
Ara sangat senang mendapat pekerjaan menjadi sekretaris, sangat bersemangat saat tanda tangan kontrak. "Terima kasih, Tuan."
"Hem, kau mulai bekerja besok pagi. Apa keberatan?" ucap Septian memastikan.
"Tidak, aku tidak keberatan."
"Ya, baiklah. Kau boleh pergi!" tukas Septian yang beranjak dari ruangan meninggalkan Ara sendiri.
"Sebaiknya aku pulang dan mengabari Tari, pasti dia sangat senang aku traktir." Gumamnya yang bahagia, berlalu pergi menuju ke rumah sembari menunggu sahabatnya yang pulang bekerja.
Sesampainya di kontrakan, Ara terus menunggu kepulangan sahabatnya. Hingga tersenyum saat melihat Tari yang baru pulang bekerja. "Akhirnya kau pulang, aku sudah menunggumu dari tadi," ucapnya dengan bersemangat.
"Memangnya kenapa? Kau terlihat sangat bahagia sekali." Ujar Tari yang baru pulang dari Cafe Floress.
"Tentu saja, aku diterima bekerja menjadi sekretaris." Ucap Ara yang sangat bahagia.
__ADS_1
"Wah, selamat untukmu." Ucap Tari yang memeluk sahabatnya dengan erat.
Ara melepaskan pelukan itu saat terdengar suara perut keroncongan milik Tari. "Karena aku sangat senang, aku akan mentraktirmu makan."
"Suatu kebetulan yang pas, ayo!" ucap Tari yang memegang perutnya. Kedua wanita itu sangatlah dekat, saling tolong menolong dan membantu sama lain. Kerasnya kehidupan di kota membuat mereka saling menguatkan, saling berbagi dalam segi makanan, dan pakaian.
****
Niko menatap tubuh polos wanita yang terkulai lemas akibat permainannya di ranjang, kembali melempar senyum mengejek dan mengecap wanita itu sebagai murahan. "Hanya karena aku kaya, begitu banyak wanita yang menyerahkan tubuhnya dengan suka rela, sungguh menjijikkan!" batinnya seraya memasang kancing kemejanya.
"Sayang, permainanmu di ranjang sangatlah liar, tapi aku menyukainya." Jujur wanita itu yang kembali berhasrat untuk digagahi oleh pria kaya dan juga tampan.
"Ayolah, apa kau tidak ingin aku layani lagi. Sekali saja," pinta Lidia dengan suara yang seksi, menggigit pelan telinga sang kekasih.
"Aku juga menginginkan hal yang sama, hanya saja masih banyak pekerjaan ku, dan aku tak ingin terkena dalam masalah besar." Tolak Niko.
__ADS_1
"Ayolah, sekali lagi." Lidia dengan berani membuka kancing kemeja Niko, menyentuh area sensitif untuk merangsang pria itu.
Seketika tatapan Niko berubah menusuk dan tajam, pikirannya kembali teringat dengan Nurika yang juga melakukan hal yang sama saat berselingkuh dengan pria lain. Mendorong tubuh Lidia ke dinding, membuat wanita itu sangat terkejut dengan perlakuan kasar dari kekasihnya. "Ada apa denganmu?"
"Dasar wanita murahan, aku tahu niatmu sebenarnya!" ucap Niko yang mengepalkan kedua tangannya.
"A-apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti." Celetuk Lidia yang sangat gugup.
"Apa kau pikir aku ini pria yang bodoh, hah? Kau memintaku untuk berhubungan badan agar kau bisa hamil dan memeras semua uangku," ungkap Niko yang sangat mengetahui niat dari beberapa teman kencannya.
"Sungguh, aku tidak ada niatan untuk memikirkannya." Ucap Lidia yang memelas.
"Ck, apa kau perlu bukti?" Niko mengeluarkan sebuah rekaman yang berisi pembicaraan Lidia dengan rekannya untuk menjebak Niko menggunakan kehamilan.
"A-aku hanya__"
__ADS_1
"Pergi sekarang juga, jangan pernah kau tunjukkan wajahmu di hadapanku!" sentak Niko dengan kasar.
"Aku mohon, tolong ampuni aku yang khilaf!" bujuk Lidia yang bersujud di kaki pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan.