
Niki sangat terkejut dengan hadiah yang diberikan sang kakek, mengingat bau menyengat yang membuat bulu hidungnya rontok. "Ya tuhan…bau kain sarung itu sangat menyengat. Pantas saja paman Panji dan daddy menolak, kain sarung keramat?" batinnya yang kembali mual dan mengembalikan kotak itu.
"Ada apa? Apa kau juga menolak seperti yang dilakukan oleh dad mu?" cetus Bonar.
"Apa Kakek yakin? Aku pernah melihat kain sarung itu ada pada daddy."
"Saat itu dia ingin membakarnya, untung saja aku mengetahui aksi licik El sialan itu dan kembali mengambil barang keramatku," ungkap Bonar kesal.
"Bukan hanya daddy yang ingin membakarnya, aku bahkan ingin membuang sarung ini ke laut." Batin Niki berpura-pura tersenyum. "Apa sebaiknya Kakek menyimpan kain sarung itu?" idenya.
"Aku menurunkannya kepada cucuku, apa ada yang salah?"
"Tidak ada yang salah, Kakek jangan salah paham dengan ucapanku. Maksudku, apa sebaiknya kakek memberikan kain sarung ini pada Dafa, anaknya bibi Lolita? Atau pada Niko saja."
"Apa itu artinya kau menolak pemberian kakek tua ini?" ucap Bonar dengan raut wajah bersedih, lebih tepatnya berpura-pura sedih untuk mendapatkan simpati.
"Hadiah ini amat berharga, sebaiknya Kakek menyerahkannya kepada cucu tertua yaitu Niko."
"Ck, kalian hanya terpaut beberapa menit saja."
"Niko pasti senang dengan hadiah dari Kakek, aku jamin itu!" bujuk Niki yang tersenyum smirk.
"Kau benar juga, seharusnya aku memberikan warisan ini pada cucu tertua ku." Seloroh Bonar yang membenarkan perkataan Niki.
__ADS_1
"Bagus, aku ingin lihat bagaimana Niko menghindar. Ini pasti sangat menarik!" batin Niki yang menganggukkan kepala dengan pelan.
"Terus, harus aku apakan kain sarung berharga ku ini?"
"Tentu saja diberikan kepada Niko."
"Ya sudah, cepat kau hubungi dia!" titah Bonar.
"Dengan senang hati, Kek." Niko mengeluarkan ponselnya dari saku celana, mencari daftar kontak dari saudara kembarnya dan segera menghubunginya.
"Halo."
"Ck, kau lagi. Aku sedang sibuk, ada apa?"
"Kemana?"
"Ke rumah kakek Bonar, dia sangat merindukanmu."
"Besok saja aku kesana."
"Apa kau ingin kakek bersedih? Cepatlah ke sini!"
"Hah, baiklah. Sebentar lagi aku akan sampai kesana."
__ADS_1
"Itu bagus."
Niki mematikan ponselnya, tersenyum saat kembarannya masuk perangkap. Sedangkan Bonar tersenyum cerah saat cucunya bernama Niko akan berkunjung, dengan begitu dia bisa menguras isi dompet sang cucu. "Hah, aku sangat beruntung mempunyai cucu sultan. Masa tuaku terjamin tanpa perlu bersusah payah mencari uang," ucapnya di dalam hati.
"Kapan Niko akan kesini?"
"Sebentar lagi, dia segera menuju kesini. Jadi, Kakek tenanglah!"
"Kau benar."
Kedua cucu dan kakek itu memilih duduk di teras rumah, menunggu kedatangan Niko yang sedikit lama. Niki berpikir jika saudara kembarnya tidak akan datang. Namun pikiran itu salah saat melihat mobil mewah yang berhenti tak jauh dari mereka.
Niko turun dari mobil dengan begitu banyak buah tangan, mengetahui sifat kakeknya yang sama persis dengan Niki. Dengan cepat dia menghampiri Bonar dan memeluknya dengan bahagia.
"Apa kau melupakan pria tua bau tanah ini?" ucap Bonar berpura-pura sedih demi mendapat simpati.
"Tidak, Kek. Tolong, maafkan aku!"
"Baiklah, kepalaku sangat pusing dan tidak punya uang sama sekali." Bonar menatap Niki dengan tajam, meminta agar tidak membuka suara.
"Hem, aku mengerti." Segera Niko mengeluarkan dompetnya, dengan cepat Bonar mengambil uang tunai bahkan lebih banyak dari uang Niki.
"Astaga…gerakan tangan Kakek sangat cepat juga." Tutur Niko yang melongo.
__ADS_1