Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 21 - Hadiah dari kakek


__ADS_3

Niki terus menatap pria tua yang lebih tertarik menghitung uang merah, seketika dia menyadari tatapan itu. "Kenapa kau menatapku begitu?" ucap Bonar yang mendongakkan kepala karena penasaran. 


"Tidak, bagaimana jika Kakek ikut tinggal di Mansion atau di apartemen ku saha?" ide Niki dengan bersemangat. 


"Memangnya kau siapa berani mengaturku, hah?" ketus Bonar yang menahan amarah. 


"Bukan begitu, jika Kakek di panggil oleh__" Niki mengangkat tangannya ke atas dengan pandangan ke atas, membuat Bonar mengikuti yang dilakukan oleh cucunya. 


Bonar terbelalak kaget, saat memahami maksud dari cucu lucknut nya. "Cucu durhaka! Apa kau mendoakanku agar cepat mati?" pekiknya seraya memukul kepala Niki menggunakan tongkatnya. 


"Auh…ampun Kek, aku hanya becanda saja. Ayolah, tinggal bersamaku saja." Niki terus membujuk kakeknya. 


"Sekali aku katakan tidak…berarti tidak. Jangan memaksaku!" bentak Bonar. 


Terlintas muncul sebuah ide di pikiran Niki, tersenyum dan berharap jika pria tua itu ikut tinggal bersamanya. "Bagaimana jika aku memberi Kakek satu koper uang berwarna merah?" sogoknya yang mengetahui sifat sang kakek hampir sama dengannya. 

__ADS_1


Seketika otak Bonar sumringah mendengar kata uang sebanyak satu koper penuh, namun dengan cepat dia menepis pikiran itu demi mempertahankan rumah yang berisi kenangan bersama istrinya. "Walaupun kau memberikan uang yang begitu banyak, aku tidak akan tertarik meninggalkan rumah ini." Tolaknya. 


Niki menghela nafas dengan kasar, melihat kesungguhan hati sang kakek yang masih mempertahankan kenangan bersama istri tercinta. "Jika itu keputusan Kakek, aku bisa apa. Apa bibi Lolita dan paman Panji sering datang kesini?" tanyanya dengan penuh hati-hati, takut jika pria tua itu tersinggung. 


"Bahkan mereka tidak pernah mengunjungiku, kedua putriku sama saja, lebih menghiraukan keluarga suaminya dibandingkan aku." Terpancar mata kemarahan dan kekecewaan, tapi Bonar berusaha untuk menutupi semua perasaan sunyi tinggal di rumah sederhana. 


"Kakek jangan bersedih, aku masih ada di sini 'bukan? Mulai sekarang aku akan tinggal di rumah ini," ucap Niki yang mencoba mengobati rasa sunyi di diri sang kakek. 


"Apa kau sungguh-sungguh?" ucap Bonar dengan mata yang berbinar. 


"Tentu saja."


"Apa kakek akan memberikan warisan padaku?" gumam Niki yang sudah tidak sabar. 


Beberapa saat kemudian, dia melihat Bonar sedang memegang sebuah kotak kayu dengan ukiran yang sangat kuno. "Wah, ternyata berbakti kepada kakek membawa berkah!" gumamnya dalam hati, tersenyum dengan harapan penuh. 

__ADS_1


"Ini ambillah, di antara semua cucuku hanya kaulah yang aku berikan hadiah yang sangat spesial." Ucap Bonar yang tersenyum tulus, memperlihatkan gigi ompong berwarna kuning. 


"Apa Kakek yakin memberikan ini padaku?" yang Niki bersemangat. 


"Tentu saja, aku bahkan pernah memberikannya kepada daddymu dan juga paman mu, hanya saja mereka menolak. Entah apa sebabnya," ungkap Bonar menghela nafas. 


"Wah…sayang sekali mereka menolak pemberian dari Kakek." 


"Yah, jangan banyak bicara. Bukalah peti kayu itu!" titah Bonar. 


Niki sangat tidak sabar dengan hadiah apa yang diberikan oleh sang kakek, mata berbinar saat membuka kotak kayu dengan ukiran khas yang menyilaukan mata. Tercium bau yang semerbak membuat Niki merasa sangat mual dan kembali menutup kotak itu. 


"Ada apa?" tanya Bonar penasaran. 


"Apa isi kotak itu, Kek?"

__ADS_1


"Kain sarung keramatku, sudah lebih setengah abad tidak dicuci." Jawab Bonar dengan santai. 


"APA?"


__ADS_2