
Niki baru saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya. Seorang pria yang berjalan ke arahnya dengan langkah yang tergesa-gesa, terlihat raut wajah kekhawatiran menyelimuti wajah tampannya.
"Apa kau sudah mengetahui hal ini?"
"Mengetahui apa?" ulang Niki yang mengerutkan kening.
"Mengenai kepulangan semua orang," jelas Niko yang memegang keningnya.
"Apa kau takut, jika dad El menghukummu?" goda Niki yang tersenyum.
"Sial! Kau malah menakuti aku, kau tahu sendiri bagaimana dad El dan juga paman Al? Kedua saudara kembar itu benar-benar membuat aku terkena masalah."
"Ya, kau pikirkan saja sendiri. Aku pria terhormat, tidak sepertimu yang celup sana celup sini. Seperti teh dan sekarang anu mu hanya tersisa ampas saja," terang Niki yang mengejek kembarannya, karena kesal membuat Niko menyenggol luka di lengan yang sudah di balut perban.
"Luka ku belum kering dan kau menyentuhnya?" ucap Niki yang meninggikan suara.
"Maaf, aku tidak sengaja."
__ADS_1
"Ck, kau ini. Apa kakek pitak mengetahui keadaanku?"
"Ya, sebentar lagi kakek akan sampai dalam hitungan mundur dari tiga…dua…satu." Niko melirik jam tangan mahalnya, mereka fokus pada pintu yang terbuka lebar. Terlihat seorang pria tua dengan memakai tongkat berjalan menghampiri dua pria tampan.
"Wah…kau sangat hebat, mengetahui jika kakek ada dalam hitungan mundur dari tiga." Seloroh Niki yang sangat kagum dengan kemampuan saudaranya.
"Dasar bodoh, itu sudah diatur sebelumnya." Ujar Niko dengan santai.
"Sial, kau mengerjaiku."
Kedua saudara kembar itu menatap Bonar yang terus melangkah pelan, membuat keduanya sangat jenuh karena tidak sampai. "Kakek berjalan seperti siput, sebaiknya kau gendong saja!" ide Niki yang di anggukkan kepala oleh Niko.
"Hehe…itu cara efektif karena bisa saja Kakek sampai kesini hingga malam hari."
Bonar memalingkan wajahnya dan menatap Niki yang terluka. "Astaga…kenapa kau suka sekali keluar masuk rumah sakit?" tanya sang kakek yang tak mengetahui profesi asli dari Niki.
"Karena aku merindukan tempat ini," jawab Niki asal.
__ADS_1
"Apa kedua orang tua kalian akan pulang? Mengingat kondisi Niki yang terluka." Tanya Bonar yang menatap Niko.
"Hem, sebentar lagi mereka akan pulang. Memangnya kenapa?" tanya Niko yang tak mengerti, sedangkan Niki tersenyum karena memahami isi otak sang kakek.
"Tentu saja kakek merindukan menantunya yang sangat kaya itu, juga uangnya!" jawab Niki yang bertos ria dengan sang kakek.
"Hanya Niki yang mengerti aku," tukas Bonar yang tersenyum cerah. Sementara Niko menghela nafas lengah, menatap dua orang di depannya yang sangat mencintai uang. "Ya…ya, terserah." Selanya seraya meminum air mineral di atas nakas.
"Apakah Amora menjengukmu?" tanya Bonar dengan penuh harap, berharap jika keduanya menikah dan memberikannya cicit kembar.
Seketika Niko menyemburkan air di mulutnya mengenai wajah Niki. "Apa kau mengira jika aku ini kerasukan setan, hingga menyembur wajahku!" ketus sang empunya seraya mengelap wajah dengan baju kaus sang kakek.
Pletak
Bonar sangat kesal, karena sikap Niki mengingatkannya kepada sang menantu yang juga sering menggunakan bajunya sebagai korban.
"Cucu durhaka! Baju ini baru saja aku beli, dan kau?"
__ADS_1
Melihat hal itu membuat Niko tertawa lebar, moment yang membuat kedekatan ketiganya.