
Di malam harinya, Niko memutuskan untuk duduk di balkon kamarnya. Melihat suasana malam hari dari atas, menatap langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang yang bertaburan. Ditemani dengan secangkir kopi membuat malamnya semakin tenang, sunyi dan damai.
"Kau di sini? Tadi siang kau kemana?"
Suara seseorang membuatnya menoleh kebelakang, melihat sang pelaku yang tak lain adalah Niki. "Aku hanya ke Cafe Floress dan ruangan tembak, kenapa?" ucap Niko santai.
"Kau tanya kenapa? Menjebakku dengan wanita yang sangat aneh itu," keluh Niki yang duduk di sebelah kembarannya.
"Bukankah kau mendapatkan sepuluh persen saham dariku?"
"Hah, kau sangat mengetahui kelemahanku," ujar Niki yang menghela nafas berat.
"Tentu saja, tolong kau tangani wanita cerewet itu."
"Kenapa tidak kau saja?" tanya Niki dengan tatapan penyelidikan.
"Aku sudah bosan dengan nya, dia wanita yang sangat tidak menarik. Jadilah aku dan gantikan aku jika berhadapan dengan Amora." Cetus Niko yang terlihat putus asa.
__ADS_1
"Jika kau tidak menyukainya, kenapa tidak kau putuskan saja wanita aneh itu."
"Ck, aku bahkan memutuskannya berkali-kali, tapi dia terus saja mencari alasan dan memohon padaku. Yah…kau tahu sendiri bagaimana aku, tidak tega membuat orang lain bersedih." Tutur Niko dengan penuh dramatis membuat Niki jengah dan jitak kepala kembarannya.
"Dasar tukang drama, kau sangat cocok memerankan sebuah film."
"Sial, berani sekali kau menjitak kepalaku. Rasakan ini!" Niko membalas perbuatan kembarannya, membuat keduanya bergelut layaknya sewaktu kecil.
Mereka berlarian memenuhi Mansion,tertawa bahagia untuk saling menghibur diri. Niki menindih Niko di lantai, posisi yang terlihat sangat intim membuat seseorang salah paham.
Niko dan Niki mengalihkan perhatian menatap ke sumber suara, terlihat seorang wanita cantik dengan rambut gelombang nan indah. "Baby?" ucap mereka serempak.
"Aku tidak melihat apapun, kalian lanjutkan saja." Ucap Baby yang masih menutup kedua matanya sembari berbalik badan.
"Kami masih normal, hanya saja kau datang diwaktu yang tidak pas." Terang Niki yang berusaha meluruskan kesalahpahaman wanita yang setahun lebih tua dari mereka.
"Oh, semoga kalian berdua tidak belok." Ucap Baby yang membuka kedua matanya, menatap kedua pria tampan sekaligus teman masa kecilnya.
__ADS_1
"Kapan kau kembali?" tanya Niko yang sangat antusias, melingkarkan tangan kanannya di leher jenjang milik wanita cantik itu.
"Baru saja, ada urusan yang harus aku selesaikan di indonesia. Tapi, bisakah kau menyingkirkan tanganmu di bahuku?" cetus Baby yang sangat kesal dengan perlakuan Niko.
"Tidak," tolak Niko yang disertai senyuman memperlihatkan gigi putih nan rapi.
"Niki! Kau selalu saja menggangguku!" bentak Baby yang sangat risih dengan pria itu.
"Apa? Aku hanya diam dan kau malah menyeret namaku, pria sialan di sampingmu itu Niko." Jelas Niki yang kesal. Sedangkan Niko terkekeh geli mengingat wanita di sebelahnya tidak bisa membedakannya dengan kembarannya, Niki.
"Eh, sepertinya aku salah orang. Niko, singkirkan tanganmu dari bahuku!" ketus Baby yang meralat perkataannya.
"Baiklah, jangan marah-marah atau kau akan bertambah tua," ejek Niko yang berlalu pergi meninggalkan Niki dan Baby.
"Apa begini sambutan yang diberikan oleh pria sialan itu?" kesal Baby yang menatap Niki untuk meminta penjelasan.
"Mana ku tahu, duduklah! Kau pasti lelah," ucap Niki mempersilahkan.
__ADS_1