
"Bagus, dimana lokasinya?" desak Niko dengan semangat menggebu-gebu.
"Tidak jauh dari kota," sahut Niko.
"Itu artinya dia memata-matai keluarga kita," celetuk Alex.
"Apa maksudmu mengatakan itu? Bukankah mansion sudah dilindungi dengan pengamanan yang ketat?" ucap Niko yang sangat khawatir.
"Apa yang diinginkan oleh musuh kali ini? Sungguh, aku tak mengerti sama sekali." Racau Niki yang juga tak paham.
"Apa kalian mengawasi seluruh anggota Wijaya?" ucap Alex yang sangat serius.
"Hah, itu cukup sulit. Mengingat anggota keluarga yang berpisah membuat aku tak bisa memantau mereka semua," jelas Niko yang sangat menyesal, hanya menghabiskan waktu berkencan melupakan untuk mengawasi keluarganya.
"Sial, akibat kecerobohan mu membuat keluarga kita terancam bahaya." Alex menggebrak meja, sangat marah dengan sikap Niko yang tidak ada peduli dengan keselamatan anggota keluarga.
__ADS_1
"Maaf!" ucap Niko yang menundukkan kepala dengan sangat menyesal.
"Kali ini aku memaafkanmu, mulai sekarang aturlah keamanan para anggota keluarga. Dan bagaimana dengan Eve?" tanya Alex yang sangat khawatir dengan adik sepupunya itu. Dulu dia tak sengaja mendengar perkataan kakek Nathan dengan Eve untuk tidak memperlihatkan kelebihan di hadapan semua orang. Sejak saat itulah, dia mencari tahu rahasia apa yang di sembunyikan kakek Nathan kepadanya.
Niko kembali terdiam, dia juga lalai mengawasi adik sepupunya dengan membiarkannya sendiri. Alex tak habis pikir, menutup kedua matanya sepersekian detik dan melayangkan sebuah tamparan di pipi Niko. Semua orang terdiam, mengetahui kemarahan dari pria itu.
"Seharusnya aku tidak menugaskan untuk masalah serius seperti ini, pikiranmu hanya ada wanita dan wanita saja!" tekan Alex. Niko memegang pipinya yang memerah akibat tamparan keras dari sepupunya, sikap kurang peduli pada keluarga membuatnya sangat menyesal.
"Sudahlah, menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah. Kita pikirkan saja bagaimana permasalahan ini cepat berakhir," sela Niki yang mencairkan suasana.
Ketiga pria itu kembali duduk dan membahas masalah sistem keamanan dari anggota keluarga, memerlukan waktu dua jam lamanya.
"Aku berjanji hal ini tidak akan terulang lagi," seloroh Niko.
"Hem, semoga saja. Aku harus pergi!" pamit Alex.
__ADS_1
"Apa kau bersembunyi karena Baby?" tanya Niki dengan berani.
"Tidak."
"Lalu? Kenapa kau tidak pulang ke Mansion?"
"Karena aku ingin melacak musuh."
"Ya sudah, jika itu keinginanmu." Pasrah Niki.
Niko dan Niki melihat punggung Alex yang menghilang dari balik pintu.
****
Saat pulang dari markas, Niko membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk berukuran king size. Menatap langit-langit kamar dan memikirkan keselamatan keluarga akibat kecerobohannya. "Aku sangat ceroboh, padahal Alex sudah memintaku untuk menjaga anggota keluarga Wijaya." Monolognya seraya memegang pipi yang meninggalkan bekas memerah.
__ADS_1
"Apa maksud dari perkataan Alex? Sepertinya dia mengetahui sesuatu, tapi apa?" gumamnya yang tampak berpikir, memahami jika sepupunya itu tahu akan suatu hal. "Apa maksudnya Eve dalam bahaya? Tapi apa tujuan musuh dalam mengincar si cupu itu? Sebuah teka-teki yang cukup sulit memecahkannya."
Serentetan pertanyaan masih membayangkan pikirannya saat ini, memahami jika Alex tak akan mengatakan apapun padanya juga pada Niki. "Aku harus memastikannya sendiri dengan memberikan sistem keamanan yang ketat pada Eve." Pikirnya yang menganggukan kepala seraya memejamkan kedua matanya.