Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 24 - Serah terima


__ADS_3

Niko sangat kesal dengan kembarannya, ternyata firasatnya benar mengetahui jika Niki hanya ingin mengerjainya. "Niki sialan! Berani sekali kau mengerjaiku!" umpatnya kesal. 


Benda keras kembali mengenai kepalanya, menoleh kebelakang yang tak lain sang kakek kembali memukul kepalanya. "Sudah jatuh malah tertimpa tangga, apa salahku kali ini?" protes Niko yang sangat kesal. 


"Karena kau melempar kotak yang berisi kain sarung keramatku!" cetus Bonar yang sama kesalnya dengan Niko, sedangkan Niki semakin tertawa lebar. 


Bonar menyumpal mulut Niki dengan makanan yang ada di atas meja, dan kembali menyorot Niko dengan tajam. "Cepat ambil kotak itu!" titahnya. 


"Baik," ucap Niko pasrah seraya mengambil kotak yang jatuh ke lantai,  menyerahkannya kepada sang Kakek. 


"Mulai sekarang kau simpan kotak yang berisi kain sarung itu dengan baik, aku akan terus memantaumu." Ucap Bonar dengan tegas. 


"Baiklah, sesuai keinginan Kakek." Ucapnya setuju, tapi jauh di lubuk hatinya yang akan membuang kotak itu ke sampah. "Sebaiknya aku mengalah saja, lalu membuangnya." Batinnya. 


"Jika kau berniat untuk membuangnya? Maka aku akan mengutukmu!" ancam Bonar membuat bulu kuduk Niko berdiri. 


"Sangat menyenangkan!" batin Niki tersenyum puas. 


"Aku akan menjaganya!" sahut Niko tersenyum paksa. 

__ADS_1


"Bagus, ternyata saran Niki sangat berguna. Kalau begitu aku istirahat dulu, badanku terasa lelah saat ini." Bonar berjalan masuk ke dalam rumah, tinggallah dua saudara kembar yang melempar tatapan sinis. 


"Oho, jadi ini rencana mu?" ucap Niko dengan tatapan sengit. 


"Aku tidak merencanakan apa pun," sahutnya dengan polos. 


Niko yang kesal menghampiri saudara kembarnya, melingkarkan tangan di leher Niki dan menjepitnya dengan erat. "Ini hukuman untukmu!"


Keduanya saling bergulat hingga terguling di lantai, menciptakan salah paham bagi tetangga yang melihat posisi itu. "Astaga…mereka sangat tampan tapi menyukai terong-terongan!" bisik salah satu ibu-ibu. 


"Sayang sekali, mereka tampan tapi belok." Balas ibu-ibu di sebelahnya. 


Keduanya menghentikan pergulatan itu, segera berdiri seraya manatap tajam ibu-ibu tukang gosip. "Kami mendengarnya, dasar tetangga julid!" ketus Niki bertolak pinggang. 


Keduanya mengerti dengan perkataan sewot para ibu-ibu, Niko mulai terpancing emosi membuat Niki menghadangnya. 


Niki maju beberapa langkah seraya mengambil selang setelah menghidupkan kran air,  mengarahkan selang itu mengenai ibu-ibu julid hingga bubar dari tempat itu. 


"Ck, dasar kekanak-kanakan." Ledek Niko. 

__ADS_1


"Biarkan saja, yang terpenting mereka sudah bubar. Itu cara terbaik daripada melawannya!" terang Niki membanggakan diri. 


"Hah, terserah kau saja!" Niko berlalu pergi meninggalkan tempat itu, mengingat pekerjaannya yang tertunda. Baru beberapa langkah, Niki memanggil membuatnya menoleh. "Ada apa?"


"Kau meninggalkan kain saring keramat!" ingat Niki di sela-sela tawanya. 


Niko mengambil kotak yang berisi kain sarung, sangat menyesal telah datang ketempat itu. "Apa kau tidak pulang ke Mansion?" 


"Tidak, kakek hanya tinggal sendiri saja, itu sebabnya aku akan tinggal di sini."


"Apa dad dan mom tahu?"


"Aku belum mengabari mereka."


"Ya sudah, kau jaga kakek. Aku akan melanjutkan pekerjaanku!"


"Hem, baiklah. Nanti malam kau datanglah ke markas!" ucap Niki serius. 


"Markas? Tidak biasanya kau memintaku datang ke sana."

__ADS_1


"Ada sedikit masalah yang tidak bisa aku selesaikan sendiri, bahkan aku juga akan meminta Alex untuk datang ke markas."


"Baiklah, aku akan datang."


__ADS_2