
Niki menatap wanita cantik dengan rambut gelombang, sedangkan yang di tatap kembali menatapnya. "Katakan dengan jujur, kenapa kau kembali ke indonesia?" ucapnya tanpa basa-basi.
"Apapun alasannya kau tidak perlu tahu," cetus Baby.
"Biar kutebak, kau kesini pasti mencari Alex. Apa aku benar?" tebak Niki, karena sedari dulu Baby selalu mendekati sepupunya yang mempunyai phobia akan perempuan.
"Ya baiklah, kau berkata benar. Hanya saja pria dingin itu selalu sibuk dengan pekerjaan." Jujur Baby.
"Alex menang seperti itu, tapi kau terlambat karena pria itu tidak ada di Indonesia, sepertinya kau salah informasi," ledek Niki.
"APA? Menurut informasi Alex ada di Indonesia." Ucap Baby yang sangat syok dengan perkataan dari Niki, sepupu dari pria yang dia cintai.
"Jika dia ada di Indonesia, sudah pasti akan pulang ke Mansion utama." Jelas Niki.
"Hah, sepertinya dia menghindar dariku." Lirih Baby yang terlihat kecewa.
"Lupakan saja kanebo kering itu," cetus Niki yang jengah dengan situasinya saat ini.
__ADS_1
"Tidak, aku akan menaklukkan kulkas lima pintu itu. Kau lihat saja nanti!" Baby berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya keluar dari Mansion Wijaya.
"Ya, aku percaya itu. Semoga berhasil!" ucap Niki yang menatap kepergian wanita itu, menggelengkan kepala dengan keteguhan Baby. "Dasar keras kepala!" gumamnya seraya bersantai di sofa.
Tak lama, Niki melihat Niko yang telah berpakaian rapi. "Apa kau ingin berkencan?" tanyanya yang menautkan kedua alisnya.
"Yap,lebih baik aku pergi daripada melamun seperti orang bodoh," sindir Niko.
"Sial, pergi sana! Kau hanya merusak hari ku." usir Niki.
Niko menyeringai tipis dan meleparkan salah satu ponselnya, dengan cepat Niki menangkap ponsel itu. "Hari ini aku ingin berkencan dengan kekasihku, kau tangkal Amora." Titah Niko sesuka hatinya.
"Begini saja, gantikan aku selama sebulan dan setelah itu kau putuskan wanita kaleng rombeng itu," tawar Niko.
"Kenapa kau ingin memutuskannya?" tanya Niki yang tidak mengerti alasan dari kembarannya.
"Itu perjanjianku dengannya, sudahlah jangan banyak bertanya. lima belas persen sahamku untukmu, asal kau ingin menggantikan aku." Tutur Niko yang tergesa-gesa pergi dari sana.
__ADS_1
Mendengar kata saham membuat Niki sangat bersemangat, itu sama saja dia menambah tabungan. "Deal, aku setuju!" ucapnya dengan tersenyum.
"Kau hadapi si cerewet itu, aku pergi dulu!" pamit Niko yang pergi dari tempat itu.
Niki tersenyum membayangkan entah berapa banyak tabungannya yang dikumpulkan sejak kecil, dia bahkan lebih kaya dari sepupunya yang lain. "Hah, kakek pitak pasti bangga dengan pencapaianku saat ini. Mengingatnya membuat aku rindu dengan pria tua yang sangat materialistis itu." Monolognya.
****
Niko sangat kesal, kencannya terpaksa ditunda akibat meeting dengan klien penting. Setelah meeting selesai, dia kembali ke ruangannya, menarik dasi yang seakan mencekik lehernya. Membuka pintu ruangan dan memilih duduk di sofa di dalam ruangan, Septian terus memperhatikan tingkah bosnya.
"Panggilkan sekretaris dan minta data yang telah di input," titah Niko sembari memijat pelipisnya.
"Apa Tuan lupa? Jika sekretaris Rini mengambil cuti melahirkan." Lapor Septian.
"Asep, apa saja pekerjaanmu di sini, hah? Kenapa kau tidak mencari sekretaris pengganti?" bentak Niko yang sangat kesal dengan pekerjaan asisten nya lamban.
"Maaf Tuan."
__ADS_1
"Baiklah, kau carikan aku pengganti sekretaris Rini dalam waktu dua hari."
"APA?"