Terkunci Dalam Dunia My Uncle

Terkunci Dalam Dunia My Uncle
Kejadian tak terduga


__ADS_3

Jadi aku benar-benar kembali, lalu bagaimana keadaan Clarisha? apa yang kini terjadi padanya, sebuah sentuhan lembut kini terasa pada pipi bagian kanan yang membuyarkan sebuah angan tentang kehidupan kedua ku, anggap saja seperti itu,


"Apa yang saat ini kau pikir kan, Finesha? "


aku Hanya merespon dengan menggelengkan kepala, aku merasa melihat dia seperti ini seolah kalau kedatangan Daddy adalah sebuah keberuntungan untuk ku, namun kali ini kehancuran dari kebahagiaan ku terenggut oleh putri kesayangannya, Fenesha,


bagaimana keadaan nya? apakah pernikahan yang terjadi dengan merebut kedudukan ku, bisa begitu mudah terjalin? atau mungkin semua hanyalah firasat hatiku yang masih tertuju pada Direndra!


apa karena cinta pertama itu begitu sulit dilupakan?entahlah, walaupun demikian, secara tidak sengaja kehadiran semua Paman kala itu mengisi ku dengan sebuah kebahagiaan,sehingga semua masalah terbesar dalam hidupku larut dengan sendirinya, rasanya senang bisa mendapatkan kisah yang nyata namun menarik,


tanyaku yang amat berat berucap,


"Bagaimana kabar Mom, Daddy? "


Daddy tiba-tiba saja membalas dengan senyum menyinggung, aneh, biar begitu dia masih tetap membalas perkataan ku,


"Mommy, sekarang punya kehidupan nya sendiri,begitu pula dengan Daddy, kaulah menjadi hal utama dalam kehidupan Daddy mulai saat ini, maaf untuk semua kesalahan Daddy, sayang! "


aku hanya bisa tersenyum, tapi entah kenapa, walau sudah kembali, ada sesuatu yang begitu mengganjal terasa didada ini, sesak, bak seolah seperti akan ada sesuatu yang terjadi, apapun itu harapan ku cuma satu, selamat dari kehidupan yang membingungkan diriku,karena kata dokter aku diperbolehkan pulang, maka Daddy pun membawa ku keluar yang sudah jelas terlihat, kehadiran Grandma Merinda dan Grandpa Janson menunggu didalam mobil yang tepat terparkir didepan kami, Daddy pun langsung memapa pelan tubuhku dan membuat ku terduduk dikursi yang sama dengan ku, sekali ini, bahkan tak pernah terlintas bahwa dirinya akan sebegitu dekatnya, apalagi kedua sisi bahu kami saling bersentuhan, rasanya bagai mimpi disiang hari,


DiPerempatan jalan, Daddy meminta pak supir untuk menepi sejenak, ucapku,


"Daddy mau kamana? kok keluar dari mobil? "


jawabnya,


"Mau membelikan sesuatu di sana yang amat kau sukai, "


Akhirnya saat Daddy pergi keluar menuju ke tokoh itu, ku lihat Sesosok wajah aneh mengawasi Daddy,


pikir ku


"Siapa Dia? "


lalu ketika Daddy Henson keluar disana sebuah mobil yang tadinya terparkir tenang kini melaju kencang kearah nya,


"Oh my god, "


aku yang mengetahui hal itu langsung mencoba menghentikan namun, Tiba-tiba saja jeritan Grandpa dan Grandma membuatku tertegun aku tidak ingat apa yang barusan terjadi,


kini yang nampak mereka bertiga mengitari ku merintihkan air mata yang begitu deras, sambil menepuk kedua pipiku, agar tidak kehilangan kesadaran, apa yang sebenarnya terjadi?


beberapa saat kemudian baru terlihat Finesha yang saat itu berlari hanya demi menyelamatkan nyawa Daddy Henson yang hendak mendapatkan serangan tabrakan dari sesosok misterius sehingga mau tidak mau, demi mencoba menyelamatkan nya, Finesha harus berkorban diri, disini lah dia teringat seseorang yang berada didalam mobil tersebut nampak gadis yang begitu mengejutkan Finesha, dia tidak lain adalah saudara kembar nya, Fenesha,


bagaimana bisa dia mengetahuinya? itu terjadi saat tabrakan keras menghantam tubuh Finesha hingga dirinya dalam sekejap menempel sangat keras pada mobil depan miliknya, yang berakhir kejam melihat sang adik kandung lagi-lagi tega melakukan siasat pembunuhan, apalagi ini sangkut pautnya dengan Daddy yang selama ini memberikan kasih sayang teramat dalam padanya, yang tak pernah sedikitpun aku dapatkan, dan kenapa aku merasakan nyeri pada kepala ku,


mendengar seseorang memanggil nama tak begitu asing itu, akhirnya selepas mataku mulai gelap, kembali lah aku membuka perlahan pelan kelopak mata dengan bulir bening yang menetes di pipi waktu itu, merasakan jemari seseorang yang nampak mengusap lembut, mata ini langsung saja membuka untuk melihat siapa yang menyentuh ku barusan, namun alhasil, pandangan ku sedikit gelap, bahkan goyah melihat seorang pria yang saat ini berada tepat duduk di samping ku,


Gumam ku,


"Apa tabrakan tadi benar-benar nyata? "


sahut lantang seseorang yang yang membikin aku geram mendengar nya, walaupun dalam keadaan kondisi belum stabil sepenuhnya, setidaknya suaranya membuyarkan ketegangan,


"Jika tabrakan itu nyata, berarti kau benar-benar sudah gila, mana ada insiden kecelakaan tragis di ranjang, yang ada kesenangan yang terjadi disana, bukan begitu, keponakan! "


hemm, aku tau suara benging ngeselin tujuh keturunan itu, Paman Shinje, pasti dia, siapa lagi lakon dalam dunia pernovelan kali ini,


namun sampai kapan penglihatan ku aneh, padahal toh tadi hanya pingsan,


sahut seseorang yang selalu aktif walaupun sudah dinonaktifkan,


(dijamin nanti juga sembuh, percaya sama aku, obat penghilang rasa nyeri seutuhnya semua berada disampingmu, tenang aja, gak perlu khawatir lagi, Bukan begitu, Clarisha! )


tunggu tadi kau bilang, apa? Clarisha, oh iya, jika aku mendengar suara Paman Shinje berarti, aku kembali ke titik kedua kehidupan baru ku bersama, semua masalah pokok ku dengan para Paman,


(idih, jadi sok penting banget, pakek acara masalah pokok, belum juga jadi gebetan,)


ni ati gak mikir apa,


(ya jelas, to gue dihati, bukan diotak lo, ya itu kerjaan lo buat mikir, bener to?)


ni kalau lama-lama kayak gini, bisa nambah aja peningnya,


sahut suara lirih seseorang,


"Kau baik-baik saja, Keponakan! "


nama sekaligus cara memanggilnya sangat berbeda dengan mereka, siapa dia? menatap penuh dengan menekan bagian mata agar lebih jelas terlihat, namun alhasil masih sama,


"Kau siapa? wajah mu tidak terlihat semua, hanya seperti bayangan gelap yang nampak begitu dekat disini! "


mendengar hal itu sontak semua Paman jadi khawatir bukan main, langsung saja Sizen menimpali pembicaraan dari keduanya,


"Sekarang, apa kau juga bisa melihat ku, Clarisha? "


mendengar suara Paman lagi, ya aku tau siapa dia, tapi masih sama,


"Paman Sizen, ini kamu kan? "


sodoran kata yang dibuat Frand Huyan mencengangkan dari hasil bayangan nya yang begitu tajam,


"Bagaimana kau bisa tau kalau dia, Paman Sizen? "


ya pasti dia penasaran, wajar karena dia orang pertama yang membuatmu gundah disetiap saat,


"Aku udah terbiasa dengan ciri khas suara nya, walaupun aku masih tetap tidak bisa melihat wajahnya jelas namun, aku bisa membedakan dari segi gaya bicaranya, Paman Huyan! "

__ADS_1


senyum pun berbalik pada wajah Frand kalau dirinya dipanggil sang keponakan dengan nama belakang nya, walaupun masih ingat, cara pandang nya meresahkan sebab, dirinya masih tak sanggup melihat segalanya dengan normal,


ujarku,


"Dimana Paman Lukas? "


sahutnya dalam sekejap,


"Merindukan ku, jangan khawatir, nanti jika kau sudah utuh sepenuhnya, aku bisa buat Clarisha lebih mendominasi nya! "


tiba-tiba saja semua tatapan Paman tertuju pada perkataan Lukas,


lalu belotnya dia,


"Emang kenapa kalian menatap ku seolah aku yang berbuat salah! "


kata Darka,


"Kak, jaga sikap liat kondisi, ini mengkhawatirkan, tapi kakak justru membuat nya seolah semua hal itu diporsikan menarik, "


akhirnya aku pun ya walau masih tak bisa melihat nya, tapi aku membalas gurauan yang memang jelas sangat ku rindukan,


"Semua porsi dalam hidup Lukas hanya mengarah pada satu domian dalam tumpuan nya, bukan begitu, Lukas! "


keseriusan terjadi, mereka semua diam mendengar suara berbeda dari Clarisha saat menanggapi Lukas, bahkan hanya dengan memanggil namanya tanpa embel-embel didepan nya,


"Tepat sekali, memang sekarang kau lebih pintar dari sebelumnya, "


jawabku,


"Memang siapa yang membuat ku sampai sepintar ini, apa kau lupa, Lukas? bukankah selama ini kau lah yang mengajarkan ku menjadi seperti sekarang!"


helaan nafas beratnya,


"Seandainya kesempatan ini sempurna, aku bisa jamin kau gak akan bisa lepas dariku, Clarisha! kau sengaja menggunakan taktik seperti ini karena ada sebuah tebing penghalang, yang membuat ku harus menahan segalanya, jika mengenai dirimu! "


Sekuat-kuatnya hati, jika sudah berhadapan dengan Clarisha, Lukas gak kan bisa fokus walaupun semua saudara nya berada disekitarnya,


tanya nya pada Sizen soal dirinya,


ucap Frand Huyan,


"Apa sikapnya selalu seperti itu? tidakkah dia harus lebih waspada terhadap seseorang yang saat ini berada di sekitarnya,


akupun ikutan gabung bareng pembicaraan ini,


" Kalau Lukas, mustahil bisa seperti itu! "


mata Sizen pun terbelalak hingga,


"Memang nya menurut mu, dia bahkan bisa lebih walaupun ada atau tidak adanya keberadaan kami, disini, Clarisha! "


akupun spontan menganggukkan kepala ku,


Lukas pun menimpali pembicaraan dengan sigapnya,


"Ya, sebenarnya apa yang menjadikan rapat kali ini menjadi ritual keluarga? atau kalian sengaja memngatai ku tepat didepan ku!"


Clarisha langsung nge gas pada Paman Lukas,


"Memang kau pikir membicarakan orang dibelakang itu lebih menarik, bagiku tidak ada yang lebih menyenangkan jika semua itu dilakukan pada sela waktu orang itu berada tepat di tempatnya! "


akhirnya sebuah obrolan yang berakibat fatal terjadi,


Lukas,


"Jadi begitukah menurut pendapat mu, aku baru menyadari bahwa keponakan ku bisa lebih jenius dari ku! "


Clarisha,


"Ya, kenapa? apa hanya seorang yang dikatakan Paman harus semuanya jenius dalam bidangnya bahkan menjadi ahlinya? gak toh,"


Lukas,


"itu memang harus, dan kau keponakan hanya bisa menerima nya saja, "


Clarisha,


"Itu tidak adil, dan aku tidak trima, jika kau mengatakan bahwa kau lebih dari ku! "


Lukas,


"Memang kau pikir kau mampu! "


Clarisha,


"Ya, kau meremehkan ku Lukas! "


Lukas,


"Sekali lagi kau panggil namaku tanpa awalan, (maksudnya Paman) maka aku benar-benar akan menyambar mu tanpa sisa! "


Clarisha,


"Kau pikir aku takut!aku tidak pernah takut yang namanya kau, LUKAS!"


tidak menduga tanpa pikir panjang Lukas berlari dan menuju ranjang yang ditempati Clarisha, lebih mengejutkan lagi, kini dia berada tepat diatas Gadis bermata hazel biru tersebut, sehingga gerakan tadi membikin geram sekaligus luapan aneh pada hati semua Paman nya, dia orang pertama yang mengawali langkah tanpa memikirkan orang lain yang saat ini berada di dekat nya,

__ADS_1


Ujarnya,


"Apa sekarang kau baru takut? "


Clarisha Lagi-lagi membuat saraf Lukas terbawa suasana dan hanyut sesaat, sehingga,


"aku tidak takut padamu, LUKAS! "


bibir itu mulai menciumnya, jemari tangannya menekan tengkuk leher Clarisha,kemudian satunya lagi membopong punggung nya hingga berposisi duduk, gadis itu hanya diam melihat wajah Mempesona Lukas, namun Frand dan Sizen yang mencoba menghentikan nya dihalau oleh Darka dan Deray, Shinje hanya melongo menatap kejadian langka bukan main itu,


(ibarat seperti sebuah tontonan)


disini Clarisha sendiri diam tanpa meronta-ronta, seolah sama sekali tak menolak perbuatan Lukas,


setelah ciuman yang tak kunjung hentinya itu sedikit lengah, akhirnya aku membalikkan keadaan dengan membanting tubuh Paman Lukas yang saat ini terbalik berada dibawahku,


ini akan sangat menyenangkan,


(ya apa yang akan kau lakukan pada Paman mu? )


bukankah ini urusan ku, diam kau, ribet amet


semua mata itu terbelalak kalau seorang gadis yang dianggap lemah malah bisa membalikkan keadaan dengan mudahnya,


Shinje pun sampai takjub disana,


"Wow, ini sangat mengesankan, keponakan yang handal! "


kata Lukas yang dibuat kaget seketika waktu itu,


"Jadi pingsan selama tiga jam bisa membuat mu menjadi wonder woman! "


"Menghina lagi, "


"Tidak, Bahkan Hulk saja kalah, bukannya saat ini kau sudah mengalahkan nya, hingga berada dibawahmu, emm! "


"itu tidak lucu, jangan bercanda! "


"Mau melanjutkan, yang lebih serius! "


"Lalu, mereka! "


"Anggap tidak ada, bukankah itu lebih baik! "


"BUKK, "


sebuah pukulan bantal di lancarkan tepat didepan wajahnya,


"Kau itu yang seharusnya dilupakan, caramu yang tak menghargai seseorang membuat ku muak, kau tau!lebih mendominasi, memiliki hal yang tangguh, tapi hatimu tak cukup kokoh sampai bisa menahannya, hingga kau menerjang langsung tanpa himbauan, bagiku, itu tidak lah menarik, sudah cukup aku bersikap kekanak-kanakan disini, kenapa Hidup Clarisha begitu membuat ku melupakan segalanya sampai mengubah segalanya yang tertanam dalam aturan ku? "


gumamku yang berjalan melangkah melihat kearah jendela,


sahut Sizen,


"Maksud mu Apa Clarisha? "


ujarnya bak sebagai permohonan kepada semua Paman,


"Tolong keluar dari sini, biarkan aku sendiri, aku hanya ingin menyelesaikan masalah ku, jadi pergilah dari kamar ku sekarang juga,teruntuk Semua Paman!tolong hargai aku disini sebagai keponakan kalian, Terima kasih, "


memalingkan wajah dari mereka, sikap Clarisha semakin kacau dari pandangan Pamannya, tadinya dirinya bersikap begitu menyenangkan sekarang seolah mencoba menutup diri sendiri, keluar lah mereka dari kamarnya, respon semuanya terkejut, namun bagaimana lagi, tak ada yang bisa mereka lakukan, sekarang hanya bisa menuruti semua permintaannya,


"Daddy, padahal rasa kerinduan ku padamu baru saja terobati, tapi nyatanya, kehendak berkata lain padaku, "


(Bukannya lo seneng,ini maunya lo kan, sekarang ketika semua keinginan lo terkabul, pengennya balik lagi, tu hati bolak-balik kenapa sih?)


"Ya, kan wajar, aku hanya rindu dari jarak yang sekarang mustahil untuk ku gapai, Daddy Henson, bahkan mungkin saat ini mereka pasti bersedih karena kecerobohan ku, "


namun, kenapa pada akhirnya masuk kembali ke tubuh ini, dan apa semua kejadian itu hanya mimpi, atau bagaimana,


(Kau akan gila jika kau sendiri tidak tau,bahkan aku juga yo gak tahu apa yang sebenarnya terjadi, la aku ae yo ra paham kok, tenan to yo, wes, pokok e kamu matot wae, beres to)


tumben kau bener, gak nyusahin pula,


(soalnya aku kasian sama kamu, memainkan peran ganda sekaligus, bukannya itu seru ya? )


seru dari mananya, yang ada ngerepotin ma iya,


ya wajar itu tanggapan lo, kan gak ngerasa berada diposisi ku, la aku ne i, bingung tenan, bahasa bik Amesa kembali menerjang, setidaknya nyaman untuk dipakai dalam berbicara sendiri, menyenangkan, juga rindu sama adanya sosok bik Amesa,yang logatnya bikin ngangenin, semua ini hanya membuatku teringat pada Grandpa Janson dan Grandma merinda, maaf hanya bisa membuat kalian khawatir,


"Apa kau mengakhiri segalanya saat kesadaran ku sepenuhnya menghilang, Direndra? cinta yang hanya bisa ku berikan padamu, kini harus berhenti karena kegaduhan Fenesha, dan bahkan kali ini aku juga hampir berada dijalan yang salah saat berada ditubuh ini, kenapa semua harus terjadi padaku? "


menyandarkan kepala ku pada jendela kamar,


(Gak perlu mengeluh, sudah ada yang enak tu, semua yang bening-bening lagi nunggu tuh, para CEO sekaligus Mafia juga ikutan ngejagain lo kan, napa ribet amet sih jalan pikir lo, nyantai aja, jalanin yang ada, entar juga hati nimbrun sendiri dimana, percaya deh sama yang namanya kata hati,)


Benar juga sih. Tapi-?


(jangan kebanyakan mikir)


ya, ngerti, tapi diantara semua pria itu yang paling menarik seperti nya Paman Huyan,


(Tu kan, bener gue)


entahlah, kita liat nanti saja, mau mikirin semua pikiran juga gak mungkin kelar, ya udah waktunya nyamperin mereka,


(ehem, nyamperin siapa dulu, hehehe).

__ADS_1


__ADS_2