Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 50 - Titah Niko


__ADS_3

Di kantor, Niko terlihat gusar setelah perkataan sang kakek Nathan lewat telepon yang ingin melihatnya untuk segera menikah. "Astaga…kenapa semua orang ingin mengikatku dalam pernikahan? Aku tak bisa menjalin hubungan hanya dengan satu wanita saja!" kesalnya seraya melonggarkan dasi yang seakan mencekik lehernya. 


"Asep!" panggil Niko yang yang sedikit berteriak. 


"Iya, Tuan." Sahut sang asisten Septian dengan cepat dan juga pasrah dengan namanya yang di ubah oleh atasannya. 


"Cepat panggilkan wanita jelek itu!"


"Wanita yang mana, Tuan?" sahut asisten Septian bingung. 


"Ck, siapa lagi jika bukan wanita yang berdandan kuno itu."


"Nona Ara?"


"Kau pikir siapa? Hanya dia yang paling jelek di kantorku."

__ADS_1


"Baiklah, akan saya panggilkan." Asisten Septian segera pergi dari tempat itu menuju departemen sekretaris. 


Ara sedang berkutat dengan pekerjaannya di layar pipih itu, melihat dengan sangat detail dan menginput beberapa data yang dibutuhkan oleh atasannya. Terdengar suara meja yang di ketuk, terpaksa menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap sang pelaku. "Asisten Septian?" 


"Ya, ini aku. Kau dipanggil oleh tuan Niko untuk segera datang ke ruangannya."


"Kenapa dia memanggilku?" seloroh Ara yang menautkan kedua alisnya dengan penasaran. 


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Sebaiknya kau segera ke sana atau tuan Niko memarahimu." Tekan asisten Septian. 


"Hah, baiklah." Ara berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya menuju ruangan bos, sebenarnya dia sangat enggan untuk menginjakkan kaki keruangan itu  Tapi, karena posisinya hanya bawahan, dengan terpaksa mematuhi perkataan Niko. 


"Iya, Tuan. Kenapa memanggilku? Apa anda memerlukan sesuatu?" ucap Ara dengan formal. 


"Hem, duduklah." Ucapnya dengan lembut membuat Ara mengerutkan kening. "Tumben dia berbicara seperti itu," batinnya sambil mengikuti perintah. 

__ADS_1


"Ambilkan air minum yang ada di meja itu," ucap Niko membuat Ara menjatuhkan rahang, bagaimana tidak? Jika waktu hanya terbuang sia-sia akibat permintaan konyol dari bosnya. 


"Jadi, Tuan memanggilku hanya untuk mengambilkan segelas air di sana?" 


"Tentu saja, cepat ambilkan karena aku sangat haus!"


"Sial, tangan dan kakinya baik-baik saja. Sepertinya dia ingin menyulitkanku," gumam Ara di dalam hati, memberikan segelas air kepada Niko. "Minumlah, apa ada lagi?" Ara tersenyum paksa, jauh di lubuk hatinya yanh sangat geram. 


"Tentu saja ada," Niko mengambil beberapa berkas yang tersimpan di laci meja kerjanya dan meletakkan di hadapan wanita itu. "Kau pelajari semua berkas itu, dan kerjakan dengan benar." 


"Sebanyak ini?" ucap Ara yang melongo, melihat tumpukan berkas yang menggunung di atas meja. 


"Hem, selesaikan hanya dalam dua hari, dan sekarang kau boleh pergi dari sini." Usir Niko yang menggerakkan tangannya memberikan isyarat untuk meninggalkan ruangannya. 


"Baik, Tuan." Ara membawa semua berkas itu dengan susah payah, berjalan menuju departemen sekretaris. 

__ADS_1


Sesampainya di meja kerja, Ara meletakkan semua berkas itu, memijat lengan nya yang sedikit pegal. "Pria itu niat sekali untuk mengerjaiku, memberikan waktu hanya dua hari saja. Apa dia pikir aku ini robot? Yang bekerja dua puluh empat jam? Hah, sebaiknya aku mengerjakan ini sebelum pria itu mencari-cari kesalahanku." Monolognya kesal, mempelajari satu persatu berkas dan mulai mengerjakannya. 


Sementara Niko tersenyum smirk, berhasil membuat sekretaris barunya tersiksa dengan semua berkas itu. 


__ADS_2