
Alex bergerak maju, memberantas musuh dengan shuriken, sedangkan Niko menembak dari kejauhan, melindungi sepupunya yang sangat pemberani. Alex melakukan gerakan memutar membuat musuh di sekeliling terkena tancapan shuriken yang sangat tajam. Beberapa musuh dapat dia tumbangkan dengan kemampuannya, tapi terjadi masalah besar.
Musuh yang dihadapi oleh ketiganya sangatlah berbahaya, pria itu tersenyum dari kejauhan melihat pertarungan itu. "Ini baru permulaan saja," ucapnya seraya meneguk segelas wine.
Beberapa orang mendekati Niki yang sedang melindungi Amora, menghajar para musuh dengan tangan kosong. Karena musuh semakin banyak mendekat, dengan cepat dia mengeluarkan dua pistol dalam ukuran sedang. Menembak musuh dalam dua arah yang berbeda, Amora sangat ketakutan hingga dia berjongkok dengan menutupi kedua telinga juga matanya, berharap mimpi buruk itu segera berakhir indah.
Niki yang sibuk dalam menghadapi musuh membuat celah seseorang yang sedang memegang senapan dengan laser merah mengarah pada Amora.
Untung saja Niki menyadarinya dengan cepat untuk menyelamatkan wanita itu, dia memeluk tubuh Amora dan menghindari peluru yang hampir saja menembak kepala Amora.
Mereka semakin tersudutkan, musuh yang terus bertambah tanpa henti, seperti tidak ada habisnya. Kekuatan ketiganya mulai melemah dalam menghadapi musuh. Tak butuh waktu lama, para bantuan datang dengan beberapa anggota inti dan juga pasukan elit, seakan kembali mendapatkan semangat baru. "Akhirnya mereka datang!" gumam Niki yang tersenyum.
Serangan demi serangan, suara tembakan yang bersahut-sahutan seakan terdengar melodi indah tak beraturan, keadaan mulai berbalik membuat mereka menang.
__ADS_1
Pria yang memperhatikan hal itu sangat kesal, melempar gelas berisi minuman beralkohol, hingga gelasnya menjadi pecah. "Sial, rencanaku gagal!" umpatnya kesal. Tapi dia kembali tersenyum cerah saat sebuah ide terlintas di otak liciknya.
"Ambilkan aku pistol," titahnya dengan oenuh keangkuhan.
"Baik, Tuan."
Pria itu segera membidik Amora karena menganggap seorang wanita merupakan kelemahan pria.
Dor
"Sebaiknya kita pergi dari sini!" titah pria itu sebelum identitasnya terbongkar.
Amora sangat terkejut melihat pangkal lengan Niki tertembak saat menolongnya. "Tanganmu tertembak," ucapnya seraya menyobek pakaian dan membalut pangkal lengan Niki yang tertembak, berniat untuk menghentikan darah yang terus mengalir.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya Niki yang mengerutkan keningnya seraya melihat tindakan dari wanita itu.
"Darah mu keluar dengan sangat deras, kau mengorbankan nyawa mu demi menyelamatkan nyawaku, dan untuk itu aku ucapkan terima kasih."
"Aku baik-baik saja."
"Sebaiknya kita pergi dari sini," putus Alex.
Mereka masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit keluarga, Niki sangat kesal saat mendengarkan celotehan dari Amora tanpa henti. Sedangkan Alex dan Niko hanya terdiam, tidak ingin ikut campur.
Sesampainya di rumah sakit, Niki ditangani dengan cepat oleh beberapa suster dan dokter, mengeluarkan peluru dan juga menjahitnya.
Amora sangat ketakutan melihat jarum suntik dan juga jahitan di lengan pria itu. Tapi tetap bertahan karena Niki yang dianggap sebagai Niko telah berjasa dalam menyelamatkannya.
__ADS_1
Alex dan Niko pamit untuk pergi dari rumah sakit, karena masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan.
Setelah selasai, Niki terpaksa di rawat inap selama dua hari karena luka yang harus di pantau oleh dokter. Amora sangat heboh, sedangkan Niki malah sebaliknya, apalagi dia sudah biasa mendapatkan luka sejak bekerja sebagai mafia.