
Niki menendang tubuh Niko hingga terjerembab ke lantai, membuatnya terbangun dan menatap sang pelaku. "Kenapa kau menendangku?" ketusnya.
"Itu karena kau sangat menyebalkan."
"Apa kesalahanku? Kau mengganggu mimpi indahku," protes Niko jengkel.
"Mimpi indah katamu? Kau hampir saja mencium bibirku dan juga menyentuh dadakudadaku, aku masih normal!"
"Benarkah?" Niko menatap saudaranya dengan polos, tidak menyadari apa yang terjadi.
"Sebaiknya kau keluar dari kamarku." Usir Niki, menunjuk pintu kamar.
"Baiklah-baiklah, tidur denganmu hanya membuat mimpi indahku terganggu." Niko menarik bantal, berlalu pergi menuju kamarnya.
****
Keesokan harinya, Niko memutuskan untuk berangkat ke kantor dengan cepat, tak ingin jika keluarganya membahas mengenai pernikahan. Dia tak ingin menjalin hubungan hanya dengan satu orang wanita saja, mengingat dirinya seorang cassanova.
__ADS_1
"Huff, untung saja aku bisa terbebas dari pertanyaan horor itu." Gumamnya yang fokus berkendara, senang karena bisa terbebas tapi tidak dengan Alex dan juga Niki. Dia tersenyum puas dengan nasib sial Niki yang akan di jodohkan dengan wanita pilihan keluarga.
Saat di meja makan, mereka sarapan dengan tenang, tidak ada obrolan yang terdengar hanyalah suara dentingan garpu dan pisau. Nathan menatap kedua cucu laki-lakinya dengan menyelidik, membuat yang di tatap menyadari hal itu.
"Kenapa Kakek menatap kami begitu?" tanya Niki yang penasaran.
"Ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua, seharusnya Niko ada di sini. Tapi, karena dia bos yang disiplin membuatnya datang lebih awal ke kantor." Jelas kakek Nathan.
"Katakan saja," sela Alex yang fokus dengan dengan sarapannya.
"Aku ingin ketiga cucuku segera menikah," ucap kakek Nathan, sontak membuat Alex terbatuk. Sedangkan Niki hampir saja tersedak.
"Kakek tahu sendiri, jika aku phobia dengan wanita. Bagaimana aku bisa menikah?" jawab Alex dengan sendu.
Mendengar jawaban dari Alex, kakek Nathan menatapnya bersimpati. Dia sangat tahu bagaimana perasaan dari pria muda itu, mengingat dirinya juga mempunyai phobia yang sama. Hanya karena cinta sejatilah membuat phobia akan wanita mulai memudar.
"Hem, aku mengerti. Bagaimana jika kau saja yang menikah lebih dulu!" dia menunjuk Niki berpura-pura tak mendengar. "Berhentilah untuk berpura-pura demi mendapat simpatiku."
__ADS_1
"Kenapa harus aku? Seharusnya cucu tertua dulu." Tukas Niki yang memelas, karena belum menemukan cinta sejatinya.
"Ck, Niko tidak ada di sini!" ketus dad El.
"Sialan, jadi Niko sudah mengetahui pembicaraan ini? Itu sebabnya dia bergegas ke kantor." Batin Niki mengumpat saudaranya yang licik.
"Aku akan mencarikan wanita untukmu," sela mom Anna yang menatap putranya dengan raut wajah bahagia.
"Ayolah Mom, aku tak ingin menikah secepat ini!" tolak Niki memelas.
"Tapi Mom ingin kalian segera menikah, kami sangat menginginkan jika kalian memberikan cucu untuk kami," ungkap mom Anna dengan sendu membuat Niki meringis.
"Berikan aku waktu beberapa bulan saja untuk menemukan cinta sejatiku," pinta Niki.
"Dua bulan, jika itu tak berhasil maka Mom sendirilah yang mencarikan wanita untuk mu."
"Apa? Secepat itu? Ayolah, Mom. Dad, bantu aku tak ingin menikah." Rengek Niki.
__ADS_1
"Apa yang di katakan oleh mom memang benar. Maaf, Dad tak bisa menolongmu untuk urusan seperti ini." Tolak dad El yang mengangkat kedua bahunya acuh.
Niki menghela nafas dengan berat, terpaksa menerima perkataan dari keluarganya.