
Amora menatap Niki dengan penuh harap, memperlihatkan puppy eyes yang membuatnya terlihat menggemaskan. "Ayolah, ajak aku bersamamu!" rengeknya yang membuat Niki luluh.
"Apa kau yakin untuk ikut bersamaku?"
"Tentu saja, aku hanya ingin selalu bersama kekasihku. Oh ya, kita mau kemana?" tanya Amora penasaran.
"Ke rumah kakek, tapi kau harus mengingat satu hal."
"Apa itu?"
"Kakek ku itu sudah tua, penyakit pikunnya membuatnya selalu saja memanggil orang lain sesuka hati." Jelas Niki yang sedikit berbohong, karena kakeknya tidak bisa diajak kompromi.
"Ya, aku bisa memaklumi hal itu."
"Jika kakek bertanya padamu, kau diam saja dan membalasnya tersenyum."
"Oh, baiklah. Aku mengerti!"
"Itu bagus."
Bonar celingukan mencari keberadaan Niki yang belum terlihat sama sekali, memegangi perut karena sangat lapar. "Kenapa dia sangat lama? Dia pergi membeli siomay atau membuat adonan siomay?" gerutunya seraya mengipasi tubuh menggunakan kipas sate.
__ADS_1
Penantian Bonar terbayarkan saat melihat Niki yang kembali dengan dua kantong kresek berisi pesanannya, tapi perhatiannya malah tertuju kepada seorang wanita cantik dengan pakaian yang sopan tersenyum ke arahnya. "Apa dia kekasihmu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Benar," sahut Niki yang berbohong.
"Kau terlihat sangat cantik dan juga baik, siapa namamu?" tanya Bonar yang sangat senang, itu artinya sebentar lagi cucunya akan menikah dan membuatnya menjadi seorang buyut.
"Namanya Amora," sahut Niki cepat.
"Ck, aku tidak ingin bertanya padamu!" ketus Bonar yang kesal dengan cucunya.
Amora tidak mengeluarkan sepatah katapun selain membalasnya dengan tersenyum, hal itulah yang membuat Bonar berpikir keras, jika kekasih Niki wanita bisu. Dia menarik tangan cucunya sedikit menjauh, melirih wanita yang ikut bersama Niki.
"Bukan begitu, hanya saja Amora sedang sakit gigi." Jawab Niki asal.
"Itu pasti sangat menyakitkan, pantas saja dia diam, aku pikir kekasihmu itu tidak bisa bicara."
"Hem, begitulah."
"Apa kekasihmu itu kaya?" tanya Bonar dengan semangat, membuat Niki menghela nafas jengah.
"Tentu saja, aku memilih kekasih dengan melihat bibit, bebet, dan bobotnya." Jawab Niki sombong, karena hal itulah dia masih sendiri hingga saat ini.
__ADS_1
"Wow, itu luar biasa." Ucap Bonar yang kagum.
"Aku akan membawanya jalan-jalan, Kakek makanlah siomay itu." Ucap Niki yang berniat menjauhkan Bonar dengan Amora, karena tak ingin jika misinya terbongkar sebelum waktunya.
"Baiklah, buat hatinya senang dan setelah itu pertimbangkan untuk menikah."
"Hem." Niki berjalan ke arah Amora dan menyeret tangan wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sementara Bonar melambaikan tangan mengingat derajat keluarga sultan dan silsilah nya bertambah.
"Aku doakan mereka segera menikah, aku sangat menginginkan seorang cicit yang bermain di pangkuanku," gumam Bonar tersenyum.
"Kenapa kita pergi terburu-buru?" tanya Amora yang menatap wajah tampan yang sedang fokus menyetir.
"Karena kakek harus beristirahat."
"Lalu, kemana kau akan membawaku? Apa kita akan berkencan?" tutur Amora dengan antusias.
"Itu benar, aku sangat merindukanmu."
"Ahh…manis sekali!" sahut Amora yang gemas dengan pria. di sampingnya.
Sebenarnya Niki tidak tahu mau kemana, terus mengemudikan mobil berniat untuk menjauhkan Bonar dengan Amora. Jika penyamaran nya terbongkar? Maka Niko akan kembali menarik saham lima belas persen tanpa tersisa.
__ADS_1