Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 20 - Perhatian Niki


__ADS_3

Ara terpaksa melangkahkan kakinya menuju pantry, sebenarnya dia enggan untuk membuat kopi mengingat terlalu banyak peraturan. Mengomentari sikap perfeksionis dari pria kaya dan juga sombong, namun apa dayanya yang hanya karyawan baru. 


Selesai membuat kopi dengan takaran yang disebutkan oleh asisten Septian, Ara membawa secangkir kopi dengan penuh hati-hati menuju ruangan CEO. Sebelum masuk ke ruangan atasannya, dia menarik nafas dalam mengeluarkannya secara perlahan. Mengetuk pintu sebanyak tiga kali, saat mendengar suara dari dalam ruangan, Ara meng-handle pintu dan tak lupa senyuman paksa. 


"Silahkan diminum, Tuan." Ucapnya dengan sopan. 


"Hem," sahut Niko singkat sembari menyeruput kopi buatan sekretaris barunya. Tapi, tiba-tiba dia menyemburkan kopi itu menyenai wajah Ara. "Apa kau mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Asep?" tanyanya dengan tatapan menyelidik. 


"Saya membuatnya dengan konsep yang diberikan asisten Septian, Tuan." Sahut Ara yang menahan rasa kesal dan amarah, melepaskan kacamata tebalnya untuk membersihkan dari semprotan kopi dari bos lucknut nya.


"Ck, alasan. Katakan saja jika kau tidak mengikuti petunjuk dari Asep, sangat pemalas."


"Maaf Tuan, apa yang salah dengan kopi itu?" 

__ADS_1


"Tentu saja panas, apa Tuan ingin menambahkan es?" ujar Ara yang kembali memasang kacamata tebalnya, menatap Niko yang juga menahan rasa kesalnya. 


"Kau bawa saja kopi ini, aku tidak berselera untuk meminumnya. Ditambah dengan penampilanmu membuat seleraku menghilang!" ejek Niko yang menatap ujung rambut hingga ujung kaki dari penampilan sekretaris barunya. 


"Tuan bisa menutup mata," seloroh Ara yang kesal, mengambil secangkir kopi dan berlalu pergi dari ruangan itu dengan perasaan dongkol. 


****


Sementara di tempat lain, Niki sangat pergi berkunjung ke rumah kakek pitak, ayah dari mommy Anna. Dengan membawa buah tangan yang akan membuat sang kakek merasa sangat senang. "Permisi…yuhu…spada!" teriak Niki yang membawa beberapa kotak di tangannya. 


"Astaga, aku lupa jika kakek mempunyai masalah pendengaran." Monolog Niki yang menepuk keningnya. "Ini aku, Kek. Cucumu yang paling tampan dan juga kaya!" ucapnya yang sengaja mengeraskan suara." Niki meletakkan beberapa kotak di tangannya dan memeluk sang kakek. 


"Akhirnya kau mengingat pria tua ini, di mana saudara kembarmu, Niki?" ucap Bonar celingukan, mengira jika Niko yang datang berkunjung. 

__ADS_1


"Ya tuhan…bahkan Kakek juga tidak bisa membedakan cucunya sendiri, aku Niki." Jelas Niki. 


"Maklumlah, ini karena faktor usiaku. Apa isi dari kotak itu?" ucap Bonar yang sangat tertarik dengan barang bawaan cucu sultannya. 


"Beberapa jenis kue yang bebas gula dan juga beberapa barang antik untuk Kakek," ucap Niki yang sangat memahami Bonar. 


"Kau benar-benar cucu yang perhatian, apa kau punya uang tunai?" tanya Bonar. 


Niki mengeluarkan dompetnya, membuat mata Bonar berkilau saat melihat lembaran merah yang memadati dompet sang cucu. Dengan cepat mengambil semua uang tunai itu dan menghitungnya, sedangkan Niki menghela nafas, selalu dipalak oleh sang kakek. 


"Biarkan aku yang menyimpannya!" ucap Bonar tersenyum cerah. 


"Ck, Kakek selalu saja mengatakan itu." Gerutu Niki melihat sang Kakek bersifat sama sepertinya. 

__ADS_1


"Setidaknya kau berbakti kepada Kakekmu ini, jangan seperti Daddymu yang sangat pelit itu." Cetus Bonar. 


Niki melihat sang kakek yang terus menghitung uang, sebenarnya dia sangat kasihan mengingat Bonar hanya hidup sendiri di rumah tua. Bahkan dia pernah meminta sang kakek untuk tinggal bersama mereka, namun menolak karena banyak kenangan di rumah itu bersama dengan sang istri, neneknya. Bonar juga menolak diberikan pengasuh, tapi Niki dengan cerdiknya meminta salah satu tetangga sang kakek untuk membantu dengan upah tanpa sepengetahuan Bonar.


__ADS_2