Terkunci Dalam Dunia My Uncle

Terkunci Dalam Dunia My Uncle
Perdebatan Uncle


__ADS_3

Inilah hal yang indah, bahkan dibalik rasa istimewa perpaduan selalu membikin seseorang merasakan keinginan yang lebih untuk sebuah kelembutan nya,


bisik Frand ditelinga Finesha yang terlihat memerah,


("Emang bisa berubah, Wah...bunglon kalau begitu,")


"Yah, jangan asal main potong pembicaraan orang napa? gi serius juga,"


("napa lo nya dateng, udah kelar apa?")


"apanya?"


("itu tu?")


"Oh, tenang, udah beres malah,"


("Hahh, kau benar-benar keterlaluan,")


"oke, sekarang waktu nya kembali serius,"


suara berat bergetar ditelinga gadis yang kini merona kala Sang Mafia memeluk erat dirinya, sambil mendekat ia berkata,


"Tak ada yang lebih berarti dihidup ku selain kau, Finesha,"


("Realy! ")


"tanya saja!"


("Ya, gue cuma reflek, makanya menyahutimu,")


"it's okay, aku mengerti,"


memandang raut wajah Huyan yang nampak serius seolah baru pertama kalinya dia melihat raut ini dengan penuh senyum hangat,


tegasnya,


"Ku harap kepercayaan ini akan selalu kau pegang, Finesha! "


jawab ku,


"Jangan merisaukan hal itu, aku akan selalu percaya padamu, Frand, "


tuntut nya,


"Lain kali aku tidak ingin melihat kekasih ku hampir diambil alih oleh orang lain lagi, itu sangat menjengkelkan, "


senyum Finesha melihat ekspresi sang kekasih yang amat menggemaskan membuat nya tak bisa menahan tawa dengan begitu lepas kala itu,


karena penasaran maka Huyan pun kembali melontarkan kalimat tanya padanya,


"Fi, tumben sebahagia ini, adakah dari kejadian tadi yang begitu nyaman sampai senyum pulas itu nampak jelas, dan dari semua kesempatan waktu adakah dalam kebersamaan kita yang menyentuh hatimu,Fi,? "


entah kenapa suasana nya tiba-tiba berubah mendung,


kedua telapak tangan Fi diletakkan tepat pada kedua sisi pipinya,sambil menatap lekat dengan keseriusan ia menyentuh lembut dipenghujung salah satu jemari nya menyeka perlahan bibir Frand,


katanya,


"Taukah kau, bagiku dunia ini sudah lengkap hanya dengan berada disisi mu, semakin aku terperangkap masuk dalam wilayah mu, maka semakin jauh rasa nyaman akan slalu menanamkan rasa bahagia di hidup ku, apalagi sebuah senyuman yang selalu mengarah padaku, bahkan kaulah yang mampu membuat ku menjadi seperti ini, Frand, "


senyum Duchenne nampak terlihat dibibir menarik sang kekasih,


sahutnya,


"Begitu kah, namun ucapannya tadi benar-benar membuat ku tertegun sejenak, mungkin beberapa hari ini bisa tenang, tapi lain waktu aku bahkan tidak tau apa yang hendak dilakukan nya diantara kita, Finesha, "


membenturkan pelan dengan menyatukan kedua dahi sambil memejamkan mata, Finesha berbicara pelan, namun terasa hangat bagi Frand Huyan,


"Ribuan terjal yang akan mendatangi kita, maka akan datang dimana dalam setiap masalah pasti ada jalan keluar nya, percayalah padaku, Frand, "


kemantapan pemikiran Fi sekaligus sikap berbeda nya membikin Frand semakin tak sanggup bisa lepas darinya,


selesai itu aku pun kembali dimana harus berada ditempat membuat punggung lelah ku berbaring empuk dan nyaman dengan beristirahat,


Dalam perjalanan kembali baru beberapa menit mobil yang aku tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak ditengah jalan, tanpa disadari aku dalam posisi terkepung, anggap seperti terperangkap masuk dalam sebuah jebakan,


"Apa maksud nya semua ini? "


merogoh ponsel melihat layar membuka kode sandi ternyata, seseorang langsung merampanya dari ku,


tegur ku,


"Kembalikan ponsel ku! "


membuat ku keluar dari mobil namun pandangan ini terhenti kala sopir yang mengemudi kan laju kendaraan ini sudah terbaring tergeletak tak bernafas,


("bagaimana kau tau dia sudah tak bernafas, bukannya kau belum mengeceknya?")


"kau liat aja, ekspresi juga raut wajahnya memucat biru seperti itu, pasti mereka telah melakukan sesuatu disaat aku lengah ingin mengambil ponsel milikku tadi,"


("hah, sekarang bagaimana kau akan mengatasi hal ini?")


"ikuti alurnya saja, melawan dengan jumlah sebanyak ini, aku masih normal sampai akan melakukan hal yang tidak perlu, kenapa aku harus buang otot, sedang kedua mata ini tau sangat jelas siapa orang yang bertindak dibalik pengepungan ku ini,"


("Siapa Fi?")


"entar juga kau akan tau,"


("kau itu emang ahlinya bikin orang penasaran,")


"siapa dulu, hehe, "


("lo inget gak saat ini kondisi mu gak bisa dikatakan baik,")


"aku tau,"


("lalu bagaimana kau bisa setenang ini sih?")


"entah, terkadang diwaktu yang terhimpit seperti ini dibutuhkan cara berpikir yang profesional,"


("maksud mu, dengan diam tanpa tindakan!")


"hahh, udah la kita lihat saja sebentar lagi,"


Lalu terpaksa Finesha mengikuti keinginan mereka, akhirnya ia harus duduk didampingi beberapa pengawal yang seperti nya agak familiar baginya,disisi itu tiba-tiba saja benda pipih itu berdering dalam sekejap detik pengawal itu mengambil paksa ponsel Finesha dan menonaktifkan nya,


batinya,


"lihatlah kelakuan mereka persis seperti kemauannya, sekali ada penghalang sikat aja,"


("gue kasih odolnya, hehehe")


"gosok gigi dong, lanjut,"


("lo itu kalau ngerespon orang yang normal bisa kan!")


"la ini juga udah batas normal,"


("gak, lo gak ada benernya sama sekali, lagian kenapa gak ada kekhawatiran yang terpasang di wajah mu Fi?")


"haruskah aku lakukan itu!"


("hahh, terserah lo deh, Capek aku cuma takut tentang nasib lo?")


"gak usah ambil repot dengan berpikir tentang aku, santai aja,"


("lo tu emang anak yang aneh, kenapa Huyan bisa begitu demen sama lo, begitu juga para paman lo itu!")


"tanya aja sama mereka, aku juga gak tau padahal kekurangan ku juga begitu banyak, tapi dalam cinta tak ada kekurangan maka tak akan lengkap, bener gak?"


("gak, cara pikir lo aja yang sama aneh nya kayak paman lo Helizen")


"lo yang ngomong napa jadi rindu tingkah kocaknya yah,"


("awas tu hati berbalik miring 50 persen,")


"gak gue masih waras,"


("hehehhe,")

__ADS_1


Perjalanan pun terhenti disebuah Vila yang megah disini,


ucapku,


"terserah dimanapun tempatnya aku tidak peduli, tapi sekarang yang membikin geram kenapa harus sampai mengepung ku hingga terjebak tersudut di tengah jalan seperti itu? apa sebenarnya niatnya? hanya demi membawa ku! yang benar saja, "


lalu tibalah langkah kaki kami memasuki Vila tersebut dan kedua tatapan ku tidak begitu heran dengan sosok pria yang menarik perhatian ribuan gadis diluaran sana, oleh kekayaannya bahkan wajah sekaligus penampilan nya ini, justru membuatku muak,


desahku,


"Kau itu kurang kerjaan apa?mengerjaiku seperti ini? "


masih menatap lekat kearahku,


tanpa disuruh akupun duduk bersandar disofa empuk yang nampak kosong tanpa orang disana, wajar, kini diruangan ini hanya tinggal kami bertiga, aku, orang kurang kerjaan dan satunya, Tuan Bosa Clan.


ungkap Fi


"Terkadang tingkah kalian berdua benar-benar menyusahkan, bukan begitu Helizen! "


("Wah, jadi ini ulah paman biang masalah lo Fi?")


"kan sudah ku bilang orang terdekat ku yang paling gak ada kerjaan ya si Helizen itu, emang mau siapa lagi coba? tapi seandainya Frand Huyan mengetahui jika mereka bersekongkol, maka?"


("Semuanya bisa menjadi runyam,")


"betul itu,"


sahutnya,


"Apa sayang ku begitu merindukan sapaan terhangat ku!"


("Apa yang dia maksud Fi?")


"sebenarnya dia ingin mengatakan kalau dia merindukan ciuman dengan ku, namun karena ada pesaing berat disisi Nya lain lagi critanya,mau tidak mau dia meng ibaratkan seolah itu hanya sebatas sapaan terhangat,"


("Oh begitu, licik juga rubah hitam itu,")


"heheh rubah hitam, julukan yang cocok, juga menarik,"


"Apa kalian saling kenal? "


sela Lee Zhenka,


tepis Helizen,


"Coba tebak menurut mu, bagaimana dari yang terlihat?"


jawaban yang jelas dan jujur,


"Kalian memiliki sesuatu yang berkaitan, "


tanya Helizen pada Fi,


"Finesha, adakah yang ingin kau katakan mengenai tanggapan Tuan Bosa Clan? "


"Hahh, rasanya kau itu datang dalam kehidupan ini hanya untuk mempersulit hidupku, Helizen! "


"Wah keponakan ku ternyata sangat pandai dalam urusan menebak, "


Lee Zhenka terkejut


"Apa, Keponakan? "


seringai Helizen,


"Ya, bahkan kami tinggal satu atap yang sama, bukan begitu Fi! "


tanpa menjawabnya ia malah bertanya pada Lee Zhenka,


"Lee Zhenka, apa kau kurang kerjaan sampai berurusan dengan nya? "


balasnya,


"Kenapa? apa kau begitu khawatir mengenai sesuatu? "


Fi,


senyum Lee Zhenka pada Fi,


"Kau tau, sejak dari awal kita berdua memang sudah bekerja sama mengenai hal apapun Fisha, tapi kau harus tau mulai hari ini kau akan berada dalam pengawasan ku, bukan begitu Helizen? "


"Ya tepat sekali! "


Fi,


"Wah senangnya bisa bermain dengan paman sekaligus Tuan Bosa Clan di tempat ini, tapi kenapa begitu sepi? "


kesal Helizen,


"Haruskah ku bawa semua orang kemari? "


Fi,


"Harusnya sih begitu, kan mending dibandingkan sekarang gak menarik sama sekali, "


tidak ku duga Lee Zhenka datang mendekat dan membuat ku terpaku saat kedua wajah kami berdekatan tanpa jarak penghalang ia langsung menyerobot dahiku dengan sebuah kiss simpelnya itu,


"Lebih menarik saat kau benar-benar terbelalak seperti ini, Fisha! "


"hahhh menjengkelkan,sekarang gimana caranya aku bisa kabur?"


("kau gila!")


"apa kau bilang?"


("bener kan, sekarang saat dikandang mangsa baru cari cara untuk kabur, emang tadi tu pikiran ngilang kemana?")


"lo tu gak peka banget, kalau sepi kek gini kan mudah untuk kabur, cuma butuh strategi khusus demi mengelabui mereka berdua,"


("bukannya sulit,banyak CCTV-nya lo Fi,")


"Emang gue peduli CCTV-nya, to dia diem aja gak bakal nyegah Q, tapi sebelum itu harus cari cara ngasih ramuan khusus dulu buat para penjaga CCTV-nya, baru niat melarikan diri dimulai begitu, tapi?"


("sekarang apa lagi yang kurang?")


"jika keduanya masih dalam satu Vila seperti nya mustahil bagiku keluar,"


("jadi sekarang menunggu, begitu!")


"yak iyalah masak langsung nerobos lampu merah, gak jelas banget, tunggu lampu hijau baru jalan,"


("kalau itu ma gue juga paham, dasar lo Fi,")


"hehehehe, "


Selesai dia melakukan keinginan nya, Lee Zhenka kembali keluar pintu dan meninggalkan kita berdua,


"Ceklak,"


.


.


.


"Brakkk, "


"Lo tu taruh mana sih paman tu pikiran, nyusahin aku mulu, perasaan selama kehidupan ku sama sekali gak nganggu kamu paman Helizen, "


tersenyum sembari duduk bersandar dikursi ruang pribadinya,


"Kau tau Fi, gak ada didunia ini yang segalanya berjalan dengan lancar, "


menghela nafas,


"Gak usah ngajarin yang udah gue tau, sekarang maksud mu apa sampai bekerja sama dengan nya? "


kata serius Helizen,

__ADS_1


"Kau bahkan terlihat memiliki hubungan serius dengan nya, atau kalian sudah terlebih dahulu menjalin sebelum Frand Huyan? "


Fi,


"Jangan membikin keadaan seolah aku disisi orang yang paling bersalah disini, apa mau mu sebenarnya, paman Helizen? "


Helizen,


"Kau, "


gerutu Fi,


"Tolong jangan bercanda Paman! "


"Tidak, "


"Apa kau ingin membuat ku semakin gila? "


"Tidak, "


"Lalu, jika kau menyukai ku kenapa kau mala bersekongkol pada orang yang_"


"Menyukaimu, itu maksud mu, "


"Ya, bagaimana bisa? "


"Didunia ini tidak ada yang tidak bisa dilakukan Fi, "


"Lagi-lagi ucapannya terasa mengerikan, darimana dia belajar bermain muka didepan ku, "


"Darimu, "


"Kau gila! "


"Ya karena dirimu, "


"Apa? "


"Aku bukan biang masalah,"


"Kaulah pembuat semua pria menjadi bermasalah, "


"apa salah jika cantik? "


"Tidak, "


"Lalu kenapa paman menyalahkan ku? "


"karena kau membuat kami semua jatuh hati pada mu, "


"Aku sama sekali gak ada niatan seperti itu, "


"Ceklak "


suara pintu kembali terbuka, disitulah dia menyela pembicaraan kita,


"Kau memang sempurna untuk menjadi bahan rebutan, Fisha, tanpa sadar karakteristik mu membuat seseorang dengan mudah tertarik padamu, "


"Katakan saja seperti mu, tapi aku tidak suka disamain dengan bahan, emang kau pikir aku ini apa? "


ujar Helizen,


"Pelengkap rasa yang menyempurnakan hidangan"


"Mau gue cekik, "


"Gak takut, "


Lee Zhenka terkejut,


"Apa? jadi kau juga bisa mencekik? "


jawab Helizen,


"Dia wanita yang brutal kalau sedang emosi, "


"Benarkah, "


"Ya, Finesha adalah sesosok wanita yang mampu merangkus semua pria dalam satu kamar, "


"Apa? "


Lee Zhenka kaget mendengar nya,


Fi,


"haruskah gue kasih lo obat agar bisa membuat mu tergeletak tak sadarkan diri, "


"Benarkah itu Fisha? "


kata Lee Zhenka yang masih tetap tidak percaya,


"jika lo terhasut sama biang masalah lalu apa bedanya lo sama dia coba, oh ya gue lupa mereka sedikit ada kemiripan dalam versi perasaan, yahh jadi wajar sih, kenapa juga aku meski kaget?"


berlari menuju kearahku dan membuat Fisha terpaksa mengikuti kemauannya, seketika kedua mataku tertuju pada tindakan yang memaksaku untuk menjawab setiap perkataan nya,


"Jangan coba main kasar dengan ku, lo pikir cuma cowok yang bisa! "


"Emang apa yang lo bisa, Fisha,! "


"Belum aku bertindak lo pasti yang akan kalah, sebab kelemahan seseorang adalah orang yang spesial baginya, "


"Maksud mu! "


Fi,


"Coba tebak! "


Helizen sejak dari tadi yang terdiam saat Lee Zhenka datang dan berbicara serius pada Finesha hanya terdiam,


"Jangan mencoba bertindak berlebihan,"


"Kenapa, kau takut, Lee Zhenka? "


sahut Helizen,


"Jangan pernah membuat nya bertindak terlalu jauh, Zhenka! "


"Maksud mu, "


"Karena hanya Huyan lah orang yang begitu berarti dalam kehidupan nya, "


ucap Lee Zhenka,


"Bukan kah aku memiliki apa yang segalanya ia genggam, Fisha? "


Fi,


"Bahkan kalian berdua bertindak gila dengan menyamakan seseorang pada diri kalian, gak habis pikir aku, dan berharap lebih juga percuma, sebab kalian juga sama, "


Lee Zhenka,


"kau tidak mengizinkan seseorang untuk menyamankan, sedangkan kau, "


"menyamakan kalian, begitu, "


"Ya, "


"Sebab sejak awal niat kalian tu sama, "


ancam Lee Zhenka,


"Bagaimana jika aku yang akan membuat Huyan sendiri untuk memberikan nya padaku? "


jawab penuh penekanan ku,


"Itu tidak akan pernah terjadi, Tuan Bosa clan! ".


"Apa yang akan terjadi selanjutnya???."

__ADS_1


__ADS_2