
"Aku belum selesai bicara dan kau malah merampas ponsel itu," cetus Bonar yang kesal.
"Tentu saja aku mengambilnya ponsel ini, lagi pula tidak ada gunanya Kakek mengatakan hal ini."
"Apa maksudmu?" tukas Bonar yang mengerutkan kening.
"Apa kakek lupa, siapa aku? Bahkan tabunganku sangat cukup untuk tiga keturunanku kelak," ucap Niki dengan sombong.
Bonar menghela nafas, karena apa yang dikatakan oleh cucunya memang benar. "Hah, kau benar. Kau itu cucu sultanku dan yang pastinya tidak kekurangan uang, untung saja putriku mau menikah dengan daddymu."
"Syukurlah jika Kakek mengerti."
"Bisakah kau membelikanku siomay?" pinta Bonar dengan tatapan berbinar.
"Apa semacam obat sakit kepala?" tebak Niki yang tampak berpikir, karena dia tidak tahu makanan sederhana.
"Astaga…kau bahkan tidak tahu apa itu siomay," seloroh Bonar yang menepuk keningnya pelan, mengingat menantunya tidak memperbolehkan cucunya makan sembarang. "Siomay itu makanan yang lumayan mengganjal perut, harga ekonomis dan terjangkau," terangnya bersemangat.
"Hah, Kakek seperti orang hamil saja. Baiklah, aku pergi dulu."
"Satu jam, waktumu hanya satu jam saja!" tekan Bonar.
__ADS_1
"Hem." Niki pergi meninggalkan tempat itu, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi asistennya yang bernama Bram.
"Halo, tuan!"
"Apa kau begitu sibuk hingga melupakan bosmu yang paling tampan ini?"
"Hah, bagaimana lagi? Tuan sendirilah yang memberikan aku pekerjaan tambahan."
"Ck, aku tidak ingin mendengar curhatanmu. Apa kau sudah melakukan perintahku?"
"Sudah, tuan!"
"Hem, itu bagus. Apa kau tahu siomay?"
"Ck, ternyata kau ini tidak tahu apapun. Lanjutkan saja pekerjaanmu!"
Niki memutuskan sambungan telepon dengan sepihak, karena dia sama sekali tak tahu makanan yang terasa asing di telinga.
"Aku mengira jika dia tahu, tapi sama saja. Sebaiknya aku cari saja sendiri dengan bantuan internet," gumamnya santai.
Setelah lama mencari, akhirnya Niki menemukan sebuah warung lumayan besar yang menjual siomay, memesan dua porsi karena dia sangat penasaran dengan rasanya. Selesai mendapatkannya, dia memutuskan untuk kembali sebelum waktu yang telah ditetapkan oleh sang kakek.
__ADS_1
Senyum Niki memudar saat kantong kresek yang berisi dua porsi siomay jatuh kelantai akibat seseorang tak sengaja menabraknya. "Apa kau tidak punya mata?" ketusnya yang kesal, mengingat menunggu antrian membutuhkan waktu.
"Maaf, aku tidak se__" ucap wanita itu yang menyesal, kedua pupil matanya membesar saat melihat seorang pria yang dikenalnya. "Niko! Kau di sini?" ucap Amora yang langsung memegang tangan kekasihnya, mengira jika itu adalah Niko.
"Amora."
"Maaf, aku tak sengaja menyenggol mu hingga siomay itu jatuh. Tapi kau tenang saja, aku akan menggantinya!"
"Tidak perlu, itu pasti membutuhkan waktu lama dalam mengantri."
"Kau tenang saja, ini salah satu usahaku." Ucap Amora yang tersenyum tulus.
"Wow, aku terkesan."
"Karena kau adalah kekasihku, tunggu sebentar. Aku akan menggantikan semua nya."
"Baiklah." Niki tersenyum dengan wanita yang sebagai kekasih dari saudara kembarnya, wanita mandiri dan tidak murahan seperti para kekasih Niko yang lainnya.
Tak lama, Amora datang dengan senyum yang mengukir indah di wajahnya. Membawakan dua kantong kresek dan menyerahkannya ke Niki.
"Terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu!" ucap Niki yang membalas senyum wanita itu.
__ADS_1
"Sama-sama, apa aku boleh ikut bersama mu?" tanya Amora dengan penuh harapan.
"Astaga…bagaimana ini? Jika dia ikut bersamaku, bisa saja Kakek mengatakan yang sebenarnya." Batin Niki tampak berpikir.