
Seluruh keluarga Wijaya lebih menyukai naik pesawat biasa agar terhindar dari serangan para musuh yang bisa kapan saja menembak dari jalur udara, taktik yang di berikan El berhasil membuat musuh terkecoh. Beberapa mobil yang mengikuti mobil yang di tumpangi oleh keluarga Wijaya, mendapatkan pengamanan yang begitu ketat.
Tak beberapa saat kemudian, mobil berhenti di halaman Mansion Wijaya. Dengan cepat mereka turun dari mobil dan menatap bangunan mewah dengan arsitektur modern dengan mata yang berbinar, sudah bertahun-tahun meninggalkan rumah membuat mereka sangat merindukan tempat itu.
"Ayo kita masuk!" Ajak Alex yang membantu kakek Nathan.
"Hem."
Mereka berjalan masuk ke dalam Mansion, baru beberapa langkah mereka terkejut dengan kejutan kecil penyambutan kepulangan dari Eve. "Selamat datang di Mansion Wijaya!" seru gadis berkacamata tebal, tersenyum memperlihatkan giginya yang di pagar.
"Sangat manis sekali," sela nenek Naina, istri dari kakek Bara. Dengan cepat dia menghampiri sang cucu dan memeluknya dengan erat, pelukan sangat lama demi melampiaskan rasa rindu yang ada di benaknya.
"Jangan diam saja, kalian pasti sangat lelah. Ayo duduklah di sofa!" ucap Eve yang melepaskan pelukannya, tersenyum cerah karena Mansion tidak lagi sepi.
"Apa yang di katakan Eve memang benar," sela Niko.
__ADS_1
Eve menyajikan minuman dan juga cemilan yang telah dibuat oleh pelayannya, terukir senyuman indah di wajahnya. "Silahkan!" ucapnya dengan sopan.
"Bagaimana perusahaan, aliansi Mafia, dan juga tanggung jawab dari semuanya?" tanya kakek Nathan yang menatap ketiga cucunya laki-lakinya dengan tegas.
"Kakek tenang saja, semua aman terkendali." Lapor Niki yang bersemangat.
"Itu bagus, tanggung jawab ini Kakek serahkan kepada kalian bertiga."
"Alex!" panggil mom Shena yang menatap putranya.
"Dimana kedua saudara kembarmu? Alexa dan juga Alexi?" tanya mom Shena yang celingukan mencari kedua putri kembaran Alex.
"Mereka sangat sibuk dalam mengelola L'Boutique," jawab Alex dengan santai.
"Hem."
__ADS_1
Niko dan Niki tersenyum, lebih tepatnya tersenyum pura-pura agar tidak dicurigai oleh para tetua di Mansion. "Bagaimana kau bisa mendapatkan luka di pangkal lengan mu?" Tanya kakek Nathan dengan tatapan penuh penyelidikan.
"Seperti yang Kakek tahu, peluru nyasar mengenai lenganku." Jawab Niki tersenyum paksa, melirik kembarannya yang sangat bodoh.
"Ck, kau tidak bisa berbohong. Apakah musuh sudah bermunculan?" ujar kakek Nathan yang terus menginterogasi cucunya layaknya seorang polisi.
Niko dan Niki menganggukkan kepala dengan sangat pelan, mengingat keamanan yang sangat rentan akibat kesibukan masing-masing. "Apa yang kalian kerjakan hingga keamanan tidak stabil?" kakek Nathan menatap kedua saudara kembar itu dengan tajam juga dingin, mengingat pekerjaan Niko dan Niki yang kurang memuaskan.
"Maafkan kami, Kek. Sungguh, kami tidak akan mengulangi hal ini lagi." Niko dan Niki segera bersimpuh di kaki kakeknya, kelalaian mereka bisa di manfaatkan oleh musuh.
"Katakan kepadaku, apa kalian menjaga Eve ku dengan baik?" ucap kakek Nathan dengan tatapan intimidasi.
"Kak Niko tidak menjagaku, Kek. Tapi, malah sebaliknya." Sela Eve tanpa takut dengan gertakan Niko yang membelalakkan kedua matanya.
"Sudah aku katakan, jika kalian harus menjaga Eve dengan baik. Jika sampai terjadi apa-apa padanya? Maka bersiaplah untuk menerima konsekuensi dan hukuman dariku." Ucap kakek Nathan seraya mengancam.
__ADS_1