Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 18 - Simbiosis mutualisme


__ADS_3

Baru saja Niko ingin mengerjakan pekerjaannya, tapi terhenti saat terdengar suara ketukan pintu. "Masuk!" ucapnya yang mempersilahkan masuk. 


Septian membuka pintu dengan raut wajah yang berseri, mengetahui jika pekerjaannya terselesaikan dengan cepat. "Tuan, saya membawa sekretaris baru." Ucapnya sembari menyuruh wanita itu untuk masuk ke dalam ruangan. 


Niko yang awalnya fokus ke layar pipih, menarik perhatiannya kepada sekretaris baru. Kedua pupilnya membesar saat mengetahui siapa wanita yang akan bekerja di perusahaannya. "KAU?" ucap keduanya serempak, sementara Septian hanya menggaruk kepala karena tak memahami kejadian itu. 


"Asep, kenapa kau membawa wanita kuno ini ke ruanganku?" ucap Niko yang meninggikan suara, menatap asistennya dengan tajam. 


"Septian Tuan, bukan Asep." Ralat Septian yang protes jika namanya di ganti dengan mudah oleh sang atasan. 


"Ck, sama saja dan tidak berpengaruh padaku. Jangan katakan, jika wanita kuno ini adalah sekretaris baru!" ujar Niko yang sedikit terkejut, akibat insiden tadi pagi membuatnya sangat kesal dengan Ara, si gadis cupu dan kuno. 


"Namaku di beri dengan penuh cinta, Tuan. Dan masalah sekretaris baru, inilah orangnya."

__ADS_1


"Apa? Begitu banyak wanita cantik, tapi kenapa kau memilih wanita jadi-jadian ini?" ujar Niko yang tak terima sembari melirik penampilan Ara. 


"Tunggu dulu! Kau mengatai aku wanita jadi-jadian? Apa kau pikir dirimu begitu sempurna?" ketus Ara yang protes, membetulkan kacamata tebalnya seraya menatap Niko kesal. 


"Ck, kau lihatlah bayanganmu sendiri di cermin." Ucap Niko. 


Sedangkan Septian hanya menatap mereka secara bergantian, tanpa berniat untuk melerainya. "Ini kali pertama aku melihat momen ini," gumamnya yang tersenyum cerah, melihat seorang wanita menantang bosnya. 


"Apa kau berpikir jika aku sangat menginginkan bekerja disini? Tidak." Tekan Ara. 


"Asep, kau bawa perempuan siluman ini untuk keluar dari ruangan ku!" titah Niko. 


"Ck, tanpa kau minta pun aku juga akan keluar dari sini." Balas Ara dengan tatapan sengit.

__ADS_1


"Astaga…jika nona Ara keluar dari pekerjaannya, itu artinya aku harus menemukan sekretaris baru dalam waktu singkat. Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera bertindak." Gumam Septian yang di dalam hati. "Kita sudah terikat kontrak dengannya, Tuan. Tidak bisa di batalkan, paling tidak nona Ara bekerja selama satu bulan." Septian memberanikan diri untuk membuka suara. 


"Tapi aku tak ingin hal itu terjadi, wanita ceroboh ini tidak akan sanggup bekerja di perusahaan ku," tolak Niko. 


"Lebih baik aku mencari pekerjaan lain ketimbang harus bekerja di perusahaan milik pria kaya nan sombong!" cetus Ara yang memelas, jengah dengan situasinya saat ini. 


"Akhirnya kau sadar diri juga, pintu keluarnya ada di sebelah sana!" tukas Niko yang menunjukkan arah pintu, memberi isyarat agar wanita itu pergi meninggalkan ruangannya. 


Septian sangat kesal dengan dua orang yang sama-sama keras kepala, menggebrak meja dengan kuat membuat keduanya tersentak kaget. "Diamlah!" ucapnya dengan kesal. 


"Ck, berani sekali kau menggebrak meja di hadapanku. Apa kau ingin dipecat?" ancam Niko yang kesal dengan aksi asistennya. 


"Saya tidak bermaksud begitu, Tuan. Hanya saja, cukup sulit mendapatkan sekretaris baru dengan kualitas tinggi. Sebaiknya Tuan menerima nona Ara, dan nona Ara sebaiknya menerima tawaran ini. Ini yang disebut dengan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Bukankah ideku sangat briliant?" terang Septian yang membujuk kedua orang berkepala batu. 

__ADS_1


__ADS_2