
Sementara di tempat lain, ada Niko yang sedang menjalankan rapat penting bersama klien lain. Melihat kinerja dari sekretaris cupunya yang terlihat sangat profesional, bahkan Septian juga kagum. Penjelasan yang diberikan oleh Ara membuat para klien menyetujui untuk tanda tangan kontrak. "Wah, ternyata wanita jelek itu mengerjakan tugasnya dengan sangat baik." Batin Niko.
Setelah rapat selesai, Niko meminta asistennya untuk memanggil sang sekretaris baru untuk memberikan apresiasi. Terlihat sura pintu yang terbuka lembar menarik perhatiannya, tersenyum tipis saat melihat kedatangan Ara yang berjalan semakin dekat dengannya. "Ada apa Tuan memanggilku kesini?" tanyanya.
"Aku terkesan dengan caramu yang mempresentasikan peluncuran produk terbaru, semua klien tertarik untuk melakukan kerja sama."
"Aku melakukan pekerjaan sesuai kemampuanku saja, Tuan."
"Aku akan memberikanmu bonus atas kerja kerasmu!" Niko mengulurkan sebuah amplop yang berisi uang merah satu ikat.
Ara mengambil amplop dan melihat isinya, terkejut dengan uang yang di dapat atas apresiasi pekerjaannya. "Wah, aku bisa mentraktir Tari." Batinnya tersenyum sumringah.
Septian meringis, merasa iri dan cemburu dengan bonus nya yang hampir tidak pernah dia dapatkan. "Dasar pelit, aku yang setia tidak pernah mendapatkan bonus." Lirih pelannya yang masih terdengar di telinga Niko.
__ADS_1
"Ck, berhentilah mengumpat. Aku bukan bos kejam, tapi pria dengan baik hati. Ini ambillah!" Ucap Niko yang mengulurkan amplop sebagai bonus untuk apresiasi. Seketika mata Septian berubah cerah, mendapatkan bonus yang sama besarnya dengan Amora. "Apa kau masih ingin mengumpat ku di belakang? Jika itu sampai terjadi? Maka anu mu aku goreng crispy!" sentak Niko yang jengah. "Sekarang kalian boleh pergi!"
"Baik, Tuan!" jawab mereka serempak.
Setelah kepergian mereka, Niko kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
****
Ara pulang ke rumah dengan hati yang sangat, mengecek keberadaan sang sahabat di seluruh ruangan kontrakan. "Tari…Tari, kau dimana?" teriaknya yang terus mencari di setiap sudut ruangan. "Sebaiknya aku menyusulnya di tempat kerja, mungkin saja dia ada di sana," gumamnya yang segera menutup pintu kontrakan menuju Cafe.
Ara masuk ke dalam Cafe dan melihat sahabatnya yang tengah membersihkan meja dan juga kursi. Segera dia menghampiri Tari dan memeluknya dengan erat, sang empunya menatap sang pelaku dan membuatnya sangat senang, mereka berpelukan dan mengobrol sejenak.
"Aku dapat bonus dari bos, dan berniat untuk mentraktirmu," ucap Ara yang sangat antusias.
__ADS_1
"Wah, kau sangat beruntung!" celetuk Tari yang cemburu dengan penghasilan dan keberuntungan dari sahabatnya.
"Bagaimana jika kita ke salon," usul Tari yang membuat Ara terdiam sejenak. "Tidak, aku uangnya akan habis dengan sia-sia." Jawab Ara.
"Ini hanya sekali saja, ayolah! Apa kau tidak ingin merubah penampilan mu itu?" rengek Tari yang sangat merindukan ke salon untuk perawatan.
"Baiklah, kita akan ke salon." Ujar Ara yang membuat Tari sangat senang, memeluk sahabatnya dengan erat.
"Aku harus menyelesaikan tugasku, dan setelah itu kita bisa pergi," usul Tari yang segera membersihkan dan menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Baiklah, aku akan menunggumu."
Ara memutuskan untuk duduk di kursi seraya memainkan ponsel, tapi dia tak sengaja melihat Niko yang sedang berkencan dengan dua orang wanita seksi membuatnya semakin penasaran.
__ADS_1