
Mereka masih memikirkan kejadian ini, kejanggalan yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Niki bahkan sudah meretas keamanan dari aliansi mafia itu, hanya saja selalu gagal membuatnya membutuhkan pertolongan dari sepupu juga saudara kembarnya.
"Aku rasa itu tidak mungkin, apalagi keluarga Wijaya menjalin persahabatan dengan keluarga Paman Zean." Jelas Niki yang juga merasa tak yakin.
"Hah, ini sedikit rumit bagiku." Celetuk Niko yang menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Dugaan kalian benar, aliansi mafia Tiger sudah lama mati. Bisa saja orang lain ingin mengadu domba dengan mengkambing hitamkan mafia milik Rayyan." Ucap Alex panjang lebar membuat Niko menatapnya dengan mulut terbuka.
"Luar biasa, ini kalimat paling panjang yang pernah aku dengar dari mulutmu." Putus Niko kagum.
"Sangat norak, apa kau pikir dia itu robot?" bela Niki yang menoyor kepala kembarannya.
"Sialan! Apa kau pikir kepalaku ini samsak?" ucap Niko tak terima, hingga keduanya kembali bertikai.
__ADS_1
"Bisakah kalian bersikap serius?" ucap Alex yang meninggikan suara, menatap satu persatu sepupu kembarnya dengan tajam.
Niko dan Niki terdiam saat melihat tatapan kemarahan dari Alex yang terlihat sangat mengerikan, mengingat sikap Alex yang persis seperti ayahnya, namun lebih dingin dan juga arogan.
"Kenapa kau marah? Kamu hanya bercanda saja!" celetuk Niki yang melingkarkan leher Niko menggunakan tangannya, tak lupa untuk menginjak kaki kembarannya agar tak bersuara. "Kau diamlah, Alex sangat berbahaya jika dalam mode marah. Apa kau ingin jadi pria impoten?" bisiknya di telinga Niko.
Seketika Niko menjadi diam, menelan saliva dengan susah payah yang seakan tersangkut di tenggorokan. "Astaga…hampir saja aku melupakan hal itu," balasnya berbisik seraya memegang belalai tanpa gading yang masih tersimpan rapi di dalam celana.
"Berhati-hatilah jika kau berbicara dengan kanebo kering itu," bisik Niki dengan sedikit ancaman.
"Apa kalian sudah selesai berbisik?" ucap Alex yang menatap kedua pria itu dengan sorot mata menusuk, seakan ingin memakan sasarannya dengan lahap.
"Sebaiknya kita kembali membahas permasalahan pertama saja!" imbuh Niko yang tersenyum pepsodent, memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi. Tak ingin membuat Alex marah yang akan berakibat fatal baginya, berhenti memproduksi secara cepat saat dirinya menjadi impoten.
__ADS_1
"Hem."
Suasana kembali tenang dan sunyi, beberapa menjelaskan permasalahan yang terjadi. Alex memahami semua dengan sekali penjelasan saja, dan menyimpulkannya. "Aku akan memberikan kalian tugas! Untuk Niki, kau carilah data mereka dengan keahlian yang kau miliki. Sedangkan Niko, memantau pergerakan musuh." Atur Alex.
"Dan kau? Apa pekerjaanmu?" protes Niko mengerutkan keningnya saat menatap Alex.
"Aku akan mencari pemimpin mereka dan menyerangnya, apa kau ingin bertukar tempat?" ucap Alex menyorot Niko.
"Setelah kupikir-pikir, porsinya sudah cukup dan tidak perlu menukar tempat." Niko menggaruk pangkal hidungnya yang tidak gatal, dia berpikir jika sepupunya Alex hanya memberi perintah saja.
"Hem. Niki, lakukan pekerjaanmu!" titah Alex yang dengan cepat dilakukan.
Niki mengambil laptop dan mulai meretas data dari musuh yang mengkambing hitamkan mafia Tiger, mengutak-atik laptop dengan tatapan fokus ke layar pipih. Gerakan tangan yang begitu lincah membuat pekerjaan semakin mudah dan cepat.
__ADS_1
Hampir setengah jam Niki mencari keberadaan dan melacak musuhnya, kesabaran dan kerja kerasnya berbuah manis saat menemukan lokasi musuh yang berada tak jauh dari kotanya.
"Dapat!" ucap Niki yang tersenyum, membuat Alex dan Niko senang.