
Niki mulai menjalankan peran barunya menjadi Niko, walaupun kepribadian mereka sangat berbeda, Niki bisa berpura-pura menjadi kembarannya. "Kenapa kau masih berdiri di sini, cepat keluar! Mataku sakit melihat keberadaanmu di dekatku," ucapnya yang menatap Septian dengan tajam.
Sementara Amora terus memandangi wajah tampan dari kekasihnya, duduk di kursi dengan kedua tangan menopang dagu. "Astaga…kekasihku sangat berirama, bukankah itu luar biasa?" ucap Amora yang menatap Septian untuk meminta pendapat.
"Ya tuhan…aku terjebak diantara dua orang gila, tolong selamatkan aku dari keduanya." Gumam Septian di dalam hati, menatap Niki yang berpura-pura sebagai Niko dan melirik Amora, kekasih Niko yang terkenal sangat cerewet.
"Benar Nona, Tuan Niko sangat berirama." Puji Septian yang menunjukkan dua jempol tangan sembari tersenyum paksa.
"Apa kau tidak dengar? Pergi sana!" usir Niki.
"Sayang, kenapa kau mengusirnya? Biarkan saja dia ada di sini." Seloroh Amora yang mengira Niki adalah Niko.
"Dia hanya akan mengganggu pemandangan saja, bukankah kita bisa menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan?" ucap Niki yang mengambil gelas berisi air mineral, dan meminumnya.
"Sayang, apa kau lupa mengenai perkataanku waktu itu?" cetus Amora.
__ADS_1
"Sial, bahkan Niko tidak memberikan informasi apapun mengenai wanita ini," batin Niki yang berusaha mencari jawabannya.
"Hah, sepertinya kau melupakannya. Tapi, tenang saja, aku akan menjelaskannya."
"Huff…syukurlah!" batin Niki menghela nafas lega.
"Aku tidak ingin berduaan dengan pria lain termasuk dirimu, Sayang. Bukankah berduaan itu tidak boleh? Karena yang ketiganya adalah setan." Jelas Amora yang membuat Niki tersedak air mineral, sedangkan Saptian terbelalak kaget.
"Apa dia maksud aku ini setan?" gumam Septian yang menunjuk dirinya.
"Karena kau sangat tampan, kau bekerja saja. Aku akan duduk di sini untuk memperhatikanmu bekerja, dan kau berdirilah di pintu." Atur Amora.
"Maaf Nona, aku ini asisten tuan Niko, bukan security pengaman pintu." Protes Septian.
"Ya, aku tahu itu. Hanya saja, kau akan merusak mood kekasih tampanku itu." Jawab Amora santai membuat asisten Septian meringis.
__ADS_1
"Baiklah," pasrah Septian yang berusaha untuk tersenyum cerah.
"Gadis yang sangat aneh!" gumam Niki yang fokus ke dalam layar laptop di hadapannya, mengutak-atik dengan memindai beberapa data perusahaan. Sesekali dia melirik Amora dan berpikir jika wanita itu bosan dalam menunggunya. Ternyata, wanita itu masih tersenyum dan sesekali melambaikan tangan menatapnya dengan penuh cinta. Niki hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sangat cepat.
Semua pekerjaan terselesaikan, Niki memegangi perutnya yang terasa kosong, karena sekarang waktunya makan siang. Tanpa diduga, sebuah kotak makanan berada di meja kerjanya, mendongakkan kepala melihat siapa yang membawakan makanan.
"Ini makanlah, kau pasti lapar!" ucap Amora yang sangat perhatian, mengira jika itu adalah kekasihnya.
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja, aku tak ingin kekasihku kelaparan. Ayo, makanlah!" ajak Amora yang membuka bekal makanan.
Niki melihat isi kotak makanan, apalagi aroma masakan membuat perutnya semakin berdemo untuk di isi. "Apa kau memasak semua ini?" tanya Niko memastikan.
Dengan cepat Amora mengangguk. "Tentu saja, masakan ini spesial aku buatkan untuk kekasihku." ucapnya dengan semangat.
__ADS_1
"Kau sangat baik sekali." Tutur Niki yang mulai menyuapi mulutnya dengan makanan di dalam kotak makan.