
Di malam hari, semua orang anggota inti dari aliansi mafia Black Wolf yang dikelola oleh Niki mengumpul informasi mengenai permasalahan yang tidak bisa ditangani sendiri, memilih untuk minta bantuan dari sepupu dan juga saudara kembarnya.
"Aku sudah datang kesini, cepat jelaskan masalah yang terjadi." Ucap Niko serius, tidak sabar untuk mengetahui masalah apa yang dimaksud oleh kembarannya.
"Ck, tunggulah sebentar lagi." Cetus Niki.
"Siapa yang kau tunggu?"
"Apa kau lupa? Jika aku juga mengundang Alex, dia sangat memahami masalah taktik."
"Masalah taktik rencana, kau bisa tanyakan langsung kepadaku." Tawar Niko yang membusungkan dada dengan bangga.
"Aku tidak percaya lagi dengan taktik penyerangan mu itu, karena sebelumnya kau mengacaukan situasi. Untung saja Alex dapat di hubungi dan memberikan taktik jitu," ungkap Niki yang menatap kembarannya dengan jengah.
"Itu hanya masalah teknik saja!" elak Niko dengan wajah memelasnya.
"Jika Alex tidak datang? Mungkin kita sudah tiada, tunggulah sebentar lagi."
"Terserah, aku akan menunggunya setengah jam lagi! Jika dia tidak kembali, maka aku akan pergi dari sini. Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus," jelas Niko.
__ADS_1
Niki menghela nafas dengan jengah, bosan mendengar perkataan dari saudara kembarnya. Tak lama, terdengar suara tapak sepatu yang semakin dekat ke arah mereka. Seorang pria tampan yang mengenakan setelan jas membuatnya auranya semakin kental dirasakan oleh orang sekitarnya. Niki tersenyum saat melihat kehadiran Alex, dan datang menghampirinya.
"Akhirnya kau datang!" ucap Niki yang memeluk Alex dengan tersenyum cerah."
"Pasti," sahut Alex singkat membuat Niko menggelengkan kepala, dan berjalan ke arah dua pria tampan itu.
"Hanya satu kata saja? Luar biasa," ledek Niko yang menyeringai.
"Kau tidak perlu mendengarkan Niko, karena di otaknya hanya ada isi kacamata kuda dan isi segitiga bermuda." Terang Niki yang dapat melirik kembarannya dengan jenuh.
"Itulah hidup yang dipenuhi karya seni, coba sekali saja dan kalian berdua pasti ketagihan." Petuah Niko dengan bangga.
"Hem," Alex mengedipkan matanya sekali dan mengangguk pelan.
"Silahkan duduk!" Niki mempersilahkan untuk duduk.
Ada enam orang pria yang berada di ruangan itu, Niko, Niki, Alex, dan ketiga asisten anggota kini hadir dalam perencanaan taktik untuk melawan musuh.
"Ada beberapa orang yang mengacaukan jalan operasi persenjataan yang akan di ekspor ke Rusia," Jelas Niki.
__ADS_1
"Apa dia mengambil senjata atau hanya mengacaukan saja?" tanya Niki dalam mode serius.
"Aku sudah mengecek senjata itu secara berulang, dan tidak ada kejanggalan." Terang Niki.
"Apa kau yakin sudah mengeceknya?" Niko mengerutkan kening menatap kembarannya, sedangkan Alex hanya menyimak pembicaraan itu dengan khidmat, lalu barulah dia bisa memberikan pendapat.
"Sudah, dan aku juga menemukan sebuah petunjuk lain."
"Petunjuk?"
"Hem, sebuah tanda pengenal dari anggota mafia."
"Bisa kau tunjukkan?" ucap Alex dengan tatapan dingin.
"Tentu saja," sahut Niko dengan ceoat, melirik asistennya untuk menyerahkan bukti itu. Alex mengambilnya dan mulai meneliti sebuah simbol yang terasa tidak asing.
"Ini seperti simbol dari aliansi Mafia Tiger milik paman Zean." Ungkap Alex yang membuat saudara kembar terkejut.
"Apa kau yakin? Bukankah paman Zean berhenti menjadi seorang mafia saat mempunyai Baby?" sanggah Niko yang tidak yakin.
__ADS_1
"Apa kau lupa? Jika mafia Tiger di jalankan oleh anaknya yang bernama Rayyan," cetus Niki yang menatap kembarannya.