
Niki kembali ke rumah kakeknya Bonar, mengingat pria tua yang hanya sendirian saja di rumah sederhana. Rumah yang tidaklah besar dan juga mewah membuatnya tetap bertahan walau tak merasa nyaman. Kakek dan cucu itu sedang menikmati makanan yang di buat oleh Niki, bekerja di luar negeri membuatnya mandiri dan pintar memasak.
"Wow, masakanmu sangat lezat," puji kakek Bonar yang tersenyum menatap cucunya.
"Tentu saja, merantau ke negeri orang membuatku menjadi lebih mandiri." Sahut Niki yang tersenyum.
"Kenapa kau tidak membawa kekasihmu datang kesini?" ucap kakek Bonar sedikit sendu.
"Uhuk!" dengan cepat Niki mengambil gelas yang berisi air mineral dan menenguknya hingga tandas.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa, makanan ini sangat lezat hingga aku terbatuk," jawab Niki asal.
__ADS_1
"Hem, kapan kau akan menikah dan memberikanku cucu kembar?" seru kakek Bonar dengan sangat antusias.
"Ayolah Kek, jangan membahas hal itu sekarang. Selera makanku menghilang!" ucap Niki yang memelas.
"Menghilang bagaimana? Jika kau sudah makan di piring ketiga," ketus kakek Bonar yang menggelengkan kepala melihat porsi makan cucunya yang satu itu.
Niki menyengir kuda, menatap kakek nya sambil menggaruk pangkal hidung yang tidak gatal. "Itu hanya kata kiasan saja! Apa Kakek ingin menambah lagi?" tawanya untuk mengalihkan perhatian.
"Pikiran Kakek sangat jauh ke depan, langsung memikirkan cicit saja. Aku tidak punya calon," ungkap kesal Niki yang menghela nafas.
"Mau kau letakkan di mana Amora? Apa kau pikir dia pajangan saja? Jadilah pria sejati dengan menikahi gadis itu."
"Aku tak ingin membahasnya, di Mansion semua orang juga mengatakan hal yang sama, itu sebabnya aku kesini dengan maksud untuk menghindari pertanyaan horor itu," jelas Niki yang mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Jangan berpikir terlalu lama untuk mengambil keputusan, menurut pengalamanku, kalau Amora merupakan gadis yang sangat baik juga keibuan. Kau tidak akan menyesal menikahinya," terang kakek Bonar untuk meyakinkan cucunya.
"Seharusnya cucu tertua lah yang menikah lebih dulu, Kakek bujuk saja Niko untuk segera menikah." Ide Niki yang tersenyum licik.
"Kalian lahir hanya terpaut beberapa menit saja, aku ingin kau dan Niko menikah dengan gadis baik-baik." Jawab kakek Bonar yang mengetahui rencana licik dari Niki untuk menghindar.
"Itu pasti, tunggulah beberapa tahun lagi." Ujar Niko dengan santai.
"Apa kau ingin menungguku untuk mati? Aku ingin di tahun ini kalian segera menikah." Ucapnya dengan penuh penekanan, tak ingin ada bantahan. Sementara Niki menghela nafas berat, seakan pikiran dari keluarga yang juga membujuknya untuk menikah.
Niki melihat pria tua itu meninggalkan meja makan, menatapnya dengan nanar. Lalu, mengacak-acak rambut dengan kesal. "Ingin rasanya aku bersembunyi dari semua orang, tidak lama lagi aku akan stress mendengar kata segera menikah." Gumamnya meringis.
Seketika Niki tersenyum saat menemukan sebuah cara untuk meloloskan diri di saat semua orang menanyakannya untuk menikah. "Kenapa aku harus stress untuk memikirkan hal ini? Sebaiknya aku bersantai dan membiarkan mom Anna dengan rencananya." Niki masih mengingat di saat kecil pamannya yang bernama Kenzi kabur dari perjodohan. "Paman Kenzi yang bodoh, aku akan berusaha lebih keras agar terhindar dari perjodohan." Batinnya sambil tersenyum smirk.
__ADS_1