
Septian sangat terkejut dengan pernyataan tuannya yang sangat gila, mencari sekretaris baru bukanlah hal yang mudah. Namun terlintas di otaknya dengan membuat pengumuman di surat kabar, baliho, spanduk, dan bahkan poster, setidaknya mengurangi bebannya. "Untung saja aku punya ide briliant, benar-benar genius!" gumamnya yang memuji diri sendiri.
Seorang wanita berjalan dengan gontai, duduk di bawah pohon dan melihat seorang pria yang menempelkan kertas di penjuru jalanan. Wanita itu berdiri dan melihat kertas yang tertempel di batang pohon tak jauh darinya, tersenyum seakan memenangkan sebuah lotre. "Akhirnya, aku mempunyai peluang." Monolog wanita itu dan mencabut kertas, memasukkannya ke dalam tas.
Wanita yang berpenampilan sangat cupu dan terlihat ceroboh bernama Ara, mencoba keberuntungan dengan melamar pekerjaan menjadi sekretaris di perusahaan Wijaya.
****
Keesokan harinya, ada begitu banyak para pelamar yang membuat Ara minder. ada beberapa pelamar menatapnya merendahkan, apalagi penampilan seorang wanita cupu, dengan penampilan kuno membuatnya dipandang sebelah mata. "Kenapa mereka menatapku begitu?" batinnya seraya melihat penampilannya yang rapi.
Septian kewalahan dengan sikap dan tingkah mereka, menyeleksi satu persatu dan tidak menemukan yang cocok. Tibalah giliran Ara yang introgasi layaknya seorang polisi menanyai tahanan, dia sangat gugup dan tercengang melihat wajah pria tampan di hadapannya
Septian menjentikkan jarinya, bermaksud untuk membuat wanita itu sadar dari lamunan. "Maaf, apa wawancara ini bisa kita lanjut?" ucapnya yang mengerutkan kening, menatap wanita itu dengan intens. Ara dengan cepat menganggukkan kepala, bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan dari Septian.
Setelah beberapa saat, Septian meminta Ara untuk keluar dari ruangan dan menunggu hasil. Septian sangat bersemangat memilih pekerjaan dari tugas akhir mencari sekretaris baru menggantikan sekretaris Rini yang bercuti.
Semua orang sangat deg-degan dan sangat yakin jika mereka akan terpilih menjadi sekretaris, sementara Ara hanya terdiam dan terus berdoa agar dirinya diterima.
"Ya tuhan…semoga aku terpilih, jika saja itu terjadi? Aku akan mengundang sahabatku dan mentraktirnya," gumamnya dengan penuh harap.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Septian terus memeriksa surat pekerjaan dan hasil wawancara tanpa terlewatkan sedikitpun. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana, menghubungi bosnya.
"Halo, tuan."
"Hem, ada apa?"
"Aku sudah menemukan sekretaris pengganti."
"Itu bagus, bagaimana dengan penampilannya."
"Itu yang jadi masalahnya, tuan."
"Calon sekretaris baru ini mempunyai kualitas terbaik dari yang baik, hanya saja__"
"Hanya saja apa?"
"Penampilannya sangatlah aneh."
"Aneh?"
__ADS_1
"Benar, tuan. Wanita yang sangat cupu dengan memakai pakaian sedikit kuno."
"Ck, apa kau berniat membuatku sakit mata?"
"Sudah aku katakan jika wanita itu sangatlah pas dan mempunyai pengalaman dalam bidangnya."
"Ya sudah, kau atur saja segalanya."
"Baik, tuan."
Sambungan telepon terputus, Septian menghela nafas lega mendengar jawaban itu. "Akhirnya pekerjaanku terselesaikan," gumamnya sambil melangkahkan kaki menuju keluar ruangan.
"Perhatian semuanya, aku selaku asisten dari perusahaan ini sudah menyeleksi kalian semua, yang tidak terpilih jangan bersedih hati." Ucap Septian dengan lantang.
Ara sangat cemas, berharap jika dirinya terpilih menjadi sekretaris. "Semoga dia menyebut namaku!" batinnya.
"Yang terpilih menjadi sekretaris adalah nona Arabella," ucap Septian dengan lantang.
Seketika Ara bersorak gembira membuatnya menjadi pusat perhatian semua orang, segera berlari menuju Septian yang memanggil namanya.
__ADS_1
"Selamat, anda terpilih menjadi sekretaris di perusahaan ini. Tanda tangan surat kontrak ini," tukas Septian yang menjabat tangan Ara.