
Seorang pria tampan yang membaringkan tubuhnya di ranjang empuk, menatap langit-langit kamar dengan kedua tangan sebagai bantal. Menghela nafas berat saat memikirkan waktunya untuk menikmati hidup berkencan dengan seorang wanita akan berkurang. Kedua mata yang tidak bisa dipejamkan, mencoba untuk menutup kedua matanya berharap jika dia terpulas. Namun hal itu tidak terjadi, kedua matanya terasa enggan untuk terkatup.
"Apa yang terjadi padaku?" geramnya seraya menarik rambut dengan kesal. Mengambil bantal yang tak jauh dari jangkauan, Niko membenamkan wajahnya. Tapi, walau sekuat apapun dia mencoba untuk tertidur, itu hanya sia-sia karena tak membuahkan hasil.
Seketika terlintas di otaknya, segera duduk dan tersenyum. "Sebaiknya aku ke kamar Niki," monolognya seraya membawa bantal menuju kamar di sebelahnya.
Niko mengetuk pintu membuat seseorang membukakan pintu, tersenyum memperlihatkan deretan gigi yang putih juga rapi. "Kenapa kau tersenyum? Sangat mencurigakan."
"Kau selalu saja berpikiran negatif padaku," keluh Niko yang berpura-pura sedih.
"Berhentilah berpura-pura, aku tahu kau hanya berakting saja."
"Wah, ternyata kau mengenalku melebihi diriku sendiri."
__ADS_1
Niki tak menghiraukan ucapan dari kembarannya, menatap Niko dan sesekali menguap. Tatapannya tertuju pada bantal yang ada di tangan saudara kembarnya, menautkan kedua alisnya dengan perasaan bingung. "Jangan katakan jika kau ingin tidur di kamarku," selidiknya.
"Ya, begitulah. Aku tidak bisa tidur dan memutuskan untuk tidur di kamarmu."
"Apa kau ini anak kecil? Sudah berbulu masih saja ingin tidur denganku. Tidak, aku menolaknya." Ucap Niki yang menolak permintaan pria di hadapannya.
"Ayolah, hanya untuk malam ini saja." Bujuk Niko dengan tatapan nanar, berniat untuk membuat kembarannya bersimpati.
"Heh, aku tidak akan mempan jika kau terus membujukku. Pergi sana, aku sangat mengantuk!" ketus Niki yang hendak menutup pintu, tapi lebih dulu di tahan oleh Niko yang menyeringai tipis. Menendang pintu kamar dan segera masuk, berbaring di atas ranjang empuk membuat sang empunya mendelik kesal.
"Bisakah lampunya di biarkan tetap menyala?" pinta Niko yang sangat gelisah dengan ruangan gelap.
"Ck, apa kau takut?"
__ADS_1
"Bukan, hanya saja aku merasa sesak jika tidur dalam kegelapan."
"Tapi mataku tidak bisa terpejamkan saat lampunya menyala," tolak Niki yang mendelik kesal.
"Tutup saja matamu," cetus Niko yang membuat Niki menghela nafas dengan kasar.
"Kau sangat menyusahkanku," gerutu Niki.
Dengan terpaksa Niki menutup kedua matanya, keadaan terang membuatnya tak bisa tidur. Sedangkan Niko mulai memejamkan mata hingga memasuki alam mimpi.
Baru saja dua jam terlelap, Niko memeluk saudara kembarnya seraya mencium pipi dengan sangat mesra. "Kau sangat cantik, Honey!" racaunya yang sedang bermimpi sedang berkencan dengan seorang wanita cantik juga seksi. Memeluk tubuh kembarannya seraya mengelus dada Niki dengan tersenyum kekeh.
Niki yang merasa aneh dengan dirinya, membuka penutup mata dan melihat posisi tidur Niko memeluk erat dirinya. Di saat kembarannya ingin mencium bibirnya, dengan cepat dia menangkalnya menggunakan tamparan. "Aku ini masih normal, cepat bangunlah!" ketusnya kesal.
__ADS_1
Niko terkekeh, kembali menggoda saudara kembarnya dan berpikir jika itu adalah wanita seksi di dalam mimpi. "Sial, ternyata dia bermimpi." Gumam Niki yang tersenyum jahil saat mengetahui cara untuk membuat kembarannya tersadar.
"Rasakan ini!" pekiknya seraya menendang tubuh Niko hingga terjatuh ke lantai.