
Tiga hari kemudian, Niko dan Niki menyambut kedatangan keluarga Wijaya. Keduanya sangat tak bersemangat, terlihat jelas di wajah masing-masing. Sedangkan Alex tersenyum saat melirik ekspresi dari kedua sepupu kembarnya. "Sepertinya kalian tidak bersemangat untuk menyambut kedatangan keluarga kita, apa yang terjadi sekarang?" ledeknya yang menyeringai.
"Ck, diamlah! Kau hanya merusak suasana saja." Ketus Niko yang melirik Alex dengan tajam.
"Apa yang di katakan Alex memang benar, sebaiknya kita tersenyum untuk menyambut kedatangan mereka." Sela Niki.
"Apa yang kau katakan?" ucap Niko yang melirik saudara kembarnya dengan tajam.
"Apa kau ingin dad El dan juga kakek Bara mengetahui hal ini? Sebaiknya kita berpura-pura saja," bisik Niki yang mencondongkan tubuhnya.
"Hah, kau benar juga."
Sementara Alex menggelengkan kepala, mengetahui dan memahami sikap dari kedua sepupu kembarnya. Ketiganya masih menunggu di bandara, wajah tampan dari ketiga membuat beberapa wanita cantik datang menggoda. Niki dan Alex tak menanggapi hal itu, lain halnya dengan Niko yang menebarkan jala pesona seribu watt miliknya.
__ADS_1
"Ck, berhentilah menggoda para wanita bodoh itu!" ucap Niki dengan lantang, mendelik kesal karena saudara kembarnya tidak bisa mengendalikan diri jika berhadapan dengan wanita cantik dan juga seksi.
"Apa? Ini hanya karya seni saja, kau bisa menirunya jika kau iri padaku." sahut Niko dengan santai.
"Jangan berdebat di tempat umum, sebaiknya kalian diam atau aku akan menjahit mulut bebek itu," Ancam Alex yang risih mendengar pertikaian kecil dan juga sepele dari kedua sepupunya.
"Hah, baiklah-baiklah." Sahut Niko dan Niki serempak.
Setelah cukup lama menunggu, terlihat semua keluarga Wijaya dengan raut wajah berseri berjalan ke arah mereka. Setelah dekat, mereka saling melepas rindu satu sama lain, terutama Kedua orang tua mereka.
"Hai anak muda, apa kau ingin mendoakan aku cepat mati?" sela kakek Nathan yang geram dengan cucunya itu, memukul tubuh Niki menggunakan tongkat.
"Astaga…kenapa Kakek menjadi sensitif! Aku hanya memastikan kesehatan dari kedua kakekku saja, apa itu salah?" sahut Niki dengan santai seraya menghindari serangan dari kakek Bara.
__ADS_1
"Aku mencium ketidaksukaan kalian mengenai kedatangan kami," ucap El yang menatap putranya Niko dan Niki secara bergantian, membuat kedua saudara kembar itu menelan saliva dengan susah payah.
"Kenapa dad sepertinya mencurigai kami?" seloroh Niko yang berusaha bersikap netral.
"Apa kita akan mengobrol di sini?" Celetuk kakek Nathan yang tak kuat untuk berdiri lebih lama lagi.
"Hai pak tua! Apa sekarang tulang mu terasa rapuh?" ejek kakek Bara menatap kakak iparnya.
"Sepertinya kau merindukan untuk bertengkar denganku. Tapi aku sangat mengingat saat kau menangis dengan kondisiku yang kian memburuk, sangat lemah!" sahut kakek Nathan yang juga menatap adik iparnya, tatapan mata yang terlihat sengit.
"Heh, itu karena mataku yang kemasukan debu."
"Ayolah Kek, kenapa kalian selalu bertikai. Sebaiknya kita masuk ke dalam mobil yang telah di siapkan," ujar Niko yang membantu untuk membawa barang-barang.
__ADS_1
"Kau benar, ayo!" sahut nenek Dita, istri dari kakek Nathan.
Mereka berlalu pergi dari tempat itu menuju Mansion, bersenda gurau melepaskan rindu.