Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 41 - Selera makan Niki


__ADS_3

Hati kedua di rumah sakit, Niki sangat bosan berbaring dan duduk membuatnya sangat kesal. "Sebaiknya aku menghubungi Amora saja," dengan cepat dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas, mencari nomor ponsel tak begitu sulit baginya. 


"Halo."


"Kau siapa?"


"Ini aku Niko kekasihmu yang paling tampan sejagat nusantara."


"Kau mengganti nomor ponselmu?"


"Hem, mulai sekarang kau hubungi nomor yang ini."


"Ya, baiklah. Ada apa menelponku?"


"Cepat datang ke rumah sakit, aku hanya sendirian saja di sini, apa kau lupa bagaimana aku menyelamatkanmu?"


"Tidak, aku tak ingin jika kau menciumku lagi."


"Aku hanya bercanda saja, apa kau tidak kasihan padaku? Apa kau ingin para suster itu menggodaku?"


"Hah, kau membuat aku bimbang."


"Ya sudah, jika kau tak ingin kesini? Jangan salahkan aku jika para suster itu menggodaku."

__ADS_1


"TIDAK, baiklah. Aku segera kesana!"


"Itu bagus, jangan lupa bawa buah tangan."


"Ya, baiklah. Sesuai perkataan mu."


"Hem, aku tutup teleponnya."


Niki memutuskan sambungan telepon, dia tersenyum senang mengenai kedatangan kekasih dari saudara kembarnya. "Ini terlihat sangat menarik," gumamnya yang mencengkram erat ponselnya. 


Beberapa saat kemudian, Niki mengalihkan pandangannya pada pintu yang terbuka lebar. Terlihat seorang wanita berpakaian sopan dan sederhana. "Kenapa kau sangat lama sekali?" gerutu Niki yang cemberut. 


"Jalanan sedang macet, itu sebabnya aku terlambat."


"Tidak perlu melapor, sebaiknya kau pergi ke toilet."


"Aku tertembak dan sangat sulit untuk melakukan seorang diri, cepat bantu aku!" titahnya tanpa bantahan. 


"Hanya sebelah tangan mu saja yang terluka, kedua kakimu masih sehat" ungkap Amora. 


"Apa kau lupa? Jika akulah yang menyelamatkan mu!" ucap Niki memperingatkan wanita yang ada di hadapannya. 


Amora menghela nafas berat, kata-kata kunci yang membuatnya harus melakukan. "Baiklah," jawabnya dengan terpaksa. 

__ADS_1


"Bagus, sekarang kau tuntun aku!" ucap Niki yang mengambil kesempatan untuk mengerjai seorang wanita polos. 


Mereka masuk ke dalam toilet, Amora berusaha menutup kedua matanya. Tak ingin jika matanya ternodai akibat kejahilan pria tampan itu. 


Niki tersenyum jahil, menyadari wanita itu menutupi kedua matanya. "Jika kau menutup mata, bagaimana ini akan selesai."


"Cepatlah, apa kau sudah selesai?" tanyanya yang masih menutup mata, tak ingin melihat belalai berbulu miki Niki. 


"Aku sudah selesai, bantu aku untuk tidur ke atas brankar."


"Baiklah." Akhirnya Amora bisa terbebas dan tidak khilaf melihat tongkat sakti yang dapat menodai kedua matanya yang suci. 


"Aku sangat lapar, apa kau membawakan makanan? Makanan di sini sangatlah tidak enak." Keluh Niki. 


Amora tersenyum senang, melihat tingkah Niki yang sangat manja, karena sebelumnya dia tidak mendapatkan perlakuan baik dari kekasihnya Niko. Satu persatu rantang di buka oleh wanita itu membuat Niki hampir saja mengeluarkan air liur, aroma dari masakan kampung yang khas akan rempah-rempah. 


"Ini sangat wangi, apa kau yang memasaknya?" tanya Niki yang antusias. 


"Tentu saja, makanlah! Aku buatkan khusus untukmu."


"Tanpa kau minta, aku akan tetap memakannya." Seluruh pikiran Niki teralihkan pada masakan kampung yang mengunggah selera. Memakan dengan lahap membuat Amora terbelalak kaget. "Ya tuhan…dia makan seperti kerbau." Batinnya yang melongo, terkejut dengan porsi makan pria di hadapannya. 


"Masakanmu luar biasa, aku ingin kau memasak untukku setiap hari." Niki menatap Amora seraya menjilati jari-jari tangannya. "Apa kau ingin?" tawar Niki yang menyisakan sedikit untuk kekasih pura-pura nya. 

__ADS_1


"Aku sudah kenyang saat melihatmu makan dengan lahap."


__ADS_2