
Tari tidak menyukai ucapan yang keluar di mulut pria tampan di hadapannya. "Anda tidak bisa mengatur saya harus bekerja dimana," protesnya tanpa rasa takut.
"Tentu saja aku bisa, Cafe ini milik keluarga Wijaya."
"Tetap tidak bisa begitu, nona Eve pasti tidak akan menyetujui hal itu." Tari berusaha memberikan alasan logis agar pria itu tidak memaksanya menjadi pelayan di Mansion kediaman Wijaya.
"Eve biar menjadi urusanku, dan kau harus menyetujuinya!" tekan Niko yang menggunakan kekuasaan membuat Tari semakin jengkel dan menggebrak meja dengan sangat kuat, hingga menjadi pusat perhatian semua orang.
"Jangan mentang-mentang kau pria kaya seenaknya menyuruh orang miskin sepertiku mengikuti kemauanmu. Aku tidak akan menyetujui perkataan mu yang sangat konyol itu," bentak Tari yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Niko sangat terkejut dengan reaksi Tari di luar dugaan nya, berpikir jika wanita itu akan takut kepadanya. "Astaga…wanita ini tidak takut padaku, malah bersikap sebaliknya." Batinnya.
__ADS_1
Sang manager melihat pertikaian itu dari kejauhan hanya menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan, berpikir menerima kemarahan dari Niko. "Apa yang dilakukan tari? Semoga tuan Niko mengampuni gadis itu," lirihnya yang berdoa.
Niko terdiam dan pergi dari Cafe itu, membuat sang manager menatapnya dengan bingung. "Ada apa dengannya?" gumam manager menatap punggung pria tampan yang menghilang di balik pintu.
Perubahan sikap Niko yang berubah diam juga membuat Septian mengerutkan kening, memperhatikan atasannya dan kembali fokus mengemudikan mobil menuju Mansion utama.
Mobil berhenti di sebuah bangunan mewah dengan gaya klasik modern, Niko turun dari mobil tanpa sepatah katapun. "Ada apa dengan tuan? Apa dia kerasukan hantu saat di Cafe tadi?" lirihnya yang kembali mengemudikan mobil.
Niko masuk ke Mansion dengan langkah gontai, tiba-tiba wajahnya terkena lemparan bola yang berisi tepung. Dengan cepat dia membersihkan wajah menggunakan sapu tangan, menyusuri pandangan ke sekeliling ruangan. "Sialan, kau selalu saja mengerjaiku," umpatnya mengejar sang pelaku.
"Ck, jangan mencoba untuk mengajariku. Bukankah kau akan kembali sebulan lagi?" Tanya Niko yang menghampiri kembarannya, mereka saling memeluk satu sama lain. Melepaskan kerinduan selama lima tahun tak pernah bertemu, Niki pergi ke Amerika untuk mengurus bisnis.
__ADS_1
Setelah melepaskan rindu, Niko membawa kembarannya untuk duduk di sofa, berbincang membicarakan kenakalan mereka yang dapat menghebohkan keluarga.
"Mansion yang besar tapi sangat sunyi," ucap Niki yang dengan raut wajah muram.
"Ya sudah, lupakan itu. Setidaknya kau ada di sini dan itu lebih dari cukup," ucap Niko yang juga merasakan hal yang sama.
"Aku tahu kau sakit hati pada perempuan itu, tapi ku mohon rubahlah sikap cassanova mu. Aku tak ingin kau selalu menderita," celetuk Niki yang sangat memahami kenapa kembarannya itu bersikap tidak menghargai para wanita selain wanita di keluarganya.
"Heh, apa yang kau bicarakan?" ucap Niko yang berpura-pura tak tahu apapun.
"Ck, aku tahu kau berpura-pura. Lupakan masa lalu mu yang sangat pahit itu, tidak semua wanita bersikap sama dengan Nurika."
__ADS_1
"Jangan menyebut nama wanita itu!" ucap Niko yang beranjak pergi meninggalkan kembarannya.
"Aku berharap kau menemukan wanita yang tulus mencintaimu," gumam Niki yang melihat kepergian Niko.