
Keesokan harinya, Niki bersiap-siap dengan celana pendek dan memakai baju tanpa lengan, berolahraga sekaligus melatih pergerakan untuk menghadapi musuh setelah melakukan pemanasan. Merasa tak puas, Niki lari pagi dengan penuh semangat.
Di sepanjang lintasan marathon, banyak ibu-ibu komplek, wanita dari kalangan muda hingga lansia sangat kagum dengan ketampanan dari cucu Bonar. Apalagi tubuh yang berkeringat membuat mereka menggigit jari, tubuh kekar hampir saja menggoyahkan iman.
"Bonar sangat beruntung, mempunyai cucu yang sangat tampan, apa dia sudah punya kekasih? Aku ingin mendaftarkan diri," ujar salah satu janda yang menatap punggung Niki yang mulai menjauh.
"Heh, dia tidak akan sudi menikah dengan janda gatal sepertimu. Pria tampan itu lebih cocok denganku," ketus wanita di sebelahnya.
"Apa kau lupa sudah mempunyai kekasih?" ketus sang janda.
"Heh, jangan berharap lebih karena pria berotot itu hanya milikku seorang."
"Ingatlah usiamu sekarang yang lebih cocok menikahi kakeknya." Sewot sang janda.
Ketiga wanita dari kalangan dan usia berbeda terus bertikai memperebutkan Niki, hingga mereka lupa untuk memasak.
__ADS_1
Niki memasang headset di telinganya, memutarkan musik yang sebagai teman saat ini. Setelah cukup berlari pagi, dia memutuskan untuk masuk ke swalayan membeli minuman penyegar dahaga. Baru saja masuk ke dalam, semua orang menyorotnya dengan tubuh yang berkeringat, menggetarkan hati semua orang.
Dengan santai Niki berjalan mencari sebotol air mineral dan meneguknya karena sangat haus, tatapannya tak sengaja menatap seorang wanita yang kesulitan mengambil sesuatu yang letaknya tinggi. Dia menghampiri dan membantu untuk mengambilkan, menyerahkan kepada wanita itu tanpa menoleh.
"Terima kasih!" ucap wanita itu menatap wajah pria di sebelahnya. "Niko? Kau disini?" seru Amora yang berpikir jika itu adalah kekasihnya.
"Uhuk!" Niki menoleh dan sedikit terkejut. "Amora?"
"Apa yang kau lakukan dengan pakaian seperti itu?" tunjuk Amora yang tidak menyukai jika Niki menjadi pusat perhatian.
Amora segera membuka jaket pink miliknya, mengikatnya di pinggang Niki. "Kau kenapa?" tanyanya yang tak mengerti dengan wanita itu.
"Lihatlah! Semua orang menatapmu," bisik Amora yang menatap semua orang di dalam swalayan.
"Aku benci warna ini."
__ADS_1
"Ssttt…jangan banyak komentar, ayo aku antarkan kau pulang!" Amora menarik tangan Niki untuk keluar dari swalayan setelah membayar tagihan.
"Apa kau pikir aku ini anak kecil yang tersesat?"
"Diamlah!"
"Wah sepertinya kau cemburu. Apa sekarang kau mengakui daya tarikku?" goda Farhan.
"Tentu saja aku cemburu, kau adalah kekasihku dan sebentar lagi hubungan ini akan berakhir," lirihnya pelan dengan tertunduk kecewa. Mengingat perjanjiannya dengan Niko yang menjadikannya kekasih selama sebulan saja.
Niki melihat dengan jelas raut wajah dari wanita itu dan bersimpati. "Aku merasa jika wanita ini menyembunyikan sesuatu," batinnya yang sedikit mencurigai Amora yang ingin menjadi kekasih dari saudara kembarnya hanya dalam kurun waktu satu bulan.
Niki menggenggam tangan kanan Amora seraya tersenyum tulus. "Ayo naiklah!" ucapnya yang duduk di atas motor bebek milik wanita itu.
"Ayo!" sahut Amora yang duduk di belakang seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Niki. Suasana hatinya berubah, sangat bahagia karena bisa menikmati hidup bersama sang kekasih.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, Niki terdiam memikirkan alasan wanita di belakangnya yang ingin menjadi kekasih kontrak dari saudara kembarnya. Seperti teka-teki yang harus di pecahkan.