnya.
Ara yang baru selesai makan siang melihat Septian yang berjalan ke arahnya, mengerutkan kening dan bertanya. "Kenapa kau terburu-buru?"
"Aku datang untuk menyampaikan pesan dari tuan Niko."
"Pesan?"
"Iya, tuan Niko memintamu untuk membuatkan kopi."
"Baiklah, hanya kopi saja," sahut Ara dengan enteng.
"Aku belum selesai bicara!" cetus Septian.
"Lanjutkan!"
"Tuan Niko menginginkan kopi yang harus diseduh dengan takaran yang pas, jangan terlalu banyak gula yang bisa membuat diabetes. Ingat! Harus diaduk sebanyak tujuh kali, dia tak ingin gulanya terlalu cepat larut."
"Astaga…ternyata hidup pria itu cukup sulit." Gumam Ara yang melongo, mengingat permintaan bosnya.
__ADS_1
"Aku hanya menyampaikannya saja, ya sudah…aku pergi dulu!"