
"BRAAAKK! "
suara tabrakan yang begitu luar biasa kerasnya terdengar jelas ditelinga juga ingatan bahkan terlintas nampak kejadian tragis yang dialami dalam ingatan Finesha,sehingga sontak membangunkan kelopak mata yang nampak sulit terbuka perlahan terangkat pelan dengan sangat sempurna, awal mata terbuka ia tak lupa melihat sekeliling ruangan ini tidak lah sama dengan kamarnya, seperti dirinya seolah berada dirumah sakit dan itu ternyata membuat nya terbangun dari sana sampai ia menyadari kalau situasi aneh ini benar nyata adanya, keluhnya dalam hati,
"Bagaimana aku bisa terdampar dirumah sakit? apa yang terjadi? kenapa harus terbaring di Bed Pasien dengan selang infus terpasang dipunggung tangan ku?dan kenapa semua ingatan itu begitu tidak asing untuk ku?"
"NYUTT, "
sakit yang luar biasa dirasa pada sisi kepala Finesha sehingga sebuah teriakan keras membikin semua keluarga yang menunggu diluar langsung bergegas terburu-buru memasuki ke ruangan tersebut,
"AARGHH, "
dekapan seorang wanita yang mencoba membenamkan kepala Finesha di leher miliknya dengan lembut mengusap bagian atas rambutnya kehangatan yang membuat nya tak sanggup berbicara,walau terasa familiar namun dia juga tau kalau wanita asing disisinya memang sama sekali tak begitu diingat jelas pada pikiran nya, siapa dia? kenapa dia memberikan perhatian lebih?tapi setidaknya Finesha merasakan kehangatan serta ketenangan yang sama sekali tidak pernah dia dapatkan dari Mommy nya,
perkataan yang membuat Finesha mendongak kan wajah itu semakin tajam menatap dirinya,
kata sang Mommy,
"Putriku, Clarisha kau baik-baik saja kan sa-yang,?Mom sangat khawatir padamu nak,maaf atas keegoisan Mom padamu! "
menangis meneteskan air mata penuh penyesalan karena hubungan yang terjadi mengakibatkan hal fatal pada sang putri kesayangannya,
benaknya,
"Mommy? "
hanya tidak percaya dengan kata yang diucapkannya pada dirinya dengan pelukan hangat yang membuat Finesha terdiam tanpa kata membeku seperti patung dengan ekspresi datarnya,
bagaimana tidak selama ini dia hanya mendapatkan kasih sayang dari orang lain yang bukannya menjadi tugas mereka namun dirinya seolah dijauhkan dari keberadaan nya, pun terasa tak diinginkan oleh Mommy sama Daddy Henson , berbeda dari sekarang malahan terasa kalau dirinya lah yang membuat semua menjauh karena dia menyadari satu hal bahwa Finesha telah terperangkap dalam kehidupan seorang gadis yang bernama Clarisha,
sesosok pria bertubuh besar itu mendekat memegang erat pergelangan tangannya sambil mencium hangat kepala Finesha sembari berbicara,
"Nak, ada kalanya semua yang terjadi adalah sebuah ujian yang menuntun mu untuk menjadi lebih tangguh dan kuat, Clarisha harus ingat Daddy selalu berada disisi mu sa-yang, jangan bersedih,! "
mereka menberikan semangat pada Clarisha tanpa henti sambil tersenyum manis padanya,
ujarnya,.
"seandainya kalian tau aku bukan Clarisha pasti sikap ini tak mungkin ada untuk diberikan padaku, mereka bersikap seperti ini memang karena diriku saat ini berada dalam tubuhnya, bahkan aku sendiri tidak mengerti bagaimana bisa hidup ku menetap pada tubuh gadis lucu Clarisha ini? membingungkan! "
kedua pria tampan disana tersenyum tulus menatap Finesha
"siapa lagi mereka?"
pikir nya,
"NGIINGG, "
Tiba-tiba saja sebuah ingatan terlintas seperti sebuah mimpi yang membuatnya terjebak di hari pernikahan yang ditunggu keluarga besar Eraldi dari putri ke-tiga nya, namun saat malam. dimana Clarisha melihat sesosok suaminya sedang asyik bercumbu mesra dengan pegawai kantor akhirnya kaki itu terhempas berlari begitu saja meninggalkan mereka, mengetahui kejadian tadi mereka hendak membuntuti dan mengancam Clarisha untuk tutup mulut, namun justru sebaliknya ini adalah peluang keduanya untuk meruntuhkan gadis itu, langsung saja dari sana suami dari Clarisha mendorong dirinya hingga terjatuh dari anak tangga sampai terguling hingga kebawah, benturan keras mengakhiri kesadaran gadis yang mengalami nasib sial dihari kebahagiaan nya,
"jadi kau juga memiliki takdir yang menakutkan, Clarisha, sepertinya keburukkan yang kualami sebanding dengan rasa sakit hati dalam penderitaan luka dari pria bajingan itu buat padamu,pria tidak tau diri itu pasti senang melihat mu seperti ini,sekarang bahkan kau lebih memutuskan untuk beristirahat dan membuat ku hidup menjadi dirimu dengan keluarga mu, Clarisha, bisakah aku kembali ketempat ku? "
dirinya tak tau lagi harus berbicara kepada siapa karena situasi ini menjadi mustahil jika dia mencoba memberitahu mereka,
"Apa kepalamu sakit, Clarisha? haruskah aku memanggil kan dokter!"
memandang khawatir pada Clarisha adik ketiganya, dia hanya membalas dengan menggelengkan kepalanya,
Finesha sama sekali tak ingin merespon dirinya, memang saat ini Clarisha dalam bentuk versi barunya memiliki mood yang buruk mengenai bicara, jadi hal wajar jika dia terdiam tanpa sahutan, setelah Dirgha berbicara sekarang Defhan mengalihkan topik dengan mengajaknya bercanda,
__ADS_1
"Clarisha, adikku, bisakah nanti kita pergi shopping setela,keluar dari rumah sakit! aku akan mentraktir mu belanja sepuasnya,kau mengerti manis,!"
Dirgha menepuk bahu Defhan dengan cukup keras, katanya
"lo tu kalau cari omongan liat situasi jangan asal nerocos mulu, sebab terkadang kau itu nyusahin Defhan! "
cemberut seperti wanita,
Dokter datang memasuki ruang perawatan pasien disana dia mengatur kalau kondisi Clarisha sudah stabil jadi dia bisa pulang dengan mudah, karena senang keluarga itu bergegas merapikan semuanya dan tak lupa Daddy maskulin itu menyelesaikan administrasi tentang Clarisha,
"NGIINGG, "
Lagi-lagi denyutan menyakitkan itu terjadi,
seketika Clarisha menahan balutan yang melilit melingkari kepalanya dengan satu tangannya sebagai penyangga rasa tidak nyaman nya berada diposisi ini, sebuah perban ditahannya sambil mengingat sesuatu yang amat menyesakkan dalam ingatan Finesha,
sebelum hal aneh kali ini Finesha mengingat saat kejadian mengerikan itu berlangsung,
sehari sebelum tanggal pernikahan akan dilangsungkan Grandpa meminta Henson dan Briana menginap dikediaman nya, disana ia mengetahui kalau Finesha memiliki saudari kembar bernama Fenesha, Grandma memberitahu kan kalau mereka berdua adalah orang tua kandung Finesha, terkejut ribuan pertanyaan mengelilingi pikiran nya, namun kekhawatiran itu tidak berlangsung lama sebab Direndra memeluk punggung Finesha sambil menasehati dirinya,
"jangan berburuk sangka dulu pada Daddy sama Mommy mu, sa-yang! mungkin ada alasan dibalik semua itu, jadi jangan terlalu banyak berpikir, aku takut nanti kamu malah jatuh sakit dihari pernikahan kita, emm! "
mendekatkan hidungnya pada pipi merona Finesha,
inilah hal yang tidak disangka kemesraan mereka membuat hati Fenesha tidak Terima kenapa harus dia yang mengalami penolakan sedangkan dia bisa dengan mudah mendapatkan calon suami yang begitu penyayang, dia tidak habis pikir kalau saudari kembarnya mendapatkan jalan mudah untuk menjalani pernikahan besok, seringai tajam menatap Finesha
"lihatlah nanti, saat hari pernikahan besok apa kau masih bisa tersenyum seperti ini, saudari kembar ku yang bodoh!aku benci harus mengetahui memiliki saudari seperti mu, Finesha! sepertinya akan ada kejutan menanti mu dariku,sebab sebentar lagi milikmu akan selamanya menjadi milikku,itu adalah hadiah ku padamu,semoga beruntung,kakak kembar ku,apa kau bisa menyelamatkan kekasih tercinta mu dari adikmu ini? "
mereka menginap di tempat Janson yang memiliki kemewahan bahkan kemegahan rumahnya tak sebanding milik Daddy Henson,Fenesha cemburu kenapa dia harus hidup di tempat senyaman ini, sedangkan dia, mendapatkan segalanya yang tak bisa didapatkan oleh nya, merenggut semua milik Finesha adalah misinya kali ini,
sepertinya adik gila yang sudah hilang akal karena dicampakkan berakhir mengerikan,sampai dia akan menghancurkan segalanya besok,
keesokan harinya,
menatap begitu sempurna nya calon mempelai pria membuat semua rencana dadakan Fenesha langsung dilancarkan dari menghubungi seseorang untuk memesan gaun yang sama,mengubah gaya rambut lurus yang menjuntai panjang, semuanya dia perkiraan sama tatanan seperti Fenesha,saat tempat keberadaan Finesha kosong disanalah dia mulai beraksi, mencoba menelfon ponsel Finesha yang tergelak dimeja belakang, menyadari ponsel itu berdering lalu sesegera mungkin dia mengangkat nya,tapi,
"BUKKK, "
pukulan pertama mengenai sisi bahu kanannya hingga berdarah,
"BUKKK, "
kedua dihantam kan cukup keras pada bagian belakang kepala,
dan tragis nya
"BUAKKK, "
ketiga kalinya Finesha tak sanggup lagi menahan tubuhnya sehingga kini dirinya tergeletak dilantai ruangan tersebut,
masih bisa menyadari tindakan gadis itu dia memaksakan penglihatannya memandang dia walaupun berat gadis yang membawa sebuah benda berat yang dihantam kan tepat mengenai dirinya itu tidak lain adalah saudari kembarnya sendiri, Fenesha memakai gaun pernikahan yang sama persis dengan nya bahkan semua yang berada di sekujur tubuhnya seolah menyamai dirinya, kata terakhir yang bisa Finesha ucapkan,
"kau tidak seharusnya berbuat sejauh ini padaku, Fenesha! "
akhirnya kepala itu terbaring lemas ke lantai dengan sendirinya,
kebahagiaan terlintas dalam wajah Fenesha,
"Inilah yang ingin ku renggut darimu, Finesha! "
__ADS_1
keluar dari ruangan ia langsung menutup pintu tersebut dan menarik kuncinya dengan santainya,saat detik itu juga mereka membawa Fenesha diantarkan ke altar pernikahan bersama Direndra yang berada disamping nya, acara pun dimulai sekarang, Janson tidak menyadari kalau cucu kesayangannya tergeletak berlimang darah diruangan yang terkunci rapat didalam sana,
ketika sebuah janji pernikahan hendak dilangsungkan Finesha tersadar kepalanya mengalami sakit yang luar biasa, melihat sekitarnya mencari ponsel dan melakukan panggilan pada Grandpa beberapa kali namun hasil jirih payah dari usaha nya demi menyelamatkan pernikahannya berhasil diangkat, pak tua itu terkejut jika panggilan itu dari Finesha lalu dirinya mengangkat nya dan
"Grandpa tolong aku! "
berdiri dari kursi depan dia berlari menuju ruangan tersebut ternyata secara mengejutkan pintu masuk yang terkunci itu didobrak olehnya dengan keras, para bodyguard saja keheranan dengan tingkah majikannya,
setelah terbuka Janson terkejut dia langsung memeluk Finesha tapi dia berlari ke Altar untuk menemui Direndra ternyata tepat dihadapan mata sayup sedih yang tak bisa terbendung lagi dia berteriak keras memanggil wanita gila tersebut,
"FENESHA... "
suara yang dipaksakan oleh Finesha membuat tubuh sang Daddy Henson tak sanggup berkulik di tempat, pasalnya jika dia memanggil Fenesha itu berarti putri tercintanya tengah membikin kesalahan terbesar dalam hidup nya,
kata Henson,
"Briana, sepertinya putri kita sudah benar-benar gila, "
Briana tidak bisa lagi berbicara karena ulah putrinya saat ini,
maki Finesha,
"apa kau puas menghancurkan ku seperti ini Fenesha? "
semua berdiri mengejutkan melihat kenyataan kalau wajah keduanya adalah kembar, mereka semua terbelalak mengenai kejadian kali ini, Janson mengepalkan tangannya serasa ingin menghancurkan seisi ruangan tapi Finesha menghentikan dirinya sendiri lah yang ingin menghadapi kebodohan adik kandung nya,
"Apa kau tau hari ini rencana mu berjalan dengan sukses,kau pasti bahagia bukan!tapi apa kau tau kaulah yang merenggut semua kebahagiaan ku yang tak sebanding dengan dirimu,bahkan selama dua puluh tiga tahun kau tinggal bersama Daddy dan Mommy sedangkan aku, kau adikku tapi pikiran mu begitu picik dan sempit mungkin karena kebanyakan drama dari mereka, kenapa kau menghancurkan pernikahan ku? apa kesalahan ku padamu? ini adalah kedua kalinya pertemuan kita bukan, lalu katakan padaku dimana letak kesalahan ku, Fenesha Fhirzen? "
sambil menahan rasa sakit hati sehingga kepala yang terasa menyakitkan itu pernikahan berdarah ini membuat semua jatuh terduduk melihat pengantin wanita dengan kondisi mengenaskan,
kata Fenesha,
"Karena aku tidak Terima kau mendapatkan segalanya melebihi diriku, kemewahan yang kau dapatkan dari pak tua itu juga kekasih mu itu, kau tidak pantas mendapatkan semuanya karena itulah aku sengaja ingin mendapatkan semua milikmu itu, dan kau tau betapa bodoh nya tindakan ku, kenapa aku tidak langsung membunuh mu di tempat saja tadi? "
semua tamu undangan begitu kaget bahkan histeris dengan penuh kesedihan kalau sang kakak ditikam tajam oleh adik kandung nya sendiri, gumam dari beberapa orang yang berada di tempat,
"Dunia ini benar-benar sudah aneh! "
"kenapa kau memikirkan dunia saat ini? lihatlah bagaimana bahagia nya gadis gila itu, maksud ku adik kembar nya itu, benar-benar melampaui batas!"
"kenapa kau menyalahkan dia?seharusnya yang kau salah kan adalah orang tuanya, bukanya selama ini dia berada dalam pengawasan nya, sepertinya mereka telah gagal mengajari putri itu, tidak dia tak pantas disebut putri,tapi cocok sebagai wanita gila ****** tidak tahu diri, "
penghinaan itu terdengar jelas oleh Henson dan Briana,mereka menunduk malu dengan perlakuan putrinya,
ketika Direndra berjalan untuk menghampiri nya tidak disangka Fenesha mengenggam erat bahu nya dengan senyuman manis pada Finesha yang masih menatapnya, melihat rasa pahit yang berkecambuk luar biasa saat kemesraan gadis gila itu dimulai,Finesha lebih memilih membalikkan badan dan ingin keluar dari tempat ini,
pesannya pada Grandpa yang selalu menemani nya,
"Grandpa, aku benar-benar capek, sepertinya dengan istirahat pikiran ku bisa kembali utuh, aku tidak membutuhkan penjelasan apapun darimu, tapi satu hal yang pasti, sempat aku benci berada di tempat mu tapi melihat gadis gila itu membuat ku harus mengatakan tidak ada orang tua seperti Grandpa yang bisa memberikan ku kebahagiaan melebihi siapapun, aku menyayangimu dan Grandma, akan ku ingat seumur hidup ku, maaf jika sebelum nya aku mengeluh dibelakang mu karena kebodohan orang tua ku, Grandpa aku menyayangimu!"
tidak tahan lagi, dia pergi
berlari keluar dari tempat yang begitu menyesakkan itu, kemudian Janson pun bertindak dengan menghampiri Henson dan memukul cukup keras wajah tubuh bahkan bertubi-tubi dirinya mendapatkan luka dari pria maskulin itu,
"Aku menyesal memiliki putra yang tidak becus mengurus anak mereka, lihatlah Merinda ucapan ku terbukti, satu putra kita sudah menghancurkan harapan kita dan kebahagiaan cucu kesayangan kita, enyahlah dari hadapan ku!bawa saja menantu mu itu, kau bukan lagi putra ku saat ini, bangsat! "
murka Tuan busar Janson meluapkan kemarahan nya pada putra tunggal keluarga Fhirzen, hingga dirinya tak lagi diakui oleh Ayahnya sendiri,
Merinda yang biasanya melindungi nya bahkan membelanya kini membungkam diri menangis dihadapan sang putra dan untuk terakhir kalinya ia berpesan menyakitkan untuk Henson,
__ADS_1
"kau hebat nak, hari ini kau menghancurkan hati ibumu dengan sangat sempurna,ingatlah jangan pernah menampakkan wajah mu dihadapan ku,bukankah keluarga mu nomor satu nak, maka Merinda menomor satukan Finesha dalam keluarga ku saat ini, camkan ucapan ku itu, "
jika sampai dikehidupan Finesha dalam bahaya, seumur hidupnya dia tidak akan menerima Putra bodohnya yang Lalai mendidik Fenesha dari perbuatan nya yang sudah sangat sempurna menghancurkan Finesha.