Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 32 - Serangan musuh


__ADS_3

Entah kenapa perasaan Niko menjadi begitu gelisah, mengingat dia tak berselerah untuk berhubungan intim dengan kekasihnya, Gemini. Beberapa pekerjaan kembali tertunda saat pikirannya melayang dan tidak fokus. Septian memperhatikan tuannya, tidak tahu apa penyebab dari kegelisahan Niko. 


"Sepertinya Tuan terlihat gelisah?" celetuk Septian yang berusaha untuk mengetahui penyebabnya. 


"Entahlah, aku juga tidak tahu."


"Itu cukup sulit, bahkan Tuan sendiri tidak tahu penyebabnya."


"Hem, sebaiknya kau kembali saja keruanganmu. Tinggalkan saja aku sendiri!" usir Niko. 


"Sesuai perkataanmu, Tuan."


Niko kembali berpikir dengan perasaannya yang sangat gelisah, hingga kembali mengingat perkataan ibunya, Anna. Jika ikatan batin saudara kembar sangatlah kuat, hal itu membuatnya sangat bingung. "Apa Niki dalam masalah? Apa itu mungkin?" monolognya. 


"Itu mungkin saja terjadi," sela seseorang yang membuka pintu ruangannya tanpa meminta izin. Niko sedikit terkejut, melihat ke sumber suara dan ternyata sepupunya, Alex.


"Kau datang seperti jelangkung, datang tak diundang pulang tak diantar." Kesalnya karena pria itu berhasil membuatnya terkejut. 


"Berhentilah bergurau, karena situasinya saat ini sangat berbahaya."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" ucap Niko yang sangat penasaran. 


"Menurut informasi yang aku dapatkan, ada seseorang yang ingin mencelakai Niki."


"Pantas saja perasaanku menjadi gelisah, itulah penyebabnya. Kau tahu, ini kali pertamanya aku menolak hubungan intim dengan Gemini, bukankah itu suatu hal yang menarik?" ucap Niko yang membanggakan diri. 


"Aku berdoa agar kau tidak tertular penyakit kelamin."


"Ck, kau selalu saja membuat aku kesal. Berikan aku informasi dari lokasi Niki berada," desak Niko yang sangat mengkhawatirkan kembarannya. 


"Ikuti aku!"


Di sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan keduanya. Jalanan yang sepi kendaraan di manfaatkan oleh segelintir musuh untuk menyerang. Niki menyadari suatu kejanggalan, ada beberapa mobil yang mengikutinya. 


"Sepertinya keempat mobil di belakang itu sedang mengikuti kita," ucap Amora yang mulai terlihat panik, keringat yang mengucur deras di dahinya menandakan dia sangat takut. 


"Kau tenang saja, kita pasti selamat!" tukas Niki yang terus fokus mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. "Ya tuhan…tolong selamatkan kami, aku bahkan belum menikah dan merasakan malam pertama," gumam Amora dengan mulut komat-kamit layaknya membaca mantra. 


"Astaga…mereka malah semakin dekat." Batin Niki. 

__ADS_1


Suara tembakan memecahkan kaca belakang mobil, beberapa orang mulai menembak mobil mereka membuat Amora membungkukkan badan, menutup kedua telinga dan juga matanya. "Aku sangat takut, apa kita kan selamat?" selorohnya sambil memandangi wajah serius dari Niki. 


"Kau jangan takut, bisa kau ambilkan pistol yang ada di belakang kursi?" ucap Niki berhasil membuat Amora terkejut. 


"Pi-pistol?"


"Kita tidak punya banyak waktu, cepat lakukan!" titah Niki. 


Dengan cepat Amora menoleh ke belakang, melihat sebuah tas yang berisi senjata api. Mengambil salah satu pistol kecil dan memberikannya kepada Niki, tangannya bergetar hebat karena kali pertama memegang pistol. 


"Apa kau bisa menggantikan aku?" ucap Niki tanpa menoleh. 


"Melihat situasinya saat ini, aku tidak bisa mengemudikan mobil."


"Jika begitu, kau tembak musuh."


"A-apa? Itu suatu tindak kejahatan."


"Apa kau ingin dibunuh? Cepat lakukan perkataanku," tukas Niko yang terus fokus mengemudi dan sesekali melirik kaca spion. Amora pindah ke kursi belakang, memegang pistol dengan tangan yang bergetar hebat. "Bagaimana cara menggunakannya?" 

__ADS_1


"Tenangkan pikiranmu, fokus pada sasaran dan menarik pelatuknya, dan tembak. Mudah bukan? Cepat lakukan!" jelas Niki. 


__ADS_2