Terjerat Cinta Twins N

Terjerat Cinta Twins N
Bab 29 - Dua sisi


__ADS_3

Suasana ruangan kerja yang sunyi, hanya ada Niko dan juga Gemini. Mereka memanfaat situasi itu untuk bermesraan, menghabiskan waktu di atas ranjang yang telah tersedia di ruang istirahat. Gemini tersenyum menggoda, merindukan pria itu untuk menghangatkan ranjangnya. Mencium bibir Niko dengan lembut, menjelajahi deretan gigi yang tersusun rapi. Keduanya hanyut dalam hasrat, ciuman yang semakin lama kian menuntut, Gairah Gemini seakan terbakar dan menginginkan sentuhan lebih dari pria itu. 


Mengusap dada bidang kekasihnya, melepas jas dan juga membuka kancing kemeja satu persatu. "Aku menginginkanmu," bisiknya dengan suara menggoda. 


Hasrat yang kian memuncak seakan sirna, seakan Niko tak bernafsu untuk bermain dengan kekasihnya. "Lain kali saja!" tolaknya yang kembali memasangkan kancing kemeja. 


Gemini berusaha untuk membuat pria itu tergoda dengan tubuhnya, sengaja mengangkat gaun ketatnya ke atas. "Apa kau masih menolakku?" ucapnya yang mendekati Niko, memeluk tubuh kekar dari pria itu dengan sangat erat. 


"Lain kali saja, tiba-tiba aku tak berselera." 


"Ada apa denganmu? Tidak seperti biasanya kau menolak untuk berhubungan intim denganku?" tanya Gemini yang sangat penasaran. 


"Aku juga tidak tahu, kau pergilah! Aku ingin melanjutkan pekerjaan ku." Ucap Niko yang beegegas pergi ruang istirahat menuju meja kerjanya. 


Gemini menatap kepergian dari kekasihnya dengan raut wajah kecewa, padahal dia ingin melayani pria itu demi mendapatkan uang. "Sial, aku gagal menggodanya!" umpatnya kesal seraya merapikan gaun ketat yang dia kenakan. Keluar dari ruangan itu dan berjalan mendekati Niki, tak lupa mencium bibir milik kekasihnya. "Aku pergi dulu, jika kau butuh penghangat ranjangmu, segera hubungi aku."


"Hem."


Setelah kepergian Gemini, Niko kembali melanjutkan pekerjaannya. 

__ADS_1


****


Sementara di tempat lain, Niki memulai untuk hidup sederhana di kediaman sang kakek, menjalani hari-harinya untuk membantu pria tua itu dalam melakukan pekerjaan. "Semenjak kau datang dan menginap di sini membuat kehidupanku menjadi lebih mudah." Ucap Bonar yang tersenyum memperlihatkan gigi jarangnya. 


"Karena aku pengangguran," sahut Niki asal. 


"Bagaimana mungkin? Dad mu itu anak orang kaya dan kau pengangguran? Astaga…El sialan itu membuat cucuku menderita," racau Bonar yang kaget. 


"Bukan begitu, Kek. Pengangguran dalam artian telah menyelesaikan pekerjaan," jelas Niki yang meluruskan kesalahpahaman, tapi Bonar malah salah mendengar membuatnya semakin kesal. 


"Cepat kau hubungi Daddy mu itu!" titah Bonar yang meredam rasa kesal pada menantunya. 


"Kau tidak perlu mengatakan apapun, cukup diam saja. Cepat kau hubungi El, sisanya serahkan saja pada pria tua ini."


Niki tak mengerti ucapan sang kakek yang keukeuh untuk memintanya menghubungi sang ayah. 


"Halo, dad!"


"Ya, tumben kau menelpon. Ada apa?"

__ADS_1


"Bukan aku, tapi___" 


Belum sempat Niki menyelesaikan perkataannya, Bonar lebih dulu merampas ponsel yang ada di tangan cucunya. 


"Ini aku!"


"Ayah mertua? Ada apa?" 


"Aku ingin protes untuk keadilan dari cucuku, Niki."


"apa maksudnya? Aku tak mengerti."


"Kau itu sangat kaya, tapi semua kekayaanmu hanya ditimbun saja."


"Sungguh, aku tidak mengerti."


"Properti mu sangatlah banyak, tapi kenapa cucuku tidak bekerja dan menjadi pengangguran."


Niki terbelalak kaget saat mendengar percakapan ayahnya dan juga kakeknya yang tak pernah akur sedari dulu, bagai minyak dan air. Dengan cepat dia mematikan ponsel dan menatap Bonar menyelidik. 

__ADS_1


__ADS_2