
Setelah kami keluar dari rumah sakit, kakak pertama membawa ku kembali pulang,namun Momen saat dimana seseorang menghentikan laju mobil yang dikendarai oleh Huyan sebab ada suatu kendala, aku tidak tau apa?yang jelas itu adalah urusan keluarga baru ku, namun sepertinya itu sangat penting sehingga Mom Delega, Huyan juga Hezan seolah berdiskusi mengambil keputusan yang terbaik untuk sesuatu, walaupun aku sendiri juga tidak tau apa, nampak dilihat dari raut wajah Huyan ini adalah masalah bisa dibilang cukup serius yang akan menjadi kendala mereka, toh aku hanya asal tebak, gak ngikut gabung, cuma duduk diem dimobil sambil memandang keadaan diluar, ya sebenarnya jarak antara mobil Huyan dengan ke-dua mobil mereka cukup lumayan, dan tak kusangka, tiba-tiba supir pribadi kak Huyan dibuat pingsan oleh seseorang tepat dihadapan ku, dan sewaktu aku mencoba kabur dan berteriak ternyata, obat bius yang sengaja digunakan disapu tangan yang terhirup oleh ku, kini membuat ku tak sadarkan diri,
dibalik kisah hidup Fine selalu tersimpan hal yang menegangkan, mungkin saat tersadar nanti dia akan berpikir ribuan kali, apakah sang Daddy yang melakukan nya? ataukah ini ulah gadis yang sengaja ditampar oleh Huyan, Azuran Yuwi, atau ini kerjaan Mom Shintya? semuanya pasti akan membingungkan Finesha,
Selang beberapa saat akhirnya Huyan pun kembali ke mobil, dan,
"Apa? "
dia terkejut sontak menghentikan langkah Delega beserta Hezan untuk masuk ke mobil,
kata Delega,
"Ada apa Huyan? kau mengejutkan ku! "
ujar Hezan,
"Ya, memang ada masalah apa kak? "
memandang tajam mobil sambil mengumpat,
"Dasar brengsek, siapa pelaku yang merencanakan semuanya dengan sangat sempurna? "
heran karena Huyan begitu marah emosional sesaat,
"Tunggu, jangan bilang kalau mereka sudah-! "
tanya Hezan,
"Kenapa Mom? "
mencoba menjelaskan,
"Mereka telah berhasil membawa Finesha pergi dari kita! "
keterkejutan itu membikin Huyan langsung bertindak dengan semua anggota khusus miliknya,
mengambil benda pipih itu sambil mengemudikan mobilnya, tapi Delega berusaha mencegah nya,
ucap Delega,
"Hentikan amarah mu, kendalikan semua dengan benar, Huyan!"
berteriak cukup keras tapi sama sekali tak membikin goyah keinginan nya untuk menemukan Finesha,
menepikan mobil tepat disisi Delega,
"Kau tau, aku datang karena gadis itu, dan jika sampai terjadi sesuatu padanya! apalagi sampai terlihat sedikit saja goresan pada tubuhnya, aku akan hancur kan mereka sampai lenyap ke akarnya, waktu nya menghadapi orang yang bisa bermain buruk dari belakang, kita lihat siapa otak dibalik penculikan nya?akan ku buat dia merasakan penderitaan lebih besar dalam hidup nya, "
Dengan kencang mobil itu melaju, lalu kemudian merencanakan segalanya disana, menghubungi beberapa anak buahnya untuk mendeteksi lokasi keberadaan Finesha melalui ponsel miliknya, Huyan yang masih terpaku melihat tatapan amarah sang kakak nyaris sekalipun tak pernah terlihat olehnya kini membuatnya tahu kalau Frand Huyan memang sesosok ketua mafia yang menyembunyikan identitas nya, alasannya sebab Nyonya Besar Sherya lah yang mengetahui seluk beluk segalanya dalam kehidupan dirinya,
kata Delega,
"Sepertinya Sherya sudah berhasil menanamkan sifat seorang mafia yang menakutkan pada diri putra ku, bahkan bulu kuduk ku berdiri saat dia seolah akan melakukan segalanya tanpa berpikir jernih, "
sahut Hezan,
"Mom, sebaiknya kita kembali dan mencari tahu tentang kejadian dirumah, apa mereka masih menunggu atau sudah pergi? "
jawab nya,
"Ya, sebaiknya kita juga harus bertindak sekarang! "
dalam perjalanan kembali baru beberapa mil mobil yang dikendarai Hezan tepat dibelakang mobil Delega Rison secara mendadak ditabrak mobil lain dari belakang kemudian disusul mobil lain dari arah berlawanan menghantam cukup cepat seolah rem mobil itu mengalami blong ditempat yang berakhir tragis oleh hidup Frand Hezan, mobil itu meledak sangat keras, melihat kejadian itu Delega Rison langsung menghentikan mobilnya menjerit berteriak-teriak nama putra nya,
"Hezannn... Hezan putraku,tolong selamatkan dia dari ledakan itu kumohon! siapa pun? Hezan,"
dia terduduk ditempat menangis pilu bahkan saat salah seseorang yang dari tadi menghubungi untuk meminta bantuan mencoba menenangkan hati Delega yang tak sanggup menerima kenyataan kalau sang putra yang selama ini berada disisinya telah direnggut secara paksa oleh kekejaman seseorang,
evakuasi ditempat bahkan memakan cukup waktu sampai bisa ditemukan jasad sang putra keduanya yang masuk dalam brangkat dorong dibawah oleh mobil ambulan, dia berdiri sekuat tenaga melangkah dengan terhuyung masuk kedalam sana untuk menemani sang putra tercintanya, menatap lemas saat beberapa perawat dan dokter memeriksa kondisi nya yang membuat Nyonya Delega Rison harus berduka, nama Frand Hezan kini melekat erat dalam sanubari hati sang Mom,tetesan air mata yang tak kunjung berhenti, bahkan kala proses pemakaman dalam peristirahatan nya, Delega Rison mengalami kekalahan terbesarnya,
"Siapa kau? yang sengaja menyingkirkan putra ku yang tak bersalah dari sisi ku, akan ku buat kau juga mengalami hal yang sama? "
terpaku menatap kediaman sang putra yang kini tak lagi bersuara disamping nya, hari ini menjadi hal yang paling menyakitkan untuk Delega, menghilang nya Finesha, disusul Huyan yang tak kunjung kembali tanpa kabar, bahkan mencoba memberitahukan kabar tentang adiknya saja,tak bisa sampai padanya, lalu semua ini,
__ADS_1
Delega merasakan ada kejanggalan dibalik semua kejadian kali ini,
"Tunggu,berarti selama ini seseorang tengah mengawasi pergerakan kami tanpa sepengetahuan ku, sialan, siapa sebenarnya mereka? "
masih berusaha menghubungi Huyan dan ternyata,
"Tott, toottt, "
panggilan terangkat dan akhirnya, Delega menceritakan segalanya kepada Huyan, dia hanya mendengarkan pengaduan Mommy nya dengan kesedihan mendalam, bahkan isak tangis diliputi rasa sakit masih begitu mendalam atas kabar kematian sang adik lalu hilangnya Finesha yang masih belum ditemukan, membuat Huyan semakin murka, tidak tau lagi apa yang akan ia lakukan, namun diselang waktu dia menyematkan untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir sang adik yang menitihkan segenap duka mendalam oleh Huyan, ditemani sang Mom Delega masih tidak Terima dengan kematian tragis sang putra, ia bersumpah, tak akan membiarkan pelaku tertangkap hidup-hidup,
"Bawakan pelakunya padaku, biar tanganku sendiri yang akan mengakhiri hidupnya Huyan, hanya ini permintaan terakhir ku,jika aku masih hidup, namun jika sebaliknya, maka bunuh dia untuk ku, sayang, maaf, Mom hanya terpukul atas hilangnya keberadaan adikmu di sisiku, Huyan, "
jawab Huyan,
"Mom, jangan bicara seolah kau buat ini menjadi sebuah pesan untuk ku, tapi Mom tidak perlu khawatir aku akan bawakan dia kepadamu, lihat saja nanti! sebaiknya aku antar Mom kembali untuk beristirahat sekarang! "
sesampainya di kediaman Delega Rison, Huyan mengantarkan Mommy nya masuk kedalam kamar, dengan wajah yang pucat, dia membaringkan seseorang yang begitu penting baginya,
"Mom, istirahat saja dulu, aku akan keluar sebentar mengurus sesuatu, "
mengenggam erat pergelangan tangan sang putra,
"Tolong jangan tinggalkan Mom, sayang, aku sangat membutuhkan mu disini, hanya sebentar kan, Huyan! "
balas lembut untuk Mom sambil mengecup keningnya,
"Ya Mom, hanya sebentar, setelah itu aku akan kemari lagi! "
tersenyum melihat punggung sang putra yang pergi meninggalkan ruangan itu, tepat didepan pintu Huyan juga membalas senyuman padanya, sebuah panggilan beralih pada kabar keluarga besarnya,
"Tuan saya memberitahukan, kalau Nyonya Shintya dan Tuan Deriyan telah resmi bercerai, "
sebuah helaan nafas panjang Huyan kala itu,
"Lalu, bagaimana dengan Dirgha dan Defhan?"
mencoba menjelaskan segalanya dititik keributan ini,
"Tuan, sebenarnya kali ini semua saudara angkat anda pergi berpencar mencari kepergian kedua keponakan anda, yang melarikan diri dari rumah kedua orang tuanya, seolah ini kesan pemberontakan Dirgha dan Defhan atas keputusan mereka sekaligus akibat dari kebohongan dan janji yang dianggap kedua anak itu sudah tak lagi mementingkan keberadaan mereka sehingga-"
"Mereka menghilang dan belum ditemukan, itu yang ingin kau beritahukan kepada ku! "
sekarang posisi Frand Huyan berada titik dimana dia harus membuat sebuah keputusan penting, berada disisi Mom dengan menunggu hasil pencarian Finesha, atau pergi meninggalkan Mommy nya dengan kondisinya yang masih menyimpan trauma atas kepergian adiknya, demi mencari tau informasi keberadaan kedua keponakannya yang hilang,
"Brengsek, sekarang apa yang harus aku lakukan! "
panggilan itu berakhir, namun tak sampai disana, Huyan lagi-lagi diuji dengan beberapa masalah yang semakin datang disaat yang tidak tepat,
Mobil yang dikendarai Huyan sedang berencana kembali ketika hendak selesai membeli beberapa keperluan sang Mom, waktu diangkat nya benda pipih tersebut, sebuah suara teriakan terdengar begitu kencang, dengan sepoinya angin disana, seolah suara itu begitu gemrisik ditelinga, ketika melihat kejelasan dari panggilan tersebut, Huyan langsung berpikir, kenapa Shinje menghubungi nya?,
******
"Turunlah dari sana, itu cukup akan membuat semuanya semakin kacau, nyawamu akan melayang jika kau sampai menjatuhkan diri dari ketinggian apartemen ini, Defhan, tolong jangan bertindak gegabah, pikir kan baik-baik semuanya! "
katanya,
"Setidaknya aku bisa beristirahat disamping Clarisha, dan itu sangat lah tenang, Paman! "
Paman Deray kembali menyahuti nya,
"Defhan tolong jangan bersikap seperti ini! "
sebelumnya Shinje bersembunyi untuk menghubungi Huyan namun, dia mendapatkan pesan untuk berusaha mengulur waktu dengan Deray, sebab Huyan butuh waktu untuk datang sampai kelokasi, sebelumnya dia berpikir dua kali untuk memutar haluan demi menolong sang keponakan, karena baginya dia paman yang paling tua, jadi dia memiliki tanggung jawab lebih dari sekedar omongan belakang,
sesampainya,
Defhan begitu terkejut dan menangis melihat kedatangan Huyan disana,
Ucapnya,
"Apa kau ingin membuat hati paman mu ini terpukul dua kali? Kau tau Defhan, baru kemarin aku Frand Huyan dikalahkan dengan kehilangan seorang adik kandung nya, ketiadaan nya masih begitu dalam sangat menyakitkan, Frand Hezan, sesosok adik yang begitu baik, tapi nasibnya berakhir tragis ditangan seseorang, dan sebelum aku mencoba menyelesaikan semuanya, kau malah menambahkan daftar kekacauan pada paman mu ini! apa kau begitu bahagia dengan kebodohan mu, Defhan? itu berarti kau sudah membuat Paman mu kecewa atas keputusan konyol mu itu,tidakkah kau berpikir bahwa masih ada kami semua yang menyanyangi mu! "
dia menundukkan wajahnya sembari meminta maaf,
__ADS_1
"Maafkan aku, Paman Huyan!Maaf, "
lalu Defhan pun turun langsung mendekati Huyan sambil memeluk erat diri nya, melihat kejadian kali ini bisa dicegah, membikin mereka ke-tiga pamannya sedikit lega,
tidak berhenti sampai disitu, perkara baru mulai datang, panggilan dari Deral mengagetkan mereka semua, suara teriakan keras dirinya membuat suasana menjadi menegang,
"Jangan main-main dengan pisau itu Dirgha! "
masih tak direspon Dirgha, kembali mengayuhkan tepat pada sisi lehernya,
"Taruh pisau itu sekarang juga Dirgha! jangan mencoba melukai leher mu, Dirgha dengarkan paman mu ini! "
Ucap Deray,
"Kalian Kakak beradik benar-benar berhasil mengacaukan kami, membuat segalanya dalam kondisi genting, lalu mencoba mengakhiri hidup dengan begitu mudah, kalian itu dapat inspirasi dari mana? "
kata Shinje,
"Sebaiknya kita bergegas kesana sekarang! kak Huyan sekali lagi, tolong bantu kami dalam hal ini! tolong selamatkan keponakan ku itu! "
melihat beberapa panggilan tidak terjawab nyata memang gagal sebab Huyan tak memiliki kesempatan bahkan waktu untuk mengangkatnya,
lalu seperdetik itu juga, mereka langsung mendatangi tempat kejadian yang tengah dikabarkan melalui chat singkat dari Deral, menuju sebuah Restoran dengan kurun waktu dua jam,
mereka semua berlari keluar dari mobil masuk kedalam restoran dan ternyata, tepat pada lehernya, pisau itu hendak mengoreskan disana,
ucap Defhan yang kaget,
"Kak Dirgha, apa yang kau lakukan? "
lalu Deral pun berkata,
"Akhirnya kau juga datang, kak Huyan, "
tanpa pikir panjang Huyan langsung main masuk mendekat kearah nya, Deral khawatir namun dia lebih mempercayai tindakan sekaligus sikapnya sebab sejak kecil Nyonya besar membesarkan nya, dengan didikan yang begitu berat, mungkin mencegah hal seperti ini adalah hal yang sepele bagi nya,
Ucapnya,
"Kau benci Shintya dan Deriyan, maka bencilah, aku gak akan mencegahnya, sebaliknya, demi mereka yang seolah tak perduli padamu, maka kau sengaja melakukan hal ini, begitu, kau pikir kami semuanya disini ini kau anggap sebagai apa? bisakah kau menjawab nya! kau masih memiliki kami, tapi kau bertindak bodoh demi kedua orang yang sekarang bersikap konyol kepada mu, lalu apakah kami pernah bersikap sedemikian rupa padamu, Dirgha? "
mendengar Ucapan itu ia sama sekali tak gentar malahan dia membuat satu goresan dibagian leher sehingga mengeluarkan beberapa tetesan darah disisi leher nya,
Defhan pun menjerit,
"Kak.... Hentikan, tolong berhenti! "
namun kali ini panggilan yang berada pada benda pipih itu teramat merisaukan nya, hatinya berdegup tak menentu, hingga ketika diangkat nya panggilan itu, baru dia tersadar,
"Tuan, Nyonya Delega Rison, beliau telah meninggal empat jam yang lalu, saya mencoba menghubungi anda, tapi beberapa panggilan tak satu pun Anda angkat dan baru sekarang saya bisa sampaikan kalau Nyonya meninggal akibat racun yang sengaja diminum, menurut saya Seseorang tengah meracuni keadaannya setelah kepergian anda Tuan Huyan, Tuan apa anda mendengar ku? "
demi menolong kedua keponakannya, dia harus kehilangan Mommy nya dengan kondisi tragis, semuanya kini membuat penekanan tersendiri pada diri Huyan, hancur sudah keluarga nya, bahkan musuh begitu mudah melenyapkan orang yang berada disisinya, seorang Mom menunggu kembali akan dirinya dari urusan diluar baginya hanya memakan waktu sebentar namun, kenyataan nya, ke-dua keponakannya nyaris menyulitkan dirinya sampai dititik ini,
ucapnya dengan kemarahan yang membludak,,
"Lakukan sesuka mu, sekarang aku tak peduli, apa gunanya perduli dengan orang yang tidak pernah menghargai orang disisinya, kau menutup mata pada orang yang salah, membuat semua keadaan ku semakin kacau, apa mau Dirgha putra dari Deriyan Shintya? apa kau tidak memiliki pikiran sebelum bertindak, adik dan kakak sama saja, aaaa..... "
teriak nya mengacaukan segala nya, merusak perabotan disana, menendang setiap sisi meja disana, bergumam tak jelas,
"Aku akan membunuhmu, bedebah... aaa... "
melihat reaksi sang paman menggila, Dirgha mengagalkan rencananya dan mencoba menghentikan tindakan kekacauan yang dilakukan oleh sang paman, memeluk erat punggung nya,
terdiam sesaat sembari berkata,
"Selamat atas kedua keponakan ku, aku salut atas kebodohan kalian, tahukah bahwa ketenangan kalian tak akan membuat nyawa Mommy kandung ku kembali dari kematian hari ini, apa kalian senang? berkat menolong kalian aku harus mengorbankan Mommy ku, seandainya aku disana dia tidak akan tewas karena terkena racun, melainkan aku akan dikabarkan kalau sejak hari dimana nyawa nya selamat, kematian kalian berdua yang akan menghantuiku, apa sekarang kalian puas? "
berteriak dengan keras lantang seolah ingin sekaligus tangan yang mengepal itu memukul kedua keponakannya, namun dia menahan amarahnya,
ucap Huyan,
"Deray, bawa mereka kembali dan kunci mereka berdua sebagai hukuman nya, camkan ucapan ku ini, sekali lagi berulah, aku tak akan tinggal diam lagi, kalian mengerti! "
langsung pergi meninggalkan mereka, disisi lain keberadaan Finesha masih belum ditemukan dimana dia saat ini?
__ADS_1
lalu siapa orang yang dengan sengaja merencanakan semua masalah ini?.