Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 9 - Kata bijak


__ADS_3

Keesokan harinya, Niko hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Luka di hatinya masih membekas hingga saat ini, tidak mempercayai adanya cinta dan hanya mempermainkan wanita layaknya boneka. 


Tidak bersemangat untuk bekerja, memutuskan untuk pergi ke Cafe yang dikelola oleh adik sepupunya. 


Niko masuk ke dalam Cafe Floress, tidak menghiraukan sambutan dari sang manager. "Ada apa dengan tuan Niko? Mungkin saja pekerjaan kantor membuatnya tidak bersemangat," praduga sang manajer dan berlalu pergi dari tempat itu. 


Sementara Tari sangat menyukai pekerjaannya sekarang, pekerjaan paruh waktu membuat keuangannya stabil. Belum lagi tips yang diberikan pengunjung kepadanya, membuatnya merasa sangat tercukupi. Tari merupakan gadis yatim piatu yang di menghabiskan waktu kecilnya di panti asuhan, tidak mempunyai keluarga membuatnya banting tulang untuk memenuhi kehidupan dan membantu ibu panti. 


Seorang gadis mandiri, tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya, keadaan mendewasakannya dengan sangat cepat. "Sebentar lagi aku gajian, lumayan untuk membantu ibu panti dan menabung." Batinnya yang bersemangat bekerja, melayani para pengunjung dengan sangat ramah. 


Tari berjalan ke arah pria yang duduk sendiri dengan wajah ditekuk. "Anda mau pesan apa?" tanyanya ramah, tak lupa mengukir senyuman indah menghiasi wajahnya. 


"Ambilkan minuman spesial di Cafe ini!" ucap Niko yang mendongakkan kepala. 

__ADS_1


"Kau?" ucap Tari yang mengerutkan kening. 


"Memangnya kenapa? Cafe ini juga milikku, kenapa kau terkejut begitu?" ujar Niko. 


"Baiklah, pesanan mu akan datang sebentar lagi," ujar Tari yang melembut, simpati dengan raut wajah Niko yang terlihat kusut. Ingin berlalu pergi meninggalkan tempat itu, tapi Niko menghentikan langkahnya. 


"Kau mau kemana? Temani aku di sini!" 


"Tapi aku harus bekerja," sahut Tari. 


Tari tampak berpikir, mengingat pria itu akan menggodanya. "Tenang saja, aku tidak akan menggodamu!" celetuk Niko seakan memahami isi pikirannya. 


"Eh, baiklah. Aku akan duduk di sebelahmu," gugup Tari yang duduk di sebelah Niko, menatap pria itu yang terdiam. "Sepertinya dia terlihat banyak masalah, sungguh pria mesum yang sangat malang." Batin Tari menghela nafas. 

__ADS_1


Niko terdiam beberapa saat, pikirannya sangat kacau dan tidak tahu ingin mengatakan ini kepada siapa. Berniat untuk mencurahkan yang ada di hatinya kepada sang kembaran, tapi dia tidak ingin membuat Niki terus terlibat dalam masalahnya. "Apa kau pernah dikhianati?" ucapnya yang menoleh beberapa detik dan kembali menatap lurus. 


"Bahkan kata itu menjadi temanku," ujar Tari menghela nafas dengan berat, mengingat orang tuanya meninggal saat dia dilahirkan, hidup di panti tanpa kasih sayang keluarga. Perjuangan sangat berat dapat dilalui dengan kerja keras untuk mencari sesuap nasi. 


"Apa maksudmu?" ucap Niko yang menatap wajah wanita di sebelahnya seraya mengerutkan kening. 


"Hidup itu mudah jika kau mensyukuri apa yang ada, bahkan aku sudah memahami kata itu saat aku di lahirkan di dunia ini. Jangan mempersulit dirimu mengenang masa lalu, karena kau akan semakin terpuruk. Lalui bagai air mengalir, di sana kau akan mengerti!" ucap Tari tulus, kata-kata yang sangat pas untuk dirinya sendiri. 


"Aku masih tidak mengerti," ucap Niko yang mencoba memecahkan perkataan layaknya teka teki. 


"Heh, Lupakan masa lalu dan raihlah masa depan. Kau tidak akan maju, jika terus menoleh ke belakang." Jelas Tari. 


"Hem."

__ADS_1


"Mana tips ku?" 


__ADS_2