
Niki sangat kesal dengan wanita yang sedari tadi membuat telinganya panas, menatap Amora yang tidak bisa diam. "Apa mulutmu tidak bisa diam?" cetusnya.
"Tentu saja aku tidak bisa, ini suatu ciri khas ku." Jawab Amora dengan penuh kebanggaan.
"Jika kau tidak bisa menutup mulutmu? Jangan salahkan aku untuk mencium bibirmu." Ancam Niki yang sangat kesal. Seketika Amora menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, menggelengkan kepala dengan cepat.
"Good girl. Sebaiknya kau pergi dari ruangan ini karena aku ingin beristirahat."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini, kau terluka karena aku. Biarkan aku yang merawatmu selama di rumah sakit," ucap Amora dengan tulus.
"Karena kau memaksa, maka baiklah. Lagipula kau adalah kekasihku, tentu saja harus merawatku yang telah berkorban untukmu." Celetuk Niki yang akan membuat Amora merasa kesulitan. "Jangan panggil aku Niki, jika tak berhasil membuatmu menyerah untuk merawatku, dasar permen karet." Batinnya yang mempunyai ide.
"Baiklah, apa tugas pertamaku?" seru Amora yang bersemangat.
"Aku sangat menginginkan buah naga berwarna merah."
"Baiklah, sesuai permintaanmu." Amora bergegas pergi dari ruang inap Niki untuk mencari buah naga.
Niki menatap kepergian Amora yang menurutnya sangat mengganggu, dia tersenyum saat berhasil mengerjai wanita malang itu.
Telepon berdering memecahkan lamunan Niki, segera mengambil ponsel yang berada di atas nakas, tertera nama dad El. "Kenapa daddy tiba-tiba menelepon?" gumamnya yang segera mengangkat telepon.
"Halo."
__ADS_1
"Niko mengatakan jika pangkal lenganmu tertembak!"
"Niko sialan! Dia mengatakan hal ini pada dad." Gumam Niki yang menjauhkan ponselnya agar tidak didengar oleh ayahnya.
"Apa kau masih ada di sana?"
"Ya, aku masih disini."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik, hanya luka kecil saja. Ini biasa terjadi!"
"Aku tahu, hanya saja Mommy mu sangat cemas."
"Berikan teleponnya pada mom, aku ingin bicara padanya."
"Baiklah."
"Aku baik-baik saja, jangan mencemaskan aku."
"Aku ini mom mu, kami akan segera pulang."
"Baiklah mom, aku ingin istirahat dulu."
__ADS_1
"Hem, baiklah. Jaga dirimu!"
Setelah sambungan telepon terputus, Niki menghela nafas dengan berat dan mengusap wajahnya. "Astaga, kenapa mereka tiba-tiba kembali? Kebebasan ku sedang dipertaruhkan sekarang." Racau nya yang sangat gelisah. "Ini semua karena Niko sialan itu, semoga saja dad El bisa mengatasi sifatnya yang selalu mempermainkan wanita. Ini pasti sangat menyenangkan!" Niki menyunggingkan senyuman di wajahnya, bukan hanya dia saja yang terkena masalah, tapi juga kembarannya.
****
Niko yang sedang bercinta dengan salah satu kekasihnya di hotel terganggu dengan suara dering ponsel, dengan cepat dia mengangkatnya.
"Apa kau merindukan mom?"
"Tentu saja, aku merindukan mom. Ada apa mom menelponku?"
"Apa aku tidak boleh menelepon putraku sendiri?"
"Jangan salah paham padaku, mom."
"Ya, aku meneleponmu untuk mengabarkan, bahwa kami akan segera pulang ke Indonesia, karena kakek Nathan telah sembuh."
"Wow, itu luar biasa. Mansion akan kembali ramai dengan kehadiran kalian semua, bagaimana dengan kakek Bara?"
"Kakek Bara juga sudah pulih, kami semua akan pulang ke Mansion."
"Itu berita yang sangat bagus, aku tutup teleponnya. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
__ADS_1
"Baiklah."
Setelah telepon selesai, Niko terlihat gusar mendengar semua keluarga Wijaya akan kembali, dan itu artinya waktu untuk berkencan dengan wanita berkurang. "Sial, kenapa mereka pulang secara mendadak!" umpatnya kesal seraya mengenakan pakaian, mengusir partner bercintanya karena kehilangan hasrat.