
Niki semakin mempercepat laju kendaraannya, beberapa kendaraan bermotor semakin dekat. Tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pada kembarannya atau sepupunya Alex.
"Ada beberapa orang yang mengejarku."
"Kami ada di belakang kendaraan bermotor yang mengikuti mobilmu."
"Itu bagus, jangan lupa dengan identitas."
"Baik, aku mengerti."
Niko mematikan sambungan telepon dan menatap Alex yang sedang mengendarai mobil. "Apa yang dikatakan Niki?"
"Sebuah isyarat agar kita menutup identitas dan wajah."
"Apa kau sudah menyiapkannya?" tanya Alex yang juga mengerti dari Niko.
__ADS_1
"Tentu saja, aku sudah menyiapkan topeng untuk menutupi wajah kita." Seloroh Niko yang memperlihatkan dua topeng setengah wajah. Mereka memakai topeng itu untuk menyamarkan identitas yang selalu ditutupi. Perkataan Niki juga mengarah ke lain, jika dia tidak sendiri di dalam mobil. Karena selama ini kedua saudara kembar itu menutup identitas asli mereka, hanya segelintir orang yang mengetahui jika mereka kembar.
"Bagus, bersihkan jalanan!" titah Alex yang fokus dengan mengemudikan mobil.
"Laksanakan," sahut Niko yang mempersiapkan sebuah senapan dengan kecepatan angin, tak lupa menggunakan peredam suara untuk menyamarkan serangan. Niko menarik pelatuk dan membidik dengan bantuan laser yang ada di senapan itu. Tatapan fokus kedepan dengan mengintai punggung musuh. Menembak merupakan keahlian Niko dengan kedua saudaranya, hal itu terbukti dengan beberapa musuh yang tumbang saat tembakannya tepat sasaran. Satu persatu para musuh tertembak, terdengar keras suara tembakan dari pihak musuh yang membuat suasana mencekam.
"Tambah kecepatan mobilnya!" ucap Niko yang tegas dan juga serius.
Alex menambah kecepatan hingga mereka mendekati musuh, Niko yang menembak dan Alex juga ikut serta dalam meringkus musuh. Mengeluarkan shuriken dan melempar nya mengenai tubuh musuh. "Jalanan bersih, apa kita sudah aman?" celetuk Niko.
"Hah, sudah lama aku tidak menggerakkan otot ku ini," seloroh Niko yang membuka jasnya, memperlihatkan badannya yang atletis, terlihat jelas di kemeja tipis yang ia pakai.
"Berhentilah bersikap konyol." Ucap Alex dingin.
"Dasar kanebo kering!" umpat Niko pelan.
__ADS_1
"Aku mendengarnya!" tukas Alex.
Niki melihat ke kaca spion dan tersenyum saat kedua saudaranya membantu keadaan sulit dan menyingkirkan para musih yang mengejarnya. Dengan cepat dia menginjak pedal rem, membuat Amora terjungkal. "Apa kau tidak melihat, jika aku tidak menggunakan sabuk pengaman?" pekik Amora sambil pria yang dia pikir kekasihnya dengan tajam.
"Maaf, hampir aku melupakan mu." Jawab Niki yang menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, menyengir kuda menatap wanita dibelakangnya.
"Entah kenapa aku merasa kau seperti orang lain, bukan Niko kekasihku." Ungkap Amora dengan tatapan menyelidik, mendekatkan wajahnya dan terus memperhatikan wajah tampan Niki.
"Jangan sampai ini terbongkar, atau lima belas sahamku hilang." Batin Niki seakan menahan nafas, melihat tatapan penuh kecurigaan dari wanita itu. Dia mengusap wajah Amora dan menjauhkan dari wajahnya. "Aku tahu kalau aku ini sangat tampan, kau tidak perlu menatapku begitu." Jelasnya yang menutupi kebohongan.
"Kau sangat kasar sekali, aku hanya bertanya saja," gerutu Amora yang jengkel.
"Tapi ekspresimu menunjukkan kecurigaan padaku, apa sekarang kau tidak mempercayai kekasih tampanmu ini?" ucap Niki yang sama kesalnya.
Amora menghela nafas dan terdiam, karena dia sangat mempercayai kekasihnya melebihi dirinya sendiri. "Aku percaya!" ucapnya dengan penuh keyakinan.
__ADS_1