Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 23 - Kain sarung keramat


__ADS_3

Niko melirik Niki yang hanya mengangkat kedua bahu dengan acuh, sangat memahami sikap sang kakek yang sangat mencintai uang. Niko menarik kursi, ikut bergabung dan melirik sang kakek yang sedang menghitung uang. 


"Ada apa Kakek memintaku ke sini?" tanya Niko to the point membuat Niki geram dan menjitak kepala kembarannya. "Aku hanya bertanya!" protesnya menatap Niki kesal, mengelus kepalanya dengan pelan. 


"Karena kau bicara langsung ke inti, harusnya kau menanyakan kabar kakek." 


"Ya, baiklah. Aku mengakui jika aku salah! Bagaimana kabarmu, Kakek?" tanya Niko yang tersenyum menatap pria tua yang masih menghitung uang. 


Bukan jawaban yang didapatkan oleh Niko melainkan sebuah tongkat yang mengetuk kepalanya. "Jangan menggangguku saat aku sedang menghitung uang. Hah, aku lupa sampai hitungan ke berapa. Ini semua salahmu, terpaksa aku menghitungnya kembali!" ketus Bonar yang geram dengan Niki. 


"Double kill!" celetuk Niki yang tertawa geli melihat nasib kembarannya. 


"Berhentilah tertawa!" tekan Niko. 


"Memangnya kenapa? Terserah padaku ingin tertawa atau menangis." Sahut Niki enteng. 


"Ya tuhan, kenapa aku terjebak di sini?" gumam Niko yang sedikit menerima hal itu. 

__ADS_1


Setelah selesai bertikai, Niko dan Niki memperhatikan kakek mereka yang masih menghitung uang, membuat keduanya sangat bosan. "Apa perlu waktu yang sangat lama untuk menghitung uang?" celetuk Niko yang jengah. 


"Aku tahu cara memecahkan masalah ini," jawab Niki yang tersenyum tipis. 


"Apa?"


"Aku akan meminta asistenku untuk membelikan alat untuk menghitung uang, bukankah ideku sangat briliant?" 


"Wow, sepertinya itu ide yang sangat menarik."


Beberapa saat kemudian, Bonar yang baru menyelesaikan hitungannya tersenyum menatap satu persatu cucu sultannya. "Hanya kalianlah yang peduli padaku," ucapnya yang bersedih. 


Seketika Bonar menjadi gugup, melupakan jika kedua cucunya sangatlah pintar. "Oh benarkah aku mengatakan hal itu? Kenapa aku tidak mengingatnya? Hah, mungkin saja ini faktor umur!" elaknya yang menghindar. 


"Lupakan itu, ada apa Kakek memintaku kesini?" tanya Niko serius. 


"Hah, hampir saja aku melupakannya. Aku ingin memberimu hadiah yang sangat spesial!" ucap Bonar tersenyum cerah, mengambil sebuah kotak yang berukiran indah. 

__ADS_1


"Hadiah, hanya untukku? Sangat mencurigakan!" ucap Niko yang melirik kembarannya dengan tatapan menyelidik. 


"Apa? Kenapa kau menatapku begitu?" ujar Niki yang berpura-pura polos. 


"Ini sedikit mencurigakan."


"Kau ini sangat aneh, Kakek kah yang ingin memberimu hadiah, bukan aku!" cetus Niki mendelik kesal. 


"Tapi kenapa cuma aku yang di berikan hadiah, aku tidak melihat kotak yang sama di sisi mu."


"Hentikan ini, kalian selalu saja ribut membuat aku kesal saja. Aku memberikan hadiah ini, karena kau cucu tertua." Jelas Bonar yang menyerahkan kotak itu ke tangan Niko. 


"Apa isinya?" tanya Niko yang penasaran. 


"Tentu saja warisan untuk cucu tertua." 


"Apa yang kau tunggu? Bukalah!" sela Niki yang menahan tawa yang hampir meledak. 

__ADS_1


Niko menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan, dia merasa deg-degan dengan hadiah yang di maksud sang kakek. Membukanya secara perlahan, bagai melihat harta karun. Segera Niko melempar kotak karena bau tajam dari kain sarung yang diberikan oleh sang kakek. Tawa Niki pecah saat melihat Niko yang mengeluarkan semua isi makanan di dalam perutnya. 


"Kain sarung yang tidak dicuci lebih dari setengah abad," jelas Niki. 


__ADS_2