
Dalam perjalanan kembali pulang,Shinje dan Finesha masih saling berceloteh karena keakraban keduanya, disamping itu yang dipikirkan saat ini oleh Finesha,
"apa yang akan dilakukan oleh ketua Bosa Clan itu? mungkinkah mereka akan direpotkan karena aku melarikan diri? terserah yang penting aku selamat, "
.
.
.
.
.
.
Lee Zhenka begitu emosi saat dirinya mengetahui kalau Fisha sudah tak lagi berada ditempat nya, dia bahkan menyalahkan Helizen atas kecerobohan yang mengakibatkan seorang pujaan hatinya menghilang,
**********
Namun setibanya Shinje dikediaman para Uncle, dia sudah di tunggu oleh Frand Huyan,
Batinnya,
"apa dia akan menerkam ku? kenapa wajahnya begitu menyeramkan? "
sahut Finesha,
"dia akan menyantap mu dengan sekali makan! pasti lezat, daging dari seorang Shinje sangatlah langkah, "
gerutunya,
"bagaimana aku memiliki keluarga seperti mu dasar bocah? "
senyum menawan Fi bak malapetaka bagi Shinje, semua paman disana hanya terdiam, bahkan saat ini seluruh keluarga berkumpul untuk menikmati hari libur mereka, tapi, entah kenapa ada yang mengancam di hati Finesha,
gumamnya,
"apa aku sedang mengalami mimpi sambil berjalan? "
"PLAK, "
pukulan keras tangan Shinje membikin Finesha sadar kemabali,
"ya, dasar menyebalkan, apa kau tidak lihat aku saat ini sedang cemas?tapi kenapa kau malah menjahiliku?"
celwtuk Shinje,
"Jangan sok ekting di depanku, gak ngaruh, kau mengerti! "
melihat perdebatan mereka sontak kemarahan Huyan menghilang, ekspresi Finesha yang ceria tanpa beban membuat hati nya tenang, kalau sang penempatan hati ternyata dalam keadaan baik-baik saja,
masih tak mau kalah dengan Shinje,
"siapa juga yang ekting? ini itu seperti sebuah firasat tau! "
Shinje yang tak Terima dengan komplen sang gadis itu,
"Gadis seperti mu bisa memiliki firasat adalah hal yang tak wajar Finesha! "
Finesha tidak Terima,
"lo pikir gue gak waras! "
ujar Shinje,
"itu pun kau tau, Finesha, "
semua yang menyaksikan tertawa lepas menatap keusilan dari kedua pemain dikediaman tersebut, sehingga setelah kejar kejaran terjadi Finesha kelelahan dan bersandar di sebuah kursi sambil menatap ke langit atap kediaman itu,
"Seandainya terjadi sesuatu padaku, apa semua akan baik-baik saja? "
tidak menduga selekat duri begitu tajam membikin semua uncle termenung sesaat, ucapan itu bak tombak yang menghantam mereka, seolah sebuah pertanda akan terjadi pada kehidupan si gadis yang amat berharga bagi mereka,
lanjut ucapnya,
"Aku sangat senang bisa kumpul bersama semua paman sekaligus seseorang yang teramat ku suka disini, tapi....? "
kalimat penjeda itu membuat suasana semakin sunyi dan ketika dia mencoba melanjutkan nya, Tiba-tiba sebuah pesan datang dan akhirnya dia lebih memilih untuk membuka isi chat tersebut sehingga, ia berdiri dan beranjak dari sana,
ucap Huyan,
"Mau kemana Fi, duduk la dulu! "
jawab nya,
"Aku memesan sesuatu, jadi aku akan mengambilnya, ini hanya sebentar kok, lagian disisi semua uncle adalah yang paling membuat ku bahagia, "
nampak raut sumringah wajah gadis itu namun tidak terduga kejadian mengerikan terjadi,tepat saat Finesha telah menerima sebuah paket di depan pintu, terlihat seorang anak kecil yang hendak menyebrang,
namun dititik arah lain terlihat mobil dengan laju kecepatan penuh melesat dengan cepatnya, sehingga batin Finesha melihat hal itu tak mampu untuk berdiam diri tanpa menolong anak tersebut, berlari secepat yang ia bisa ternyata tidak terpikir seseorang yang ditolong nya bukanlah seorang anak kecil, melainkan,
"BRAK, "
tabrakan dari hantaman keras mengenai dirinya, kini Finesha tergeletak bersimpuh darah tepat dibagian kepalanya, sebab tepat kejadian seketika gadis malang itu tak sengaja terkena benturan keras yang nyaris tak pernah dibayangkan,
kedua mata tergerak perlahan, terlihat beberapa dari pamannya tengah memapah dirinya, dengan raut wajah yang sangat khawatir, Finesha mencoba tersenyum sesaat, namun ketika jemari itu mencoba digerakkan nya demi meraih wajah sang paman, Tiba-tiba penglihatan nya menjadi gelap,
__ADS_1
dan akhirnya ia mengalami ketidak sadarannya, mereka begitu panik membawa Finesha ke rumah sakit terdekat ternyata,dalam sekejap Ucapan seorang dokter membikin gemetar tak sanggup berdiri ditempat kala detik ini juga mereka telah kehilangan keberadaan sang keponakan,
kata-kata miris penghancur hati mereka.
.
.
.
***********
"Dok... Dok... Dok..., "
terbangun mendengar suara ketukan pintu, ucap seseorang dari balik pintu tersebut,
suara seorang pria yang menatap begitu lekat,
gumamnya,
"mau lanjut tidur kak? gimana dengan kuliah kakak? emang lagi ngambek ta? tumben bangun kesiangan? "
bersandar dibalik pintu sembari melipat kedua tangannya,
memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, membuat gadis yang baru terbangun dari tidurnya merasa pening,lalu akhirnya ia melangkah pergi ke sower untuk menyejukkan tubuh dipagi hari, semua seolah bagai mimpi, tapi kenapa bagi Finesha dirinya bak terjebak dalam alam berbeda bersama dengan seseorang yang disukai nya,
setelah selesai berganti pakaian ia lebih memilih untuk mengenakan switer tebal karena kedinginan,berjalan menuju ruang makan ia menatap lekat kearah meja makan,
"kenapa ada empat pria seperti Om_om menatapku aneh sih? siapa mereka? "
ucap pria bocah yang membangun kan dirinya tidak lain adalah adik nya, Iden,
"Sampai kapan mau melamun disana? kemari duduk dan sarapan kak sebelum berangkat kuliah? "
sahut satu pria kepada dirinya,
"Kenapa kau meminta kakak mu pergi kuliah Iden?dia kan sedang memasuki hari libur, jadi dia akan berada dirumah kali ini, "
komen pria kedua lagi sambil menatap ke arah Finesha,
"Finesha,makanlah sebelum semua hidangan yang tersaji menjadi dingin? "
jawab Finesha,
"Iya, "
lalu beberapa menit kemudian dia menyadari kalau semua memang mimpi bahkan Huyan yang ia cintai hanya sebatas dunia khayalan Fi di alam tidur,
gerutunya sambil mencuci piring,
"kenapa semua hanya mimpi? dan_"
"Oh my God,bagaimana bisa aku melupakan hal itu! "
melamun sejenak dan tidak terasa jemari seseorang menarik dagu Fi sehingga kini kedua matanya nyaris menatap kearah pria itu,
"Emmuachh, "
kedua mata itu terbelalak melihat sang Om kini mencium bibir mungil imut milik Finesha,
ucap nya kala kecupan itu melandas menyentuh bibir milik nya,
"apa aku sedang bermimpi? "
sahut sang Om gemas melihat keponakan nya ling lung tak berdaya,
"Kenapa? apa itu terlihat tak nyata? "
"iya ini benar-benar seperti mimpi! "
membenarkan diri sambil membelai lembut rambut sang keponakannya tersebut,
"apa kau tau? terbangun dari mimpi kau semakin membikin Om sangat terganggu, Finesha"
mengedipkan mata dan bertanya kembali,
"Kok bisa, kan q gak apa-apa in Om? mala Om yang usil sama aku, kenapa jadi kebalik sih Om? "
sahut pria yang hendak berangkat ke sekolah,
"Kak pamit mau sekolah dulu takut telat? "
"iya dek hati-hati, "
"Hati-hati masuk kedalam hidupku! "
sahut sang Om yang semakin menatap intens Fi,
"Om sebaiknya minggir deh dari sini! "
"kenapa? "
"Om itu berbahaya bagi keponakan nya, jadi usahakan jaga jarak, kalau perlu aku harus pakai masker secara rutin, agar tu bibir gak main nyolot nyamber bibir nya orang, "
"Bukannya Fi menyukai nya? "
"Dari tadi omongan Om gak jelas banget, pergi deh! kalau gak aku aja yang pergi Om gantiin aku cuci piring! "
__ADS_1
mendekat dengan perlahan Om Frant kini berada tepat berada dipunggung belakang Fi,
"ngapain Om kek gini?menjauh deh Om! "
menarik pergelangan tangan Fi sehingga kini tubuhnya berbalik menghadap kearah diri nya,
"dia bener-bener membuat ku jantungan, kenapa gak mimpi gak nyata semua selalu kek gini, "
ujarnya dalam hati,
menyentuh pipi Fi dengan lembut, jemari yang tak kunjung menjelajahi sisi manis leher sang keponakan yang berakhir mematung bak boneka yang terdiam membeku tanpa pembrontakan,
Lagi-lagi dia kembali ******* bibir manis milik keponakannya, Finesha nyaris gak pernah bisa ngebayangin jika ini nyata terjadi, namun tidak disangka ponsel Fi berdering sehingga ia kini membuat Om nya pergi membiarkan sang keponakan agar bisa leluasa berbicara kepada seseorang,
ternyata itu adalah sang ibu yang hendak memberitahu kalau untuk sementara dirinya akan tinggal bersama keempat Om nya yang super menggoda bagi Finesha,
pesan sang ibu,
"ibu akan melakukan pekerjaan diluar kota, jadi sementara untuk beberapa bulan ke depan kamu akan tinggal bersama mereka dengan adik mu, mengerti Finesha! "
"gak, sama sekali gak mengerti, "
ujar sang Ibu,
"memang kenapa? apa ada masalah di kediaman paman mu? "
"ya, "
tanya nya lagi,
"memang apa Fi? "
"ada banyak hantu bu disini, "
dibuat jengkel dengan alasan putri nya,
"jangan bercanda deh Fi, mana ada hantu dirumah Om mu? pinter juga kamu buat alasan Fi, "
gumamnya,
"ya bu, apa lagi yang jadi masalah nya adalah si hantunya itu? "
"kenapa lagi dengan hantu nya sekarang? "
"mereka berkeliaran disekitar Fi bu, ini menyiksa, bagaimana kalau Fi sampai tergoda? "
ujar sang ibu,
"memang mereka tampan apa sampai putri ibu yang manis bisa tergoda? "
"banget deh bu pokoknya, Fi cari apartemen aja deh bu? "
"gak, pokoknya harus tinggal dikediaman Om mu sayang, "
"tuttt.. tuttt.. tuttt.. "
kecemasan Finesha,
"kalau kek gini artinya hidup ku terjebak didunia Uncle dong, na parah banget ini, gimana ngejelasin ke ibu sih, susah banget?aku cuma minta pengertian nya doang, kok ribet banget, dia yang putusin kenapa aku seolah tersiksa membatin gini sih, hahh ibu gak tau sih situasinya, dari mana dia bisa tau? toh aku juga gak berani terus terang pada nya, yah masak harus ngejelasin secara blak-blakan sih, gak deh! "
Fi kebingungan sendiri mondar-mandir meninggalkan dapur dan pergi ke taman, menyandarkan punggung tepat didinding namun tak diduga bukan dinding kokoh yang dia sentuh namun postur tubuh seseorang yang berotot tepat melekat erat dipunggung gadis itu,
gumamnya,
"Siapa lagi sekarang? "
mendongakkan kepalanya keatas ternyata, dia tidak lain adalah paman keduanya, ShinGe,
ucap sang paman,
"Adakah yang ingin kau sampaikan sayang? "
"Apa kau bilang? "
jawab nya,
"mencoba kabur dari kami, itu adalah hal yang sangat mustahil, Fi, bahkan berlari ke ujung dunia pun, semua paman mu akan mencari mu dan memangsa dirimu! "
"lo pikir aku ini apa sampai mau di mangsa_"
"emmuachh, "
sebuah kecupan kembali terjadi,
"apaan sih? kenapa kalian seperti ini kepada ku, Om? "
sahut seseorang dari kedua sisi nya yang kini membuat Finesha tak mampu berkutik, berada di antara ketiga Om nya adalah sebuah malapetaka terbesar dalam kehidupan gadis tersebut, kehidupan baru menanti sang gadis itu semakin dia mencoba berpikir, nyatanya segalanya terasa hilang kendali, padahal dirinya tak melakukan apapun kepada semua pamannya,
"Ibu.... Ayah.... nyawaku sekarang adalah taruhannya! "
merengek bak anak kecil yang terkena masalah,
pikir sang adik saat masuk dalam sekolah nya,
"Apa kakak disana baik-baik saja ya? pasti dia jadi rebutan semua Paman di sana, tapi apa sih yang disukai mereka dari kakak ku yang biasa-biasa itu? jangan-jangan mereka berempat memang sudah tidak waras!yah mana ada keluarga dari ibu yang normal, yah... setidaknya bukan aku yang sengsara menghadapi keadaan, tapi kakak ku yang saat ini menderita lebih berat dari menghadapi soal ujian... hehehehe! selamat menikmati hari penyiksaan romantis dari keempat Paman disana,walaupun ibu tau juga gak akan percaya, toh ibu memang orang seperti itu, "
batin Fi yang meronta,
__ADS_1
"Ku harap aku kembali ke alam mimpi saat ini! "