
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Niki. "Masuklah!" ucapnya dengan lantang. Pintu terbuka, terlihat seorang wanita berpenampilan sederhana membawa buah naga berwarna merah, wajah cantiknya terus mengukir senyuman indah.
"Aku sudah membawakan buah naga nya," seru Amora yang antusias, meletakkan buah naga di atas nakas. "Apa kau butuh sesuatu?"
"Hem, tentu saja. Potong buah naga menjadi kecil-kecil, aku ingin dalam satu buah menjadi lima puluh bagian. Apa kau mengerti?" ucap Niki yang menyulitkan kekasih dari saudara kembarnya.
"Kenapa lima puluh bagian? Apa kau juga Mengunyah satu potongan kecil buah naga sebanyak tiga puluh tiga kali?" celetuk Amora dengan wajah yang pelongo, menyindir pria itu karena sedikit kesal untuk memenuhi permintaan Niki.
"Tentu saja, dengan begitu semua makanan tercerna sempurna."
"Sejak kapan kau menjadi sangat menyebalkan?" gerutu Amora yang menghentakkan kedua kakinya, raut wajah yang cemberut tetap melakukan perkataan dari pria yang mengira adalah Niko, kekasihnya.
"Karena kau sangat cerewet, persis seperti radio rusak. Apa kau ingin, jika kekasihmu yang paling tampan nan rupawan ini menjadi tuli?" Ungkap Niki yang mengeluarkan unek-unek di dalam hati.
__ADS_1
"Kau tahu? Aku menyukaimu karena sikapmu yang begitu dingin padaku, hanya saja beberapa hari ini kau berubah menjadi sangat menyebalkan," lantang Amora.
"Bukan berubah, karena aku hanya kembaran dari kekasihmu," batin Niki, dia tak ingin mengungkapkan apapun pada wanita itu. Lebih menjaga rahasia dia dan Niko tetap aman, dengan begitu saham lima belas persen masih berada di genggaman. "Jangan banyak mengeluh, lakukan dengan wajah tersenyum. Asal kau tahu, aku mengorbankan diriku untuk menyelamatkanmu." Terang Niki.
"Oho, apa itu artinya kau tak rela menyelamatkan kekasihmu?" sahut Amora yang menatap Niki sinis.
"Bisakah kau diam? Suaramu membuat aku sakit kepala."
Amora sangat terkejut dengan kekasihnya, dia merasa jika Niko berubah. "Aku tidak akan diam, apa maumu?" tantangnya yang bertolak pinggang.
"Berani sekali kau menciumku! Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak berhubungan fisik!" bentak Amora yang ingin melepaskan diri dari dekapan pria tampan di depannya.
"Kenapa? Apa masih kurang?" sahut Niki santai dan kembali mencium bibir merah merona milik Amora. Kali ini dia memperdalam ciuman itu, menjelajahi rongga mulut Amora dan menikmati permainannya. Dia terpaksa melepaskan ciuman itu saat melihat Amora hampir saja kehabisan nafas, memberikan ruang untuk menghirup oksigen.
__ADS_1
"Kau merenggut ciuman pertamaku," gerutu Amora seraya menghapus bekas saliva yang menempel di bibirnya. Jangan tanya bagaimana perasaan Niki, yang jelas dia sangat bahagia melihat raut kekesalan dari wanita itu.
"Apa kau yakin itu ciuman pertamamu?" tanya Niki dengan tatapan penyelidik.
"Tentu saja, aku hanya ingin berciuman dengan suamiku nanti. Tapi kau?" Amora menunjuk wajah Niki, menahan amarah pada pria yang berani mengambil ciuman pertamanya.
"Ya, alasan yang logis. Tapi itu sudah terjadi 'bukan? Kau sangat beruntung mendapatkan ciumanku," ucap Niki yang menyombongkan diri.
"Kau benar-benar keterlaluan, sebaiknya aku pergi!"
"Jika kau pergi, siapa yang akan merawatku di sini?"
"Masih ada suster dan juga dokter, aku mencabut kata-kataku!" pekik Amora dan pergi dari ruang inap itu.
__ADS_1
"Heh, ternyata menyingkirkan wanita cerewet itu sangatlah mudah." Gumam Niki yang menyeringai.