Terkunci Dalam Dunia My Uncle

Terkunci Dalam Dunia My Uncle
Mereka kenapa?


__ADS_3

Ciuman yang menggoyahkan,


"Bagaimana? apa kau menyukainya, Finesha? "


menatap teduh wajah yang saat ini begitu dekat dengan ku, lalu aku pun berkata lirih,


"Kau benar-benar berhasil menghancurkan sepre ranjang milikku, "


memukul tubuh nya berkali-kali sambil marah,


"Keluar atau aku semakin bertambah kesal kalau melihat wajahmu! meminta bantuan malah kau sejahil ini padaku, Huyan,"


menarik pergelangan tangannya dan membawanya keluar dari kamar ku,


" Pergi, ini sudah mulai malam, aku capek, mau istirahat dan tidur tanpa gangguan, "


"Brakk, "


menutup pintu sambil menguncinya dari dalam,


(kau menguncinya? )


ya, gimana kalau sewaktu-waktu dia datang dan menyusahkan tidur pulasku, aku tidak ingin itu terjadi, merepotkan saja,


(Ya bukanya wajar, sekarang di tempat ini, mau siapa lagi yang akan di ganggu, jika bukan kau?)


terserah, gue mau tidur dulu,


********


Shintya,


"Aku, lupa mengatakan sesuatu kepada kalian berdua, karena mulai saat ini kalian juga akan ikut bersama kami tinggal di kediaman lama, dan Mommy minta maaf atas sikap Mom sebelum nya pada kalian berdua, bisakah Dirgha dan Defhan memaafkan nya? "


Deriyan,


"Begitu juga dengan Daddy, jika bukan terpaksa melakukan nya untuk sebuah kejutan paman kalian, Daddy juga gak akan ngelakuin hal seperti ini, Daddy minta maaf okey! "


Dirgha dan Defhan yang saat itu bercakap dengan orang tua mereka,didalam mobil juga saling bersahut demi menjawab permintaan maaf dari keduanya,


Dirgha,


"Iya Mom, aku mengerti kok, "


begitu pula dengan Defhan,


"Ya Daddy, tapi setidaknya lain kali kasih kepercayaan kepada kami, untuk berperan juga, jika seperti ini kejadiannya sedikit saja paman terlambat, aku bahkan sudah tak bisa terselamatkan lagi, "


keadaan ini membikin penyesalan yang luar biasa bagi Shintya dan Deriyan,


pikir Dirgha dengan heran,


"Tapi bukannya itu akan sangat menyusahkan kak Finesha, jika di tempat sebesar kediaman yang sudah dipilih, hanya tinggal dia seorang wanita disana, sedangkan yang lain mereka-"


sahut Defhan,


"semua Seorang pria single namun tampan dan mempesona, apalagi yang namanya CEO memiliki kesan tersendiri untuk dipandang para wanita, "


kata Shintya yang mencoba menjelaskan,


"Walaupun begitu, itu tak mempengaruhi hati Finesha kan, "


ujar Deriyan,


"Buktinya dia lebih memilih Frand Huyan dibandingkan dengan semua CEO yang memikat itu, "


sedikit resah, hal ini membikin Deriyan bertanya kepada Shintya,


"Lalu kenapa dengan wajah mu saat ini Shintya? kau seolah merasakan kecemasan tersendiri saat ini? "


jawab Shintya,


"Kau lihat Helizen tadi? "


"Ya, kenapa dengan dia? "


"Entah kenapa aku mempunyai firasat yang buruk dengan logatnya waktu tadi kita berkumpul, apa kau tidak merasakan nya, Deriyan? "


"Wajar jika kau merasakan nya, sebab semua wanita menggunakan hati sebagai perasa yang kuat sedangkan kaum pria selalu berpikir dari segi segalanya, hati wanita lah yang lebih peka dengan semua hal tersebut, "


"Ku harap, Finesha baik-baik saja disana Deriyan "


pikir Dirgha,


"Mustahil Mom, "


Defhan,


"Petaka terbesar sedang menunggu dirinya, "


Dirgha tersenyum sambil memandang kearah luar,


"Semuanya biar waktu yang akan menentukan hati nya, apakah tetap pada Paman Huyan? ataukah akan terbagi dengan seseorang, bukan begitu, Daddy? "


"Ya, Dirgha,kita hanya bisa menunggu kabar selanjutnya saja. "


senyum lebar Defhan menimpali sang Daddy,


"Tidak sabar menunggu hasil akhirnya, "


********


Tepat pukul 23.00,


Dikamar Finesha,


hal tak terduga datang silih berganti,


Mata yang tertutup erat, bayangan mimpi indah tergambar jelas, namun terasa berbeda dari sisi bagian tubuh nya yang lain,


pikir nya yang berbicara sendiri,


"Kenapa terasa menggeliat disekitar leher ku? ada apa disana? "


mencoba menggerakkan jemarinya yang terasa berat, dengan mata yang masih terpejam, dia perlahan bergerak, sesuatu disentuh nya, lembut, tapi apa? merasakan setiap keanehan itu semakin menjalar kesetiap sisi hingga sampai ke telinganya, ia pun mencoba membuka kelopak mata berat itu dan melihat dengan jelas apa yang kini sedang mengganggu tidur nyenyak nya itu, ternyata,


saat Finesha mau bicara, telapak tangan besar itu membungkam mulutnya, tubuhnya nyaris tak bisa digerakkan, lalu dia beralih pindah kebawah dagu nya sembari berkata,


"Bukankah ini menarik, Finesha! "


mendengar kalimat itu langsung dia bisa menerka siapa dibalik penyerangan brutal tanpa tau etika,


(Dimana-mana yang namanya pencuri, ya masak tau etika, mbak mas permisi saya mau mencuri, bilang kek gitu, gila kali,)


ya gak gitu juga lah ini dia mencuri-


(jam tidur lo,)


la itu kau tau, bahkan lebih parahnya-


(Dia nyerang habis-habisan leher lo)


ya, dan lo enteng banget ngomong nya,


(ya terus, pikir gimana?bisa aku ngebantu kamu, ya gak bisa to, la wong dia nya demen kek gitu, sampai memaksa dengan tenaga tubuhnya untuk buat lo terjerat tak berdaya lemas, la aku mesti harus gimana?)


gak tau bantu pikir buat dia lepas dariku, ini nyebelin,


Lalu tiba-tiba saja dia terinspirasi oleh tindakan nya waktu itu, balasan mendadak,


"Aahh, "


jerit pria itu saat Finesha menggigit nya hingga berdarah, inilah waktu tepat untuk menjauh darinya namun alhasil dia langsung memeluk tubuh Finesha dari belakang dan bergumam ditelinga nya,


"Aroma yang manis, Finesha, "


mendengar suaranya akhirnya ia bisa menebak kalau orang gila pencuri malam tidur nya adalah,


"Helizen, kau kah itu? "


"emm, kenapa? mau melanjutkannya lagi, kau membuat ku haus aroma mu ditengah malam ini, "

__ADS_1


"Kau paman ku dan dari mana otak itu berfungsi sampai membikin dirimu gak normal, kek gini?"


"Gak normal, inilah hal yang paling ku tunggu, kau tau itu, "


"Tak ada yang lebih gila selain seorang Paman mengganggu keponakan nya sendiri, "


"itu fantastis, "


"Sepertinya rumah sakit jiwa adalah tempat yang tepat untuk mu, "


"Tidak masalah jika bersama mu, "


"Ogah, "


masih saja menempel gak jelas mengelitiki Finesha, sampai-sampai dia tertawa gak jelas ditengah malam,


"Hentikan, itu geli, "


tangan ku sontak membungkam bibir nya,


"Apa kau merasakan nya? sepertinya seseorang telah masuk kekamar ku lagi, tapi siapa? dan bagaimana kau juga bisa melewati pintu masuk yang kukunci? "


memperlihatkan bahwa dia memegang kunci duplikat pada Finesha,


"Hidup ku akan hancur dalam semalam, "


bisa dilihat Helizen tersenyum saat jemarinya menyentuh bibir nya,


melepas nya,


"kau membuat keadaan ini semakin runyam, dan jangan bilang saat kau membuka pintu itu kau lupa menguncinya, Paman? "


jawab nya tanpa penyesalan,


"Tepat sekali, "


"Bakk, "


Finesha memukul tubuhnya,


"Sampai kapan kau akan mengganggu hidup ku hingga sekacau ini, Helizen! "


jawab nya sambil,


"Emmuachh, "


mencium ku tiba-tiba,


"Sampai kau menjadi miliki ku, "


menggelengkan kepala,


"Sekarang keluar, tunggu-"


menarik pakaian pada sisi bahunya,


"Dia semakin dekat, "


"Ngumpet, oh ya, dikolong disini saja! "


sambil menunjukkan tempat untuk bersembunyi oleh Helizen agar menghindari kesalah pahaman yang akan terjadi nanti,


gerutunya,


"Kau menyuruhku untuk berada dibawah ranjang mu, aku tidak mau! "


lalu dengan paksa dia menyeret tubuh Helizen dan memaksanya masuk kedalam,


"Kau itu, sudah berbuat salah, tidak mau minta maaf, malah cari kesempatan dalam kesempitan, dan sekarang bukan mencari jalan keluar, malah bisa menyusahkan saja, masuk atau aku gak akan pernah menganggap mu, menjadi Paman ku! "


saat mencoba berdiri, aku tersentak kaget melihat sesosok orang berdiri tepat dihadapan ku,


"Apa yang kau lakukan ditengah malam seperti ini? memang ada apa dibawah sana? "


ingin melihat juga namun dihentikan oleh Finesha,


"Bukan apa-apa cuma kalau aku gak salah lihat, itu-"


"Apa? jangan membuat ku penasaran, apalagi tingkah mu saat ini begitu aneh! "


angkat bicara,


"ku pikir aku melihat kecoak, ternyata seperti nya aku cuma terbawa halusinasi dari mimpi buruk ku saja, Huyan, "


gumamnya yang menyusahkan,


"setampan ini disamain sama kecoak, Ogah banget, gak ada mirip-miripnya, dasar keponakan, emang gak tau mana yang lebih menarik, "


(hehehe kasian tu Paman di umpetin dikolong ranjang, disamain sama kecoak pula, hidup, sabar paman,)


salah sendiri udah berbuat hal gila hingga nyusahin kek gini, gak tanggung jawab pula,


"Bukk, "


dia menjatuhkan tubuh Finesha tepat diatas ranjang,


geramnya,


"Pengen gue tabok tu orang, keponakan ku main dilahap aja, dasar bocah, "


menghentikan tindakan nya ketika dia mendengar suara seseorang barusan,


gumamku,


"Paman, lo cari perkara aja, "


tanya Huyan,


"Apa tadi kau juga mendengar suara seseorang, Finesha? "


menggelengkan kepala,


katanya,


"Tunggu disini biar aku yang periksa-"


berpikirlah, jika dia sampai mengetahui Paman ada didalam kamar ku, maka hancur sudah segalanya,


lalu tanpa jalan lain, aku pun menarik pergelangan tangan Huyan dan mencium bibir nya,


sepertinya kali ini aku yang mencari gara-gara maka akan sangat sulit menghentikan keinginan nya, gawat, akhirnya kita berdua merasakan sensasi yang luar biasa ditengah malam ini, dan gue lupa ada Paman, hahh, sekarang mau menghentikan nya, tapi aku juga menginginkan Huyan, jadi biarin dia ngumpet disana dulu, gue juga butuh rasa ice cream blueberry yang bertabur coklat dan kacang didalamnya, ini dingin dan hangat dalam setiap gigitan,


(bukannya dimana-mana yang namanya ice cream itu dingin,)


karena ini beda dari yang lain,


(inget Paman lo,)


biarin aja,


(wah dasar keponakan,)


Setelah cukup lama tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar ku, Huyan pun tertegun dan berceloteh kesal,


"Memang siapa yang berani ngeganggu pacar orang dijamin segini, mau diberi pelajaran apa? "


aku pun menjawab,


"ngumpet, "


kagetnya,


"Apa? aku ini pacar kamu, Finesha? "


gumam ku,


"masih saja akan jadi perkara, sebab kau bukanlah suamiku, inget itu, "


mau tidak mau akhirnya Huyan mencari tempat sembunyi di belakang lemari Finesha,


melangkah menuju pintu kamar ternyata, seseorang dibalik pintu itu adalah Sizen,

__ADS_1


"Kau belum tidur, "


"ya Paman, "


"Bisakah aku bicara masuk sebentar Finesha! "


"Bagaimana kalau besok saja Paman Sizen? "


"Sebentar ini sangat penting! "


"benarkah, "


menahan emosi dibalik lemari,


"Dia ngapain ngajak bicara dijam segini? "


Helizen terbaring memejamkan mata sambil menyiapkan pendengaran dua puluh empat jam untuk mengambil kesempatan kembali,


lalu Sizen pun masuk dan mengatakan sesuatu yang mengagetkan Finesha sekaligus Huyan, bahkan Helizen yang tadinya menutup mata secara spontan membuka mata karena pertanyaan yang dibilang jangal tersebut,


"Kau dan Clarisha, apa sedekat itu? maksud ku, aku benar-benar tak bisa tidur sebab kau dengan nya hampir tak bisa dibedakan, bukan dalam arti karena sekarang berada diruang lingkup ini, tapi kau seperti Clarisha, sikap mu, sifatmu, bahkan semuanya terasa begitu nyata seolah kau dan dia adalah orang yang sama, hanya wajah yang membedakan nya,"


terdiam,


Huyan,


"Sekarang bagaimana mana kau akan menjelaskan segalanya, Finesha? ini akan sangat menyulitkanmu! "


Helizen,


"Maksudnya apa? "


jawab ku mencoba meluruskan segalanya,


"Paman, kau hanya kepikiran Clarisha saja, mana mungkin aku dan dia sama, tentunya beda kan, karena kita kan dekat, pasti ada salah satu sisi yang sama diantara kami, ya walaupun jarang bertemu, tapi dia adalah seseorang yang sangat berharga bagiku, tapi seandainya dia ada dan mengetahui bagaimana kau menyamakannya dengan ku? bukankah dia akan merasa disamakan dengan yang lain, itu hal yang paling tak bisa diterima oleh seseorang, paman Sizen, "


melangkah berjalan tepat dihadapan Finesha, sampai kaki itu mundur kebelakang beberapa pijakan dan,


"Bukk, "


aku terduduk diatas ranjang, diapun duduk dibawah ku sembari meletakkan kepalanya untuk bersandar sejenak,


"Kau membuat ku merindukan nya, Clarisha, "


sesaat ucapan itu meneteskan air mata ku, aku pun membelai rambut nya namun,


"Mungkin aku hanya menginginkan perhatian nya dari dalam dirimu, Finesha! "


mengepalkan tangan,


"Dia harus diberi perhitungan setelah ini, mau mendapatkan perhatian dari pacar ku, kita lihat saja nanti! "


gumam Helizen,


"Aku tidak menyangka kalau keponakan ku memiliki banyak pengemar, pesaing ku ternyata banyak juga, ini akan sangat menarik, "


lalu kemudian datanglah dia masuk dengan berteriak cukup keras,


"Apa yang dilakukannya lagi kali ini? Paman Sizen,cari tempat sembunyi! "


"kenapa harus sembunyi, aku tidak melakukan apapun? "


"tapi paman kemari dijam yang salah, "


"ya itu memang benar, "


melangkah didekat ranjang dan mencoba menyingkap seprei,


batinku,


"Oh my god, Paman Helizen masih disana, "


aku pun langsung berteriak,


"Jangan disana! "


tatapnya sambil bertanya,


"kenapa? "


menelan salivaku,


"Ada kecoak, "


apa dia percaya?


lalu dia mencari tempat yang lain, mendekati lemari,


"Tunggu, sebaiknya tempat sembunyi didalam kamar mandi saja, sepertinya itu adalah yang paling aman, paman Sizen! "


(Sebenarnya bukan paling aman, tapi lebih tepatnya menghindari pria yang lain,hebat bisa menyembunyikan tiga pria dalam satu kamar, menakjubkan,)


diam kau, aku kacau hancur sejadi-jadinya ini, seperti perasaan seoalah aku sedang hendak ketahuan selingkuh saja,


(heheheh itu ada benar nya)


Omelku,


"Kau itu kenapa masuk teriak-teriak gak jelas kek gini? pacar lo ngilang? "


"Aku tidak bercanda, aku butuh bantuan mu! "


"Tidak, keluar sekarang aku mau tidur! "


membalikkan badan mau istirahat ternyata,


dia mendahuluinya berada diatas ranjang itu,


"Lukas, apa yang kau lakukan? aku capek apa kau tau itu?keluar sekarang juga? "


katanya mengancam,


"Baiklah, aku akan tidur disini sambil menunggu dapat bantuan dari mu, "


gumamku sambil mengernyitkan dahi,


"dalam beberapa menit kegilaan luar biasa datang bertubi-tubi,sebenarnya mereka kenapa? menyusahkan saja, baiklah katakan apa itu terlebih dahulu? jika memungkinkan aku akan membantu, jika tidak, ogah banget aku bantu kamu, paman Lukas! "


lalu Lukas pun mengatakan nya,


"Sebenarnya, jadilah pacar pura-pura ku hanya malam ini, Finesha"


"Kau gila, "


"Aku normal, "


"Tapi gak sadar, "


"Aku siuman kok, "


"lalu kenapa harus jadi pacar bohongan, ada masalah apa, Paman Lukas? "


"temanku sebentar lagi akan datang berkunjung, dia kemari untuk memastikan apa aku bersama pacarku, jadi disini kan hanya kau yang perempuan, bisakan bantu dikit aja, Finesha? "


Huyan,


"Gue tonjok baru tau rasa tu Lukas!"


pikir ku,


"jika aku menyetujuinya, itu sama saja aku cari mati dengan Huyan, "


jawab ku padanya,


"Ogah, gue masih pengen hidup! "


(hehehe kasian Lukas)


lalu sampai kapan mereka akan bersembunyi disana?


dan akankah Finesha mempertimbangkan nya?

__ADS_1


__ADS_2